oleh

Langkah Dinsos dan MUI Sumedang Menekan Jumlah LGBT

Lakukan Pendekatan Serta Sosialisasi Dampak yang Ditimbulkan

Nampaknya, terdapat sejumlah faktor dari meningkatnya Komunitas Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Dan untuk menekan jumlahnya, banyak langkah juga yang harus dilakukan. Seperti penuturan dari Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sumedang dan MUI Sumedang.

ASEP NURDIN, Kota

EKSISTENSI komunitas LGBT, dinilai sudah mengancam kehidupan bermasyarakat. Kondisi ini, pun terjadi di di Kabupaten Sumedang.
Ancaman ini, terutama pada kalangan anak muda. Apalagi, notabenenya sebagai generasi penerus. Sehingga sudah menjadi tanggung jawab semua pihak dalam mengatasi permasalahan tersebut, sebelum banyak korban berjatuhan.

“Kami terus melakukan pendekatan-pendekatan terhadap komunitas LGBT,” kata Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sumedang Retno Ernawati kepada Sumeks, baru-baru ini.

Langkah yang dilakukan pihaknya, salah satunya dengan cara sosilaisasi tentang bahaya yang akan ditimbulkan, akibat perbuatan yang dilakukan komunitas LGBT.

“Bahkan kita akan mengerem kegitan komunitas LGBT, baik yang sifatnya go publik atau yang terselubung,” tuturnya.
Dengan begitu, lanjut dia, jumlah angka LGBT yang kian hari terus meningkat, mininal dapat ditekan pertumbuhannya.

Retno pun menjelaskan, komunitas LGBT di Sumedang sudah meraksuk ke berbagai usia. Mulai dari kalangan remaja hingga dewasa.
“Bahkan usia pra remaja pun sudah kelihatan. Kasus-kasusnya sudah ada,” tuturnya.

Menurut Retno, ada sejumlah factor yang menyebabkan orang terjerumus pada komunitas LGBT. Selain penularan, faktor lemah ekonomi pun menjadi salah satu penyebabnya.

“Itu merupakan jalan keluar atas permasalahan-permasalahan ekonomi mereka. Di samping gaya hidup yang mungkin sudah dianggap trendi belakangan ini,” sebutnya.

Sementara ditemui secara terpisah, Ketua MUI Kabupaten Sumedang KH Adam Malik menuturkan, perilaku komunitas LGBT secara hukum agama Islam sudah mutlak haramnya.

“Apa pun dalihnya, secara pandangan agama tetap saja termasuk kelompok haram,” tegasnya.
Sama halnya dengan apa yang dilakukan Dinas Sosial, pihaknya pun melakukan upaya-upaya penekanan jumlah LGBT melalui sosialisasi terhadap komunitas tersebut.

“Mulai dari pengurus MUI tingkat kabupaten, hingga tingkat desa. Kita perintahkan untuk melakukan sosialusasi bahanyanya LGBT,” tuturnya.

Menurut Adam Malik, terperangkapnya orang ke dalam komunitas LGBT, diakibatkan beberapa faktor yang salah satunya lemah iman.
“Memang, mereka itu lemah iman. Maka sangat perlu kami melaksanakan pembinaan terhadap mereka,” katanya.

Selain itu, kata Adam Malik, pergaulan pun menjadi salah satu faktor yang sangat signifikan dalam mempengaruhi orang masuk ke dalam komunitas LGBT.

“Tadinya orang baik-baik, namun karena pengaruh lingkup pergaulannya tidak menutup kemungkinan orang menjadi terjerumus,” ujarnya.

Faktor lainnya, kata dia, lemahnya pengawasan dari orang tua. “Terkadang orang tua melihat anak-anaknya berperilaku baik saat berada di rumah sudah merasa aman. Maka tidak lagi mengontrol kelakuan mereka saat di luar rumah. Sehingga banyak orang tua yang terjebak sikap baik anak-anaknya,” tukasnya. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed