Konstalasi Politik Sumedang Berubah-Ubah

Peliput/Editor: ISTIMEWA

Konstalasi Politik Sumedang Berubah-Ubah

DITEMUI: Sekretaris DPD Partai Golkar Kabupaten Sumedang Yogie Yaman Sentosa.

Tensi Politik Menghangat

KOTA – Konstalasi politik di Kabupaten Sumedang hingga saat ini masih berubah-ubah. Aneka ragam isu politik dilapangan terus bergejolak menghangatkan tensi politik Kabupaten Sumedang.

Isu yang berkembang saat ini adalah perubahan konstalasi politik antara partai Golkar dan PKS. Dimana, pusaran isu tersebut ada pada sosok Petahana Eka Setiawan.

Seperti yang diketahui, saat ini Eka Setiawan berada dalam genggaman KMP. Sosok petahana itu dipercaya PKS untuk kembali menjadi calon bupati di Pilkada Sumedang 2018 mendatang.

Namun dilapangan, isu yang didapat adalah Eka diminati oleh DPP Partai Golkar. Dan, kemungkinan bisa kembali bernaung bersama pasukan beringin setelah sebelumnya sempat diusulkan untuk menjadi bakal calon bersama tiga nama lainnya. Yakni, Sidik Jafar, Toni Apriliani dan Asep Kurnia.

Akan tetapi, isu tersebut dibantah langsung oleh Sekretaris DPD Partai Golkar Sumedang Yogie Yaman Sentosa. Yogi beralasan Golkar masih tetap berkomitmen terhadap MoU bersama DPC PDI Perjuangan untuk mengusung Irwansyah Putra sebagai calon bupati dan Sidik Jafar sebagai wakilnya.

“Masalah DPP tertarik ke Eka, sampai saat ini belum ada kabar kepada kami di Sumedang,” jawab Yogie saat dihubungi Sumeks, Selasa (7/11).

Akan tetapi, Yogie juga menyadari jika kapanpun keputusan partai bisa saja berubah. Terlebih, Golkar juga belum bisa memastikan siapa yang akan diusung untuk Pilkada 2018 nanti. Walaupun, sebelumnya ketua DPD Partai Golkar Sumedang Sidik Jafar sempat mengatakan secara terbuka jika dirinya yang ditunjuk oleh DPP. Tetapi, hingga saat ini belum bisa dibuktikan melalui surat resmi dari pusat.

“Di politik itu tidak ada yang tidak mungkin. Karena politik itu dinamis. Tapi, sampai hari ini Golkar dan PDI Perjuangan masih tetap menjaga hasil MoU kemarin,” ujarnya.

Dilain pihak, ketua DPD PKS Sumedang Yana Flandriana masih tetap optimis pihaknya bulat akan mengusung petahana Eka Setiawan. Walaupun dirinya juga tetap sepakat jika didalam politik segala kemungkinan dapat terjadi.

“Politik itu sangat dinamis, apalagi mendekati masa pendaftaran paslon yang Insya Allah dilakukan bulan Januari 2018 yang akan datang. Bahkan, pengalaman dari Pilkada sebelumnya, dinamisasi politik bukan hanya hitungan bulan atau minggu tapi bisa hitungan hari bahkan setiap jam bisa terjadi,” terang Yana.

Walaupun, masih menurut Yana, kristalisasi atau pengelompokan politik saat ini sudah mulai terlihat. Saat ini, kemungkinan koalisi partai politik yang ada sudah mulai terbaca atau terpetakan.

“Namun demikian tidak menutup kemungkinan akan ada perubahan-perubahan peta kristalisasi parpol ini nanti ke depannya. Yang jelas, muara akhir dari dinamika politik ini tentu saja adalah bagaimana mampu memenangkan Pilkada di 2018 yang akan datang. Dan, Insya Allah untuk pengusungan Pak ES sendiri saat ini sudah final dari PKS,” tuturnya.

Bakal calon wakil bupati dari perseorangan Asep Kurnia mengatakan dengan adanya konstalasi politik yang berubah-ubah, kemungkinan bisa turut berdampak terhadap calon dari perseorangan. Terutama, jika perubahan konstalasi tersebut datang dari partai politik yang mengalami krisis figur.

“Yang namanya politik itu semuanya bisa terjadi. Tinggal bagaimana komitmen semuanya bisa saling dijaga. Bagi saya, bupati dan wakil bupati itu adalah kombinasi dan saling melengkapi, itu dasarnya. Untuk bisa saling melengkapi itu, harus terbangun dari awal komitmen – komitmen itu. Tidak bisa dijodoh-jodohkan walaupun secara teknis itu mungkin,” kata Asep.

Mencermati konstalasi politik yang terjadi saat ini, sosok yang akrab dipanggil Akur ini mengakui tidak menutup kemungkinan akan turut memberikan dampak pada calon dari perseorangan.

“Adapun terjadinya perubahan konstalasi politik saat ini, itu mungkin saja. Misalnya, saat telah dipersiapkan jauh hari untuk perseorangan, tiba-tiba parpol ada yang tertarik. Itu mungkin saja bisa terjadi sepanjang belum ada penyerahan resmi ke KPU,” jelasnya.

Akan tetapi, lanjut Akur, dibanding mekanisme partai politik, jalur perseorangan lebih memiliki kelebihan dalam mengikuti pesta demokrasi. Keuntungan utama dari independen itu adalah dukungannya langsung dari masyarakat. Tanpa harus terpengaruh oleh rekomendasi dan sebagainya. Terlebih oleh turbulensi politik di tingkat nasional maupun provinsi.

“Intinya, bagi kami yang di Independen, persiapan perseorangan kita matangkan semaksimal mungkin. Lalu, jika ada peluang ke partai politik maka kita bisa juga mempertimbangkan itu,” tandasnya. (bay)

Komentar

One Response to "Konstalasi Politik Sumedang Berubah-Ubah"

  1. Jack  8 Desember 2017 at 11:02 AM

    plin plan ini..

    Balas

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.