Kopi Luwak Rancakalong Terkenal hingga ke Negara Jepang

Peliput/Editor: Sobar Bahtiar/iman nurman

Kopi Luwak Rancakalong Terkenal hingga ke Negara Jepang

Warga Dusun Citangku, Desa Nagarawangi, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, sedang memilah-milah biji kopi hasil fermentasi alami hewan luwak. (SOBAR BAHTIAR/SUMEDANG EKSPRES)

BAGI pecinta kopi, tidak asing lagi dengan kopi luwak. Jenis kopi nomor satu yang terkenal karena harganya yang fantastis ini, pun menjadi barang yang cukup langka untuk bisa dinikmati. Namun, siapa sangka kopi yang paling dicari pecinta kopi ini, salah satu tempat produksinya, ada di Sumedang, tepatnya di Kecamatan Rancakalong. Berikut liputannya.

TIDAK terbayangkan sebelumnya dalam benak Sulaeman, petani sekaligus pengolah kopi luwak di Dusun Citangku, Desa Nagarawangi, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, lahan usahanya bakal booming seperti sekarang ini. Betapa tidak, beragam jenis kopi lokal maupun impor, menjadi pesaingnya dalam memasarkan produk kopi luwak.

Dan, itu betul saja. Pada 2006 silam, Sulaeman dan beberapa petani lainnya, cukup kesulitan memasarkan kopi hasil fermentasi alami hewan Luwak tersebut. “Sebetulnya sudah mulai menanam kopi sekaligus beternak careuh (luwak), itu sejak 2006. Tapi, saat itu pemasarannya terbatas di wilayah Sumedang saja,” ujarnya kepada Sumeks.

Malah, kata dia, banyak stok kopi luwak yang tidak terjual dalam setiap panennya. Namun, ia tetap optimis, pasar kopi luwak di masa mendatang bakal mendatangkan pundi uang lebih basar. Dari mulut ke mulut, hingga akhirnya memasuki tahun 2015 ini, kopi luwak asal Rancakalong, mulai terkenal seiring banyak bermunculannya daerah yang memproduksi kopi tersebut.

Kondisi saat ini, justru berbanding terbalik dengan kondisi sepuluh tahun silam. Sulaeman dan petani lainnya, justru kesulitan melayani permintaan pasar. Tidak hanya pemesan dalam negeri, Sulaeman pun disibukkan permintaan dari luar negeri, salah satunya Jepang.
Saking banyaknya permintaan dari negara Jepang, tidak jarang Suleman tidak dapat memenuhi pemesanan. “Jujur saja, saat ini kami justru belum bisa memenuhi kebutuhan pasar, terutama pesanan dari Jepang begitu pula kafe-kafe di tanah air. Karena, saat ini hasil produksi kopi luwak masih terbatas,” tutur Sulaeman.

Banyaknya permintaan, serta untuk mengembangkan hasil tanaman kopi di daerah Rancakalong, para petani menjalin kerjasama dengan Perhutani (KPH) Sumedang. “Mudah-mudahan, ke depan, permintaan pengusaha asal Jepang itu, mampu kami penuhi” tuturnya.

Kopi luwak Rancakalong makin digemari karena memiliki rasa khas dan berbeda. Kualitas biji kopi merupakan biji kopi terbaik. Dan, biji kopi terbaik ini kemudian dimakan oleh hewan luwak dan mengalami fermentasi, sewaktu melewati saluran pencernaan luwak. Fermentasi inilah yang dapat meningkatkan kualitas kopi.

Untuk membuat kopi luwak, lanjut dia, biasanya digunakan sebanyak 20 kilogram kopi mentah yang diberikan kepada luwak untuk dimakan. Setelah dicerna, luwak akan menghasilkan 40% dari total kopi yang dimakan. Setelah dibersihkan maka didapatkan kopi yang berbentuk kopi basah. Setelah itu, kopi yang basah dikupas, sehingga menghasilkan kopi kering. Bila ada 4 kilogram kopi basah, maka didapatkan dua kilogram kopi kering yang langsung dijemur dan dikupas lagi, menjadi butiran kopi.

Kemudian, butiran ini dijemur kembali sampai kering, setelah itu baru dipanggang (roasting). Terakhir, kopi digiling menjadi bubuk. Untuk harga sendiri, kopi luwak bisa mencapai harga Rp 100 ribu per 100 gramnya. “Harga jual kopi luwak dibanderol Rp100 ribu untuk ukuran 100 gram. Kemasan kopi luwak, dibuat sedemikian rupa agar menarik. Dari, sekian banyak kopi luwak yang diproduksi para petani, salah satu merek kopi luwak produksi Rancakalong ini, adalah Prabu Arabica,” Pungkasnya.(*)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js