oleh

MA Darul Hikmah Terendam Air

TANJUNGKERTA – Pondok Pesantren sekaligus Madrasah Aliyah (MA) Darul Hikmah di Dusun Sukawangi RT 18 RW 7 Desa Tanjungmekar Kecamatan Tanjungkerta terendam banjir setinggi kurang lebih satu meter, Selasa (10/3).

Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 18.00 WIB akibat meluapnya Sungai Cikandung pasca hujan dengan intensitas tinggi selama 2 jam lebih mulai dari pukul 15.00 hingga 17.30.

“Ya, hujan yang cukup lama menyebabkan sungai Cikandung airnya meluap. Mengakibatkan Pontren Darul Hikmah terendam air setinggi kurang lebih satu meter,” ujar Kapolsek Tanjungkerta AKP Aep Suhendi melalui saluran teleponnya, Rabu (11/3).

Dikatakan, adapun bangunan Pontren Darul Hikmah yang terendam luapan air Sungai Cikandung yaitu sekolah MA Darul Hikmah Sukawangi serta bangunan makam sesepuh Pontren Darul Hikmah.

“Beruntung, dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa. Air beberapa jam kemudian langsung surut,” jelasnya.

Suhendi juga menuturkan setelah mendapatkan laporan, petugas dari berbagai intansi langsung datang ke TKP banjir. Diantaranya, BPBD, PMI, Kapolsek Tanjungkerta, Camat Tanjungkerta Danramil Tanjungkerta, Kanit Intelkam Polsek Tanjungkerta beserta anggota Polsek Tanjungkerta dan anggota Koramil Tanjungkerta.

“Kami telah melakukan langkah langkah diantaranya menerima laporan, mendatangi lokasi serta berkoordinasi dan langsung melaporkan satuan atas,” paparnya.

Dijelaskan, untuk penanganan material banjir Forkopimka Tanjungkerta bersama warga langsung membersihkan lumpur sisa sisa banjir.

Sementara itu, Camat Tanjungkerta Beni Satriaji mengatakan, musibah tergenangnya ruang kelas MA Darul Hikmah akibat Sungai Cikandung meluap. Karena, air dari hulu cukup besar dan tidak tertampung hingga naik ke halaman dan bangunan sekolah serta pesantren.

“Bukan hanya sekolah, ada satu rumah milik Hj Euis yang ikut terendam,” ujarnya.

Menurut informasi, hal serupa pernah terjadi di Pesantren Darul Hikmah pada 1994 dan 2007.

Beni mengatakan, untuk mengantisipasi adanya banjir susulan pihak pesantren dan warga setempat mengantisipasi dengan melakukan penyimpanan barang atau alat berharga di tempat yang aman dari kemungkinan jangkauan air bila meluap kembali.

Kemudian, kata Beni, berupaya untuk melakukan pembersihan sungai dari sampah atau kayu dan bambu yang hanyut dan nyangkut.

“Untuk lebih menjamin keamanan selanjutnya alangkah baiknya apabila dipasang beronjong di tepi sungai sebagai penahan arus air supaya tidak meluap keluar sungai,” pungkasnya. (atp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed