Korban Dibuang di Adegan ke-42

Peliput/Editor: HERI PURNAMA/SUMEKS

Korban Dibuang di Adegan ke-42

Polres Gelar Rekonstruksi Pembunuhan Opik

REKA ADEGAN: Pada reka adegan ke-42, pelaku pembunuhan membuang korban yang sudah dimasukannya kedalam karung.

DARMARAJA – Kapolres Sumedang AKBP Hari Brata SIK, menyatakan Cece alias Entoy tersangka pembunuhan , sehat secara rohani dan jasmani. Tersangka ini, merupakan pelaku pembunuhan Opik alias Endit yang terjadi di Desa Sukaratu Kecamatan Darmaraja pada Senin 9 Oktober lalu.

Selama ini adanya asumsi masyarakat setempat yang menganggap pelaku mengalami gangguan jiwa terbantahkan. Hal itu pun ditegaskan Kapolres Sumedang saat memantau langsung pelaksanaan rekonstruksi kasus pembunuhan, kemarin (19/10).

“Pelaku sehat secara jiwa dan rohani. Tim kita sudah melakukan pengecekan psikologis pelaku. Hasil pengecekan ya sehat,” ujar kapolres.

Sebenarnya, pelaku tidak ada niat membunuh. Tapi karena korban berperilaku kasar, akhirnya pelaku kehilangan kontrol dan terjadilah pembunuhan itu.

Bukti-bukti pendukung yang diamankan dari kasus pembunuhan antara lain, peci/kopeah warna hitam, jam tangan warna perak milik korban, potongan kabel listrik, sepasang sendal warna coklat milik korban dan sebilah golok yang dipakai pelaku membacok korban.

Sementara itu pada reka ulang yang dilakukan jajaran Satreskrim Polres Sumedang, terdapat 47 adegan. Reka ulang dimulai saat korban Opik alias Endit berada di rumah saudara korban di Dusun Cibarengkok Desa Darmaraja pukul 09.00 hari Jumat (6/10).

Di rumah saudaranya itu, korban sempat minum kopi yang disuguhkan tuan rumah. Selang berapa waktu, korban Endit terlihat oleh saksi Caca, berjalan kaki di sekitar wilayah Dusun Cipeundeuy tak jauh dari TKP. Korban juga terlihat diseputaran warung Mumu masih di sekitar itu.

Siang harinya, ketika korban ada di pinggir Sungai Cihonje dekat Kebun Bambu, melintaslah tersangka Cece yang melontarkan perkataan “Jalmi teh nanaonan ker kikituan di deket kebon awi, ari sholat mah kudu na ge di Mesjid, gawe atuh nu puguh”.

Pada adegan ke delapan, setelah melontarkan kalimat itu, pelaku pulang ke rumahnya dan tiba pukul 11.45. Tidak lama kemudian, saat Cece sudah di rumah, datanglah korban dari arah halaman belakang dan mengetuk pintu rumah tersangka sambil mengucapkan salam.

Tersangka melihat korban dari kaca jendela dan membukakan pintu. Saat itu korban langsung marah-marah sambil mencekik leher tersangka.

Saat itu, terjadilah bersitegang dan perkelahian antara tersangka dan korban hingga adanya pembacokan yang membuat korban terkapar. Korban yang sudah tidak berdaya, kemudian dimasukan ke dalam karung dalam keadaan terikat. Padahal saat itu, korban masih bernapas namun tidak bergerak.

“Pada adegan ke-35 tersangka mengikat ujung karung dengan potongan tali kain bekas sabuk,” ujar petugas.

Tersangka, kemudian melihat situasi keadaan sekitar luar rumah. Setelah kurang lebih dua-tiga jam, yakni sekitar pukul 15.30 saat sekitar rumah sepi, tersangka mengangkat karung yang berisikan korban. Saat itu juga tersangka tidak mengetahui apakah korban masih hidup atau meninggal dunia.

Pada adegan ke-42, tersangka pun membawa karung keluar dan membuangnya di kebun samping rumahnya. Hingga akhirnya, misteri mayat dalam karung itu terungkap setelah salah satu tetangga, Wiwi mengendus bau tak sedap. (eri)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.