Senin, 3 Agustus 2020

Sumedang Ekspres

Bacaan Utama Warga Sumedang

Kesadaran Ibu Masih Kurang, Sebagian Besar Balita Kelebihan Gizi

KOTA – Di Kabupaten Sumedang, jumlah anak yang mengidap kelebihan gizi, jumlahnya lebih besar disbanding dengan anak yang kekurangan asupan gizi atau lebih familiar disebut gizi buruk. Menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, jumlah balita yang kelebihan gizi atau obesitas berada pada angka 1,1 persen, sementara gizi buruk 0,6 persen dari jumlah keseluruhan 73.000 balita.

Sama halnya dengan kasus kekurangan gizi, Kepala Dinas Kesehatan, drg Agus Rasjidi, mengatakan bahwa kelebihan gizi juga tidak baik bagi proses tumbuh kembang balita. Balita dengan kelebihan gizi biasanya akan mengalami kegemukan atau kelebihan berat badan ketika dewasa. Sehingga berpotensi terserang berbagai penyakit tidak menular, seperti diabetes, stroke dan serangan jantung.

Menurutnya salah satu penyebab tingginya kasus kelebihan gizi pada balita di Sumedang, adalah buruknya praktek pemberian makanan kepada bayi dan balita. Hal ini menyebabkan pola konsumsi yang buruk sejak usia dini.

“Jika dulu obesitas dikira hanya menimpa kalangan ‘mampu’, ternyata ia melanda seluruh lapisan masyarakat,” terangnya, Rabu (11/11).

Agus menjelaskan, untuk mengatasi masalah ini, perencanaan gizi bagi anak sangat diperlukan. Terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan mereka. Orang tua diharapkan bisa membentuk landasan masa depan kesehatan anak, dimulai sejak masa kehamilan, menyusui, hingga dua tahun pertama masa balita. “Anak gemuk belum tentu sehat,” lanjutnya.

Namun, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gizi berlebih atau obesitas pada anak. Yakni dengan melakukan penimbangan atau pemriksaan rutin di Posyandu. Tapi ternyata hal ini juga menjadi salah satu kendala bagi Dinas Kesehatan, sebab tingkat kesadaran ibu untuk menimbang bayi ke Posyandu sangat minim.

“Di Sumedang saja, tingkat kesadaran ibu untuk memeriksakan anaknya ke posyandu secara berkala, sangat rendah. Ini salah satu yang menyebabkan pertumbuhan anak tidak terkontrol secara jelas,” ujar Agus.

Oleh sebab itu, ia menghimbau kepada masyarakat yang mempunyai balita untuk mau menimbang dan memeriksakan bayinya secara berkala. Sebab dengan cara tersebut, selain pertumbuhan balita bisa termonitor secara jelas, tapi bisa mengantisipasi secara dini penyakit anak.

“Terutama bagi kalangan menengah ke atas, sudah jarang sekali mereka mau ke posyandu karena gengsi. Namun kami akan melakukan langkah terobosan untuk bekerja sama dengan klinik anak agar jika ada balita yang diperiksa di sana ditimbang juga, agar lebih termonitor,” jelasnya. (her)