oleh

Langganan Banjir, Korban hanya ‘Dipepende’ Mie Instan

JATINANGOR – Bencana banjir yang rutin tiap tahun melanda RW 13 dan 18 meliputi Dusun Kampung Baru, Solokan Jarak, Puskopad Desa Cipacing sampai saat ini belum ada solusi tepat.

Sejak tahun 2012, warga di dua RW itu selalu direndam banjir dengan ketinggian berpariatif bahkan bisa mencapai 1,5 meter. Ironisnya, belum ada perhatian seriua dari Pemkab Sumedang maupun dari wakil rakyat di dapil Cimanggung Jatinangor.

Sebagaimana dikatakan Kepala Dusun 3 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Entis Sutisna yang mengaku sudah bosan dengan bencana banjir musiman itu. Segala upaya sudah dilakukan seperti pembuatan gorong-gorong, saluran drainase, bahkan peninggian rumah hingga dibuatkan loteng.

“Entah kami mau mengeluh kepada siapa lagi, banjir di Cipacing belum ada solusinya. Sepanjang wilayah hulu seperti Gunung Geulis dan Kiarapayung Gunung Manglayang rusak oleh pembangunan. Sebagai daerah dataran paling rendah di Jatinangor, RW 13 Kampung Baru dan Solokan jarak, selalu direndam air,” katanya.

Menurut Entis, korban sudah bosan dengan bencana banjir itu. Belum lagi bantuan dari Pemkab Sumedang maupun tingkat desa dan kecamatan yang hanya sebatas bantuan stimulan berbentuk mie instan dan sembako.

“Jadi kaya dipepende ku mie instan, persoalan beres. Maksud kami bukan itu yang diharapkan. Tapi bentuk nyata seperti pelebaran drainase, pembongkaran benteng pabrik yang menghalangi air, atau bahkan pengurugan di embung RW 13,” katanya.

Di RW 13, lanjut Entis, ada sebuah embung (rawa) milik perusahaan swasta dan Pertamina. Sampai saat ini, rawa tersebut dibiarkan, karena tidak jelas peruntukannya. Karena saluran air berada di atas rawa, sehingga jika hujan, air jatuh ke rawa tersebut.

Sementara itu, Anggota DPRD Sumedang Dudi Supardi mengatakan akan mendesak camat Jatinangor untuk segera berkoordinasi dengan pemilik pabrik di RW 13 tentang rencana pengurugan embung tersebut sehingga rata dengan saluran air.

“Satu-satunya jalan untuk mengatasi banjir di RW 13 dan 18 yaitu membendung rawa di wilayah RW 13. Selanjutnya memaksa air agar mengalir ke saluran anak Sungai Cikeruh dengan rencana peninggian tanggul,” tandasnya. (imn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed