Kesenian Tradisional Mulai Menular di Generasi Muda Darmaraja

Peliput/Editor: HERI PURNAMA/SUMEKS

Kesenian Tradisional Mulai Menular di Generasi Muda Darmaraja

LATIHAN: Sejumlah pemuda mengikuti pelatihan memainkan alat musik Celempung dan Karinding.

Tiap Malam Minggu Menggelar Acara Sapeuting di Darmaraja

Beberapa jenis kesenian tradisional yang nyaris punah saat ini kembali muncul bersama generasi-generasi muda. Diantaranya, Celempung dan Karinding. Seperti dilakukan pemuda di Desa Tarunajaya Kecamatan Darmaraja. Berikut catatannya.

HERI PURNAMA, Darmaraja

SELANGKAH demi selangkah, kesenian tradisional kembali muncul ke permukaan masyarakat. Kekhawatiran para seniman dan budayawan, pun sedikit berkurang.

Apalagi melihat reaksi masyarakat terutama golongan muda yang ada di Kecamatan Darmaraja dan sekitarnya. Mereka, mulai mencintai jenis Kesenian Celempung dan Karinding.

Terlihat di beberapa wilayah, salah satunya di Desa Tarunajaya Kecamatan Darmaraja. Para generasi mudanya mulai belajar membuat alat musik yang berbahan baku bambu (celempung). Begitu juga, mereka sekaligus belajar memainkan alat musik tersebut.

Salah satu pemuda yang mulai hobi dengan jenis musik ini Iman, menyebutkan bahwa untuk membuat alat musik Celempung, dirinya sering melihat saudaranya di Desa Ranggon Kecamatan Darmaraja. Meski belum maksimal, namun alat musik tersebut bisa mengeluarkan nada sebagaimana umumnya.

“Kalau membuat Celempung, saya sedikit punya dasar. Karena sering lihat saudara saat saya masih tinggal di Desa Ranggon,” katanya saat ditemui di Desa Tarunajaya, Selasa (7/11).

Dalam hal ini, tokoh pemuda yang menggeluti jenis kesenian tradisional Hadi Barkah menyebutkan, respon dari berbagai pihak termasuk para pemuda sudah mulai nampak. Itu artinya, masyarakat sudah membuka matanya untuk melestarikan kesenian tradisional.

Dia mengakui, tidak mudah untuk merangkul para pemuda ikut melestarikan kesenian buhun tersebut. Sebab tidak sedikit yang beranggapan jenis kesenian itu sudah kuno. Namun karena kekunoannya itu, justru pihak yang peduli dengan seni tradisional harus menjadikan hal itu sebagai senjata. Yakni, menjadi pemikat.

“Kesenian-kesenian yang sudah kuno itu justru harus kita pertahankan dan kita kembangkan sebagai kesenian yang punya nilai jual dan daya tarik tersendiri,” tuturnya.

Melihat respon masyarakat yang cukup bagus dengan kehadiran Seni Celempung dan Karinding ini, merupakan celah awal untuk membangkitkan kembali kesenian-kesenian yang hampir punah.

“Kita punya rencana mengadakan kegiatan pentas seni tradisional. Jadi beragam seni yang hampir punah akan ditampilkan dalam satu panggung. Namun waktunya harus kita matangkan dulu,” ucapnya.

Saat ini, pihaknya sudah mulai melakukan kegiatan rutin. Setiap malam Minggu, menggelar latihan kesenian tradisional di Pendopo Kecamatan Darmaraja. Gelaran tersebut diberi nama Saparigelna Pemuda Pemudi Darmaraja (Sapeuting di Darmaraja). Hal itu untuk memperkuat tali silaturahmi antar seniman dan dijadikan ajang tukar pikiran demi keberlangsungan seni tradisional.

“Setiap malam Minggu kita biasanya lakukan latihan bersama di pendopo. Dan alhamdulilah respon dari Muspika Kecamatan Darmaraja juga bagus. Yang hadir juga bukan hanya seniman dari Darmaraja saja, tapi dari luar wilayah Darmaraja. Kami memang tidak membatasi wilayah kegiatan ini dibuka untuk umum,” pungkasnya. (**)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.