oleh

La Nina, Kualitas Tembakau Turun

KOTA – Fenomena La Nina yang menyebabkan musim basah siklusnya jadi panjang, membuat sejumlah petani tembakau di Kabupaten Sumedang akan terkena imbas perubahan iklim tersebut. Menurut Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sumedang, Ade Guntara Ardi, akibat kejadian itu tanaman dan daun tembakau yang di panen petani tembakau di kebun akan mengalami penurunan kualitas.

“Secara umum ada kecenderungan penurunan kualitas tanaman di beberapa tempat,” kata Ade Guntara saat dihubungi Sumeks, Senin (1/8).

Ditanya apakah ada penurunan produksi tembakau tahun sebelumnya dan saat ini setelah terjadinya fenoma La Nina, Ade menyebutkan bukan penurunan kuantitas yang terjadi di Sumedang, tetapi penurunan kualitas.

“Bukan penurunan kuantintas, tapi kualitas tanaman, daun tembakau yang dipanen di kebun. Itu karena pengaruh iklim saja,” ungkapnya.

Disinggung apakah adanya penurunan kualitas tersebut bisa berimbas pada penurunan keuntungan para petani tembakau.

“Ada kecenderungan begitu, tapi tidak signifikan. Insyaallah petani masih dapat keuntungan, tapi relatif tidak optimal saja,” imbuhhnya.

Senada dikatakan Sekretaris Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Hananto Wibisono, ia mengatakan jika saat ini sejumlah petani tembakau tengah cemas karena adanya fenomena La Nina. Pasalnya, musim basah akan membuat produksi tembakau menurun. Penurunan bahkan bisa mencapai 30 persen.

Ia menyebutkan saat ini ada laporan kematian tanaman tembakau di sejumlah daerah. Selain musim basah, industri juga menghadapi penurunan lahan penanaman tembakau sebanyak 20-25 persen tahun ini.

Berkurangnya pasokan tembakau lokal diprediksi membuat impor tembakau naik. Hananto mengungkapkan, impor diprediksi dilakukan pada akhir tahun atau mendekati akhir masa panen.
“Industri sudah memiliki pasokan yang cukup untuk produksi selama setahun,” katanya.

Head of Regulatory Affairs, International Trade, and Communications Sampoerna Elvira Yunita menuturkan, pihaknya masih menunggu hingga awal September untuk memastikan angka produktivitas maupun impor.

“Saat ini kami berusaha memaksimalkan program kemitraan dengan petani tembakau agar mendapatkan pasokan yang berkesinambungan,” ungkapnya.

Pada 2015, total produksi tembakau di Indonesia hanya mencapai 164 ribu ton. Sedangkan total kebutuhan industri mencapai 363 ribu ton. Jawa Timur menjadi pemasok tembakau terbesar dengan total produksi 74.241 ton per tahun.

Lalu disusul Nusa Tenggara Barat dan Jawa Tengah. Produktivitas tanaman tembakau di Indonesia hanya 0,7–0,8 ton per hektare. Padahal, angka rata-rata ASEAN menyentuh sekitar 1 ton per hektare.

Kurangnya pengetahuan, pola tanam yang masih tradisional, pemakaian pupuk, serta akses pasar menjadi penyebab rendahnya produktivitas tembakau di Indonesia.

Rendahnya produktivitas tembakau di Indonesia membuat AMTI menyoroti draf RUU Pertembakauan tentang porsi antara tembakau lokal dan impor, yakni 80 persen lokal dan 20 persen impor.

“Kalau dilakukan secara bertahap, tentu bagus karena memang butuh waktu agar skema itu bisa diterapkan,” ucap Hananto.

Elvira menambahkan, jika draf itu diterapkan, pihaknya akan terus memaksimalkan program kemitraan dengan petani tembakau lokal.

“Kami lebih memilih untuk memakai tembakau lokal daripada impor. Sebab, impor juga membutuhkan biaya. Selama ini porsi tembakau masih dominan lokal,” ujarnya. (ign/jpnn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed