oleh

Kisah Heroik Mantan Bajingan Terminal

Kampanyekan Anti Narkoba Pria Asal Surabaya Jalan Kaki Selama 2 Tahun

KISAH seorang mantan preman kelahiran Kota Surabaya tahun 1962 ini patut diapresiasi oleh seluruh pihak. Khususnya bagi kalangan remaja hingga kaum milenial yang ada di seluruh Indonesia, tak terkecuali Kabupaten Sumedang.

Penulis: Sobar Bahtiar, Sumedang

Sudah sekitar dua tahun, sosok mantan preman ini berjalan dari rumahnya yang berada di sekitar Terminal Joyoboyo, Desa Joyoboyo, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.

Dan kini, pria yang sebelumnya juga sempat menjadi seorang supir angkutan ini tiba di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Sekilas, dilihat dari perawakannya, pria ini memang pantas disebut sebagai seorang preman. Dengan wajah yang sangar, badan yang kekar, tatto di lengan kanannya, mungkin orang akan takut berhadapan dengannya.

Mat Rambo atau biasa disapa Cak Rambo, itulah nama yang biasa orang sebut saat memanggilnya. Kini, dirinya tengah menempuh perjalanan panjang demi mengkampanyekan bahaya narkoba.

Tinggalkan anak isteri, kerabat hingga sahabat, dirinya tidak peduli asalkan generasi bangsa di Indonesia dapat terbebas dari jeratan barang haram yang disebut narkotika.

“Mereka semua mendukung langkah saya, makanya saya berangkat sendiri dengan berjalan kaki,” ujarnya saat berada di sekitaran jalan raya Cirebon – Bandung, tepatnya Desa Ciherang, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Minggu (29/3).

Tanpa mengeluh kondisi cuaca ataupun adanya ancaman sekitar, dirinya terus berjalan dengan menggunakan alas kaki seadanya berupa sandal jepit yang telah lusuh karena terus digunakan untuk perjalanan panjang.

Bahkan, disaat kini seluruh dunia takut akan ancaman corona virus atau Covid-19, Rambo tak gentar untuk terus berjalan mengelilingi pulau jawa.

“Hidup dan mati sudah di atur, bukannya saya tidak takut. Karena setahu saya memang virus ini nyata adanya dan sangat berbahaya,” terangnya.

Sementara itu, saat ditanya masalah rasa rindunya terhadap keluarga, dirinya mengaku sangat rindu. Namun, baginya perjuangan tetap harus dilanjutkan.

Adapun alasan kenapa dia sangat bersikeras ingin melanjutkan misi tersebut, dikarenakan dirinya tidak rela generasi muda bangsa Indonesia hancur oleh narkoba.

“Saya tidak perduli mau kayak apa juga, yang penting Indonesia harus bebas dari Narkoba. Sekarang kita pikir, orang tua mengandung sembilan bulan. Lalu anak itu dihidupi bertahun-tahun. Setelah remaja dia menggunakan narkoba dan mati dengan mulut berbusa di depan kedua orang tua nya. Itu sangat menyedihkan sekali mas,” terangnya.

Dia pun mengkisahkan sejumlah rekannya telah ada yang menjadi korban hingga meninggal dunia akibat daripada narkotika.

Oleh sebab itu, dirinya akan terus berjuang dengan berkeliling Indonesia untuk menyerukan anti narkoba.

Rambo pun bercerita, selama dalam perjalanannya dirinya kerap dibantu oleh warga sekitar. Mulai dari makan hingga sekedar beristirahat untuk tidur.

“Kalau kehabisan makanan, suka ada yang bantu,” ucapnya.

Tak hanya itu, tidak sedikit juga dirinya direkam dengan video atau di foto oleh segerombolan remaja untuk dimasukan kedalam media sosial.

Namun, dirinya mengaku tidak keberatan. Karena melalui hal seperti itu, keluarga dikampung halaman jadi tau kondisinya saat ini.

“Selain berkomunikasi lewat telepon, keluarga juga katanya suka melihat di yutub, Facebook bahkan tv. Saya senang-senang saja, malahan jadi termotivasi karena perjuangan saya dapat dilihat oleh banyak orang,” tutupnya. **

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed