Jembatan Cisaar Belum Diperbaiki

Jembatan Cisaar Belum Diperbaiki

DESAK PEMERINTAH: Jembatan Cipari II dengan panjang delapan meter dan lebar 2,5 meter yang menghubungkan antara Dusun Cibengkung Desa Jembarwangi Kecamatan Tomo dengan tiga desa di Kecamatan Jatigede, yaitu Cintajaya, Kadu dan Lebaksiuh.(ISTIMEWA)

PEWARTA: ATEP BIMO AS/IGUN/SUMEKS

JATIGEDE – Warga Desa Lebaksiuh, Cintajaya dan Kadu di Kecamatan Jatigede mendesak pemerintah untuk segera memperbaiki Jembatan Cisaar di Desa Cipicung yang mengalami ambruk.

Sebelumnya, ujung badan jembatan penghubung antar desa di Dusun Cisaarlandeuh Desa Cipicung, Senin (11/2) selepas magrib ambruk akibat hujan deras. Akibatnya, mobilitas warga tiga desa terhambat.

”Sampai saat ini lalu lintas kami masih terhambat karena jembatan belum ada perbaikan,” ujar warga Desa Cintajaya.

Menurutnya, untuk ke ibukota kecamatan, warga Desa Cintajaya memilih jalan memutar lewat Ciawi, Desa Cisampih dengan jarak yang cukup lumayan jauh.

”Daripada berisiko lewat jembatan ya kami lebih baik pakai jalan Ciawi. Walaupun lumayan jauh,” ungkapnya.

Akibat ambruknya jembatan juga membuat warga tiga desa di Kecamatan Jatigede yang juga berada di wilayah perbatasan Majalengka terisolir.

Ambruknya jembatan juga berdampak tak hanya pada mobilitas ekonomi, tapi juga berdampak pada kelangsungan pendidikan.
Sementara itu, Kepala Desa Cintajaya Carsan menuturkan selain jembatan Cisaar di Desa Cipicung Kecamatan Jatigede, akses lainnya menuju ke Desa Cintajaya, Desa Lebaksiu dan Desa Kadu yaitu Jembatan Cipari II di Dusun Cibengkung Desa Jembarwangi Kecamatan Tomo juga mengalami miring.

Jembatan itu merupakan jembatan lalu lintas pemasaran hasil bumi dari Desa Cintajaya Kecamatan Jatigede menuju ke Majalengka, Sumedang dan sekitarnya. Ketika jembatan Cipari II mengalami ambruk pada Senin (11/2) lalu, sangat berpengaruh ke pemasaran hasil pertanian warga.

”Para petani dari Desa Cintajaya akibat jembatan ambruk perekonomian di sektor pertanian lumpuh total. Dan, itu berlangsung selama dua hari yaitu pada Selasa (12/2) hingga Rabu (13/2),” ujar Carsan.

Dikatakan Carsan, selama dua hari itu kendaraan roda empat belum diperbolehkan lewat jalan dan jembatan karena mengalami rawan longsor. Agar bisa melintas, jembatan Cipari II diperbaiki oleh masyarakat secara bergotong royong meski hanya bersifat sementara.

Carsan menjelaskan, jembatan Cipari II dibangun pada tahun 2013. Kemudian, pada tahun 2015 jembatan mengalami amblas hingga terputus. Pada tahun 2016, jembatan kembali diperbaiki.
Namun, kata dia, pada tahun 2017 kembali mengalami kerusakan tapi masih bisa dilalui walau jembatan amblas miring. Tahun 2017 juga dilakukan pembronjongan di hilir jembatan, sementara di hulu tidak.

Sekarang tahun 2019, kembali jembatan Cipari II memgalami amblas dan rusak lebih parah. ”Sudah dua kali pembangunan jembatan Cipari dilakukan. Dan, kini tahun 2019 kembali terputus. Warga sangat mengharapkan jembatan kembali diperbaiki,” tutupnya.

Camat Jatigede, Sahna mengakui hingga kini belum ada upaya perbaikan jembatan yang ambruk tersebut. Sehingga mobilitas warga menjadi terkendala. ”Belum ada perbaikan (jembatan),” katanya.

Pihak Pemerintahkecamatan Jatigede, kata dia, sudah menyampaikan ke Dinas PUPR Sumedang untuk pengajuan perbaikan.

”Kita sudah koordinasi dengan PU (PUPR) bahkan PU juga sudah melalukan peninjauan ke lapangan. Tapi ya belum terealisasi (perbaikan),” ucapnya.

Untuk sementara, ujar Sahna, pemerintah kecamatan bersama warga memasang potongan bambu dan kayu untuk menyambungkan badan jembatan yang ambruk. Upaya itu agar warga bisa dari tiga desa bisa melintas meski harus berjalan kaki.

“Sementara roda empat terhenti, tidak bisa lewat jembatan tersebut. Kalau warga yang jalan kaki bisa dipaksakan (melintas)” ujarnya. (atp/ign)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.