Kejagung Diminta Lacak Aliran Dana Jiwasraya

FIN.CO.ID – Penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung terus melakukan penggeledahan dan penyitaan aset milik para tersangka kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya yang merugikan negara Rp 13,7 triliun. Penyidik pun disarankan melakukan pelacakan aliran dana kasus yang menjadi perhatian publik ini.

Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman mengatakan pelacakan aliran dana nantinya akan mengungkapkan dugaan korupsi Jiwasraya dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan banyak pihak.

“Jadi kemana saja aliran dananya, nanti ketahuan siapa aja yang ikut menikmati uang korupsi itu,” katanya di Jakarta, Minggu (18/1).

Menurutnya, jika perhitungan kerugian negara mencapai Rp 13,7 triliun maka sulit dibantah jika korupsinya hanya melibatkan jajaran mantan direksi atau petinggi perusahaan.

“Ini kasus korupsi terbesar angkanya mencapai Rp 10 triliun, apa mungkin korupsi tidak libatkan banyak pihak?,” jelasnya.

Dia menegaskan untuk dapat melacak aliran dana hasil dugaan korupsi Jiwasraya maka Kejaksaan Agung perlu menggandeng Pusat Pelaporan Analisa dan Transaksi Keuangan (PPATK).

“Nantinya berdasarkan temuan PPATK terdapat aliran uang yang tidak lazim kepada seseorang atau badan,” ujarnya.

Tak hanya itu, kata Boyamin, penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung juga bisa menerapkan pasal pencucian uang terhadap para tersangka.

“Jadi kalau menerapkan ini, tersangka bisa bertambah dan pasal pencucian uang bisa diterapkan,” tegasnya.

Sementara, Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapus Penkum) Kejaksaan Agung, Hary Setiyono menegaskan penerapan tindak pidana pencucian uang (TPPU) terhadap tersangka bisa saja dilakukan tim penyidik. Namun hal ini perlu dilihat dari pengembangan kasus ini, apakah uang hasil korupsi dicuci atau digunakan untuk kepentingan lainnya.

Baca Selengkapnya…!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.