Kue Kering Tanjungkerta Tembus Nasional

Kue Kering Tanjungkerta Tembus Nasional

OLAH KUE: Sejumlah karyawan yang berasal dari warga sekitar, sedang membuat olahan kue kering.(ASEP NURDIN/SUMEKS)

Peliput/Editor: Asep Nurdin/Usep Adiwihanda

TANJUNGKERTA – Siapa sangka, jika kue kering hasil olahan warga Tanjungkerta, mampu menembus pasar nasional.

Di tangan Lilis warga Dusun Sukadana, RT 01 RW 07, Desa Banyuasih, Kecamatan Tanjungkerta ini, olahan makanannya banyak digemari masyarakat Sumedang, Bekasi hingga Palembang.

Berbeda dengan kebanyakan kue kering pada umumnya, hasil olahan kue yang diberi lebel Lazuardy Cookies ini, memiliki rasa yang istimewa dengan kontur kue yang renyah.

“Awal mulanya, saya memiliki ide untuk mengembangkan usaha ini pada saat jelang lebaran sekitar sepuluh tahun silam,” kata Lilis belum lama ini.

Karena dengan rasa dan aroma kue yang berbeda, permintaan pun berlanjut hingga bulan berikutnya. “Kami
kembangkan usaha ini bersama adik dan ponakan,” tuturnya.

Dalam pemasaran, Lilis tidak merasa kesulitan. Karena kolehanya yang kebanyakan para tenaga pengajar itu, menjadi salah satu penunjang dalam bisnisnya.

“Kami tawarkan kepada para guru, akhirnya dengan cepat kue olahan kami tersebar luas,” katanya.
Sedangkan untuk pemasaran ke luar daerah seperti Bekasi, Karawang, Sukabumi dan Palembang, Lilis menuturkan, secara tidak sengaja tetangganya yang merantau ke luar daerah membawa kuenya untuk dijadikan cemilan saat di perhalanan dan oleh-oleh.

“Karena dari oleh-oleh itu lah, permintaan dari palembang dan bekasi pun berdatangan,” terangnya.
Karena banyaknya permintaan, maka para tetangganya pun memanfaatkan peluang ini untuk mencari orderan.

“Mereka membawa contoh barang dagangan kita. Setelah ada konsumen yang beminat, maka order pun dipesankan kepada kami sesuai permintaan,” ucapnya.

Hingga saat ini, Lilis memiliki sekitar 25 karyawan yang setiap hari bekerja di rumahnya untuk membuat 12 macam kue kering, seperti tulip, nastar, batang keju, wijen blue bery, putri salju dan lainnya.

“Setiap hari bisa menghabiskan 75 kilogram terigu, apa lagi saat jelang lebaran idul fitri, bisa lebih dari itu,” terangnya.

Meskipun terbilang maju, namun Lilis belum puas dalam menjalankan bisnisnya. Ia mengininkan pelebaran pemasaran hingga ke luar provinsi. Namun sayangnya terkendala modal, karena untuk menuju kearah sana memerlukan dana yang cukup besar.

“Kami berharap ada perhatian dari Pemkab Sumedang, untuk mendorong pelaku ekonomi kelas menengah seperti kami,” harapnya. (nur)

Komentar

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Hosting Unlimited Indonesia