Kisah Reni Yuliana, Wanita Penderita Penyakit Polio; Puluhan Tahun, Hanya Bisa Terbaring Lemas

Peliput/Editor: Heri purnama

TERBARING: Reni Yuliana (33) penderita penyakit poliomyelitis atau Polio hanya bisa terbaring di rumahnya di Dusun Setiabakti RT 01 RW 04 Desa Sukatali Kecamatan Situraja, kemarin. HERI PURNAMA/SUMEKS

Nasib malang dialami salah satu warga Dusun Setiabakti RT 01 RW 04 Desa Sukatali Kecamatan Situraja. Ya, Reni Yuliana, gadis berusia 33 tahun hanya bisa terbaring lemas di tempat tidurnya. Selama hampir 32 tahun, dia didiagnosa oleh dokter terkena penyakit poliomyelitis atau Polio. Sehari-harinya dia harus dibantu orang tuanya. Berikut liputannya.

HERI PURNAMA, Situraja

JANGANKAN berdiri, duduk dan menggerakan tubuhnya, Reni Yuliana tidak bisa. Wanita penderita penyakit Polio sejak usia satu tahun tersebut menahan ganasnya virus yang menggerogoti tubuhnya. Selama hidupnya, dia harus dibantu ibunda tercintanya, Tini (55). Meski sulit, Tini rela merawat anak gadisnya disela-sela kegiatannya sebagai ibu rumah tangga.

Tini (55) menuturkan, sebetulnya pada saat lahir anaknya dalam kondisi normal. Namun menjelang satu tahun usianya, Reni mengalami penyakit demam tinggi disertai kejang-kejang. Setelah diperiksakan ke dokter, ternyata dokter mendiagnosa Reni terkena penyakit Polio.

“Kata dokter kena Polio. Padahal anak saya sebelumnya pernah divaksin Polio,” kata Tini saat ditemui Sumeks di rumahnya, kemarin.

Sejak saat itu, kata Tini, kondisi tubuh Reni terasa kaku dan sulit digerakan. Bahkan kini kondisi Reni sangat memprihatinkan. Tubuhnya kekurangan gizi. Kaki tangannya nampak hanya tinggal tulang dan kulit saja. Jangan kan untuk berdiri, Reni nyaris tidak bisa menggerakan anggota tubuhnya. Tulang punggungnya bengkok. Pertumbuhan badannya tidak normal, tingginya kurang dari satu meter, berat badannya kurang dari 20 kg.

Dengan wajah sedih dan mata penuh berkaca-kaca, Tini terus berbincang dengan Sumeks. Kesehariannya, kata Tini, Reni hanya terbaring di tempat tidur. Reni juga tidak bisa berbicara, namun dia masih bisa mendengar dan mengerti apa yang orang lain bicarakan.
“Lalu digendong juga dia suka merintih kesakitan. Kalau makan disuapin, mau mandi juga dimandiin. Pokoknya semua aktivitasnya harus dibantu,” imbuhnya.

Meskipun sulit, namun Tini berharap anak kesayangannya tersebut masih bisa disembuhkan. Dia juga berharap ada pihak yang memberi bantuan. Saat ini selain bersama Reni, Tini juga tinggal bersama kakak Reni, yang juga anak pertama yang hanya bekerja serabutan. Tini sendiri hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Sementara suaminya sudah meninggalkan dia dan anak-anaknya sejak Reni berumur satu tahun.

Karena masalah ekonomi, Tini pun tidak pernah lagi diperiksa kondisinya. Jangankan untuk berobat, untuk makan saja Tini dan anak-anaknya selalu kekurangan. “Kalau untuk makan ya mengandalkan penghasilan anak saya yang pertama saja,” ungkapnya.

Anas Sumhanas, Ketua RW setempat menuturkan, warga setempat juga pernah membantu Reni dan keluarganya secara swadaya. “Kita adakan iuran untuk bantu makan. Bahkan rumahnya juga mendapat bantuan rutilahu,” ungkapnya.

Direktur RSU (Rumah Sakit Umum) Pakuwon Sumedang, dr. H. Noerony Hidayat, mengatakan, penyakit yang diderita Reni memang berawal dari penyakit Polio. Dia menturkan, kemungkinan Reni untuk kembali normal sangat kecil.

“Kalau sekarang sudah tidak bisa diobati Polionya karena sudah terlambat, sudah puluhan tahun,” katanya saat memberikan bantuan sejumlah uang tunai untuk keluarga Reni.

Namun demikian, sambung dia, kekurangan gizi Reni masih bisa dibantu dengan selalu memberikan gizi dan nutrisi.

Noerony juga mengatakan, kasus Reni yang masih bertahan hidup sampai puluhan tahun merupakan kasus yang sangat jarang dia temui. Karena itu dia mengapresiasi ibunda Reni yang sanggup merawat Reni sampai sejauh ini.

“Pasien Polio biasanya hanya bertahan beberapa tahun, tapi ini sampai puluhan tahun. Ini bukti bahwa dengan kasih sayang ibunya yang merawatnya Reni masih bisa bertahan sampai puluhan tahun,” imbuhnya.

Meski begitu pendiri RSU Pakuwon Sumedang ini berharap banyak pihak yang memberi perhatian kepada Reni. “Setidaknya untuk makanan sehari-harinya asupan gizinya harus terpenuhi. Kalau masalah umur itu kan urusah Tuhan, jadi selama masih bernafas marilah kita bantu,” katanya. (*)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.