Lihat Nih, Anak Tukang Becak pun Bisa jadi Praja IPDN ,Keterbatasan Ekonomi Tak Membuat Badri Ciut

Lihat Nih, Anak Tukang Becak pun Bisa jadi Praja IPDN ,Keterbatasan Ekonomi Tak Membuat Badri Ciut

WAWANCARA: Badri Toha Praja Muda IPDN saat diwawancara wartawan usai dikukuhkan oleh Mendagri, belum lama ini.(ENGKOS KOSWARA/SUMEKS)

Peliput/Editor: engkos koswara

KETERBATASAN ekonomi ternyata tidak selamanya menjadi penghalang seseorang untuk meraih pendidikan lebih tinggi. Contohnya siswa lulusan MAN 2 Padangsidimpuan bernama Badri Toha (16) anak pasangan Mislan Swedy dan Nu Baiyah Nasution. Kini, Badri yang merupakan anak seorang tukang becak, bisa kuliah di IPDN. Berikut catatannya.

ENGKOS KOSWARA, Jatinangor

Badri Toha, sudah tercatat sebagai mahasiswa di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor. Berkat kegigihanya dalam mengejar cita-cita untuk masuk perguruan tinggi IPDN, akhirnya perjuangannya tidak sia-sia. Tentunya berkat dorongan kedua orang tuanya.

Badri mengaku ada salah satu kakak kelasnya yang senantiasa memberikan support serta bantuan keuangan untuk meraih cita-cita itu.

“Masuk IPDN merupakan salah satu cita-cita saya. Meskipun begitu orang tua sangat mendorongnya tetapi bapaku hanya seorang tukang becak di Kota Padangsidimpuan yang tidak memiliki penghasilan cukup besar,” kata Badri kepada wartawan usai makan siang di Menza dan Laudry beberapa waktu lalu.

Badri terdiam beberapa saat ketika Sumeks menanyakan bagaimana biaya sehari-hari untuk bersekolah hingga ikut tes dan masuk IPDN. Sedangkan orang tuanya hanya penarik becak yang tidak banyak mendapatkan penghasilan.

“Penghasilan ayahku tidak menentu terkadang penghasilan menarik becak hanya mendapatkan Rp10 ribu sehari. Tetapi aku tetap ingin melanjutkan sekolah hingga selesai SMA dan meneruskan cita-citaku masuk IPDN,” tuturnya.

Meskipun banyak pertanyaan yang dilontarkan beberapa media, Badri justru banyak terdiam dan tidak banyak berkata-kata. Namun dari raut wajahnya tampak terlihat kesedihan tetapi tetap berusaha tegar dan menjawab pertanyaan walau ada terlihat sedikit kebingungan.

“Aku banyak dibantu kakak kelasku di SMA hingga aku bisa sampai seperti ini. Kakak kelasku banyak memberikan perhatian mulai dari keungan hingga membimbing mengikuti tes masuk IPDN,” katanya.

Badri mengaku selama ini kedua orang tuanya tinggal di rumah kontrakan di Jalan Bakti KNPI, Kelurahan Ujung Padang, Padangsidimpuan Selatan. Sejak dirinya mengikuti tes masuk IPDN hingga diterima, belum sekalipun bertemu dengan kedua orang tuanya.

Anak dari 3 bersaudara ini mengaku ada rasa kangen karena beberapa praja yang lulus dan sekampus denganya diantar oleh kedua orang tua dan saudaranya, namun dirinya tidak seorangpun yang mendampinginya saat mengikuti tes di IPDN hingga pengukuhan.

“Kedua orang tuaku tidak datang. Mungkin saja tidak punya uang untuk datang ke sini (IPDN*Red). Tapi biarlah meskipun tidak datang tetapi orang tuaku sudah bangga saya bisa bersekolah di IPDN,” tuturnya.

Sedihnya, terang Badri, saat semua orang tua dari calon praja datang mendampinginya untuk mendengar kelulusan, tapi dirinya tak seorangpun yang bisa hadir pada kelulusan itu. “Biarlah hanya do’a dari kedua orang tuaku dan saudaraku semuanya yang bisa menyertaiku selama aku mengikuti pendidikan di IPDN,”ucapnya. (*)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.