Kelangkaan Gas Elpiji Ukuran 3 Kg Semakin Meluas

Peliput/Editor: Engkos Koswara

Kelangkaan Gas Elpiji Ukuran 3 Kg Semakin Meluas

MENGANTRE: Sejumlah warga mengantre untuk mendapatkan gas elpiji ukuran 3 kg di salah satu pangkalan gas di Kecamatan Cimanggung, belum lama ini.(DOK ENGKOS/SUMEKS)

Harga gas elpiji kemasan tiga kilogram di beberapa kecamatan di Kabupaten Sumedang semakin tak terkontrol. Tak hanya meroket tinggi, gas pun langka di pasaran. Warga pun kelabakan mencari si Melon untuk kebutuhan memasak. Seperti apakah kelangkaan si Melon kini, berikut penelusurannya.

ENGKOS KOSWARA, Tanjungsari.

KELANGKAAN gas Elpiji ukuran 3 Kg ternyata tidak hanya terjadi di wilayah Kecamatan Cimanggung saja. Tetapi kelangkaan Si Melon juga telah merambah ke wilayah Pamulihan,Tanjungsari, Sukasari serta wilayah kecamatan lainya.

Bahkan di Tanjungsari warga sudah tidak bisa mendapatkan dari pangkalan. Sebab pangkalan menjual hanya kepada pembeli partai besar.

Bagi yang pengecer dengan membeli satu tabung sudah tidak lagi dilayani.

“Tadi ada warga yang melapor ke Pol PP kalau elpiji ukuran 3 kg sudah sulit didapat. Padahal pangkalan sudah mendapat pasokan dari agen,” terang Kasi Pol PP, Kecamatan Tanjungsari, Nur Alamsyah kepada Sumeks, kemarin.

Menurutnya, dengan adanya laporan dari warga tentang kelangkaan elpiji pihaknya akan segera melakukan komunikasi dengan camat.

“Bagaimana langkah yang akan diambil pihak pemerintah kecamatan soal kelangkaan elpiji itu. Kami belum mengambil langkah sebelum ada perintah dari camat,” jelasnya.

Ditempat berbeda Ketua RW 11, Desa Sindanggalih, Kecamatan Cimanggung, Jaelani mengaku kelangkaan elpiji semakin parah saja.

Bahkan harga pangkalan di jual diatas harga eceran tertinggi (HET).

“Elpiji ukuran 3 kg ternyata di pangkalan justru mematok harga Rp 20 ribu. Padahal pangkalan tidak boleh menjual lebih dari HET yaitu Rp 16.500. Kok pemerintah membiarkan tidak ada tindakan kepada pangkalan nakal,” ucapnya.

Sebaiknya dilakukan pengawasan terhadap penjualan elpiji ukuran 3 kg karena saat ini warga sangat membutuhkanya. Tetapi ada pangkalan yang justru memanfaatkan situasi seperti saat ini. “Sudah sulit mendapatkan elpiji, eh malah harganya juga jadi lebih mahal,” keluhnya.

Pihaknya, meminta pemerintah segera mengambil langkah tegas dan tindakan kepada pangkalan nakal yang memainkan harga seenaknya. “Jika perlu cabut saja ijinya bagi pangkalan yang nakal. Jangan dibiarkan memaikan harga seenaknya,” tutupnya.

Sebelumnya diberitakan harga gas elpiji ukuran 3 Kg di Kecamatan Cimanggung menembus Rp25 ribu per tabung. Itu akibat terbatasnya pasokan bahan bakar itu.

“Kami terpaksa membeli elpiji kemasan 3 kilogram itu, karena di sini sulit mendapatkan gas,” kata Yoyoh (39) warga Desa Cikahuripan, Kecamatan Cimanggung.

Jika pun ada, kata Yoyoh, paling dua minggu sekali itu pun pangkalan menjualnya sampai Rp20 ribu. Padahal harga normal Rp16.500.

Membelinya pun harus antri karena warga yang lain pun sangat membutuhkan.

Menurut dia, selama tiga pekan terakhir pasokan elpiji tiga kilogram menghilang. Masyarakat yang mendapatkan gas tersebut harus antri dipangkalan. Bahkan dipengecer tidak ada sama sekali.

“Kalaupun ada hanya dibatasi 1 tabung saja oleh pangkalan,” tuturnya.

Diharapkanya pemerintah daerah menertibkan kenaikan harga elpiji tiga kilogram tersebut. “Kami keberatan dengan harga sebesar itu karena harga eceran tertinggi di pangkalan Rp16.500. Malah dijual Rp20 ribu,” katanya.

Semestinya pengecer menjual elpiji itu cukup Rp20.000 per tabung. Sebab harga elpiji di tingkat agen atau penyalur resmi dijual sebesar Rp16.500 per tabung. (*)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.