oleh

Lepas dari PKS, Ermi Berlabuh di Partai Gelora

SUMEDANG – Mantan anggota DPRD Sumedang sekaligus mantan politisi PKS Ermi Triaji SE MM kini berlabuh di Partai Gelora besutan Anis Matta dan Fahri Hamzah.

Ermi menyatakan menjadi anggota Partai Gelora kepada Sumeks, Rabu (13/11). Ia pun menuturkan, dirinya tidak menyangka Anis Matta akan secepat ini membuat partai. Ia pun harus ikut mendukung ide-idenya. Ia sudah berlepas dari PKS sekira November tahun lalu.

“Saya menyatakan gabung Partai Gelora secara pribadi karena jujur saja saya melihat sosok Anis Matta. Ia bukan saja politisi tapi juga pemikir, bukan hanya pemikir tapi juga politisi,” ujar Ermi.

Menurutnya, politik dan pemerintahan ini perlu pikiran. Artinya, politik perlu narasi, perlu ide sebagai ruhnya dan perlu konsep, strategi dan teori dalam implementasinya.

“Jangan sampai kita berkuasa nanti bingung mau seperti apa selanjutnya. Disebabkan tidak punya ide, cara dan cita2 yg diperjuangkan,” tegasnya.

Ermi menegaskan berpolitik harus punya filosofi dan strategi. Selain itu, harus tahu teknis-teknis implementasinya bagaimana.

“Karena itu, saya tertarik dan penasaran dengan sosok Anis Matta dan Fahri Hamzah,” tukasnya.

Ermi membayangkan, bagaimana kalau kedua orang tersebut ada di posisi pimpinan negeri ini. Apakah ada perubahan signifikan tentang cara bernegara, berpemerintahan dan mengelola negeri ini.

“Kita liat saja 15 tahun terakhir. Tidak ada hal-hal menonjol dari pimpinan yang lalu. Karena tidak ada narasi yang kuat mau diapakan negeri ini. Mereka hanya menjalankan roda pemerintahan yang ‘standar’ dan normatif, seolah tidak punya visi yang tajam dan terarah,” paparnya.

Dikatakan, setelah lepas dari PKS, awalnya dirinya tidak akan masuk dulu ke politik praktis. Ia ingin melihat suasana dan mengerjakan project-project kemanusiaan dan penelitian bersama kawan-kawan kampus dan komunitasnya.
Sebelum menyatakan masuk ke Partai Gelora, Ermi mempelajari dulu apa Partai Gelora.

“Saya liat azasnya ternyata Pancasila, ini bagus banget. Saya kurang sepakat kalau Anis Matta bikin partai Islam karena mempersempit pasar, anda taulah landscape politik di Indonesia seperti apa. Jangan takut kehilangan pemilih Islamis walaupun berazas Pancasila, karena yang harus dikedepankan adalah substansi, menjadikan Islam jadi karakter, jadi isi,” tegasnya.

Ermi juga menjelaskan, dirinya sepakat dengan Fahri Hamzah, ke depan ideologi kemakmuranlah yang akan laku karena Indonesia masih belum keluar dari krisis lintas sektor.

“Siapa yang bisa menawarkan jalan untuk menuju kemakmuran bersama, keadilan, kepastian hukum dan sebagainya, itulah yang akan banyak didukung publik. Sudah saatnya ‘politik pikiran’ mendominasi dibanding politik simbolik. Era berpolitik substanstif harus kita bangun,” jelasnya.

Dikatakan, Partai Gelora harus bisa jadi pioner partai yang mengerjakan tupoksi parpol secara benar, berkontribusi bagi pembangunan demokrasi di Indonesia.

“Di Sumedang politik uang dan legislator yang undercapacity adalah tantangan demokrasi dan pemerintahan kita ke depan,” tandasnya.

Gelora juga, kata Ermi, harus bisa memberikan edukasi politik di satu sisi dan mencetak calon-calon leader yang kompeten dan berintegritas di sisi lainnya.

“Satu lagi, feodalisme dalam partai politik harus segera diakhiri. Sebab, politisi di partai politik adalah calon-calon pemimpin negeri dan daerah. Kalau terbiasa budaya feodal, maka akan terbawa ketika ia jadi pemimpin dan pejabat publik,”

“Prestasi dan karir politisi harus berbasis kompetensi bukan senioritas, lalu pimpinan harus siap dikritik, itulah demokrasi. Untuk itu saya pikir Gelora harus mencari talenta-talenta muda yang bisa diproyeksikan menjadi pemimpin Sumedang maupun nasional,” tuturnya. (atp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed