Mahalnya si Melon Diduga Ada Permainan

Peliput/Editor: iqbal/iman nurman

Mahalnya si Melon Diduga Ada Permainan

TUNJUKAN: Seorang pedagang gas Elpiji menunjukan stok gas ukuran 3 dan 12 Kg. Dia mengakui jika harga gas elpiji naik di tingkat pengecer. (DOK JATEKS)

TANJUNGSARI – Sejumlah warga di Kecamatan Sukasari, Tanjungsari dan Jatinangor mengeluhkan terkait mahalnya harga gas elpiji ukuran 3 kilogram (Kg). Bahkan kini harganya menembus kisaran Rp23 ribu hingga Rp25 ribu per tabungnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jateks, harga gas elpiji 3 kilogram di sejumlah agen hanya berkisar Rp16.500 per tabungnya. Sementara di tingkat pengecer harganya mencapai Rp23 ribu.

“Biasanya harga gas elpiji 3 kilogram hanya Rp20 ribu, tapi sekarang-sekarang harga gas 3 kilogram ini mencapai Rp23 ribu,” ujar Abdul Azis (35) warga Tanjungsari.
Menurutnya, kini warga di Tanjungsari mulai bingung, pasalnya hampir disetiap pengecer harga gas elpiji beragam. Mulai dari Rp23 ribu hingga Rp25 ribu per tabungnya.
“Dengan kondisi seperti ini ya saya mencari harga yang lebih murah meski harus mencari keluar,” sebutnya.

Sementara itu, Ujang (40), seorang karyawan di salah satu pangkalan gas di Tanjungsari membenarkan jika harga gas elpiji 3 kilogram di bervariatif di level pengecer. Bahkan, kata Ujang, perbedaan harga jual gas sering terjadi di wilayah perkotaan dengan daerah. Anehnya, kata dia di kota justru lebih murah dari pada yang di daerah.

“Padahal dari pangkalan mah cuma Rp16.500 per tabungnya. Idealnya mah dijual Rp20 ribu. Tapi nyatanya banyak yang menjualnya lebih dari Rp20 ribu, bahkan sampai Rp25 ribu,” ujarnya.

Seorang pemilik warung nasi di Jatinangor, Tuti (57) mengatakan, meski harga gas elpiji 3 kilogram masih terbilang mahal, pihaknya mengaku lega. Pasalnya stok gas elpiji 3 kilogram di Jatinangor tidak langka.

“Kalau mahal sih iya, tapi alhamdulilah masih bisa dibeli. Berbeda kalau langka atau kosong kami bingung,” sebutnya.

Sementara itu, Anggota Komisi C DPRD Sumedang Wawan Kusnadi menilai, harga tersebut memang terbilang terlalu mahal. Menurutnya, kalau penyebab mahalnya adalah dikarenakan kelangkaan maka harus meminta tambahan alokatif. “Karena kalau persediaan lebih banyak maka harganya akan turun,” ujarnya.

Selain itu, pengawasan oleh pihak terkait mesti ditingkatkan agar pedagang tidak membandrol harga terlalu bebas. (iqi)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js