Mak Empu Hanya Andalkan Belas Kasihan Tetangga

Peliput/Editor: ASEP NURDIN/SUMEKS

Mak Empu Hanya Andalkan Belas Kasihan Tetangga

DITEMUI: Mak Empu yang tidak bisa berjalan dengan normal hidup sebatang kara dan tinggal di rumah sederhana.

BUTUH BANTUAN

KOTA – Di tengah-tengah gencarnya program pemerintah memberantas keterbelakangan ekonomi, masih terselip potret kemiskinan yang seakan terabaikan.

Salah satunya Mak Empu, 70, warga RT 02 RW 16 Dusun Gunung Gadung Kelurahan Pasanggrahan Baru Kecamatan Sumedang Selatan. Mak Empu sudah bertahun-tahun hidup sebatang kara, semenjak ditinggal mati sang suami.

“Anak oge teu boga ema teh. (Anak juga tidak punya),” kata Mak Empu saat didatangi Sumeks di rumahnya, kemarin (12/10).

Untuk menyambung hidup, dia mengandalkan belas kasihan para tetangga. Karena selain usianya yang sudah renta, juga diperparah dengan kondisi kakinya yang bengkak akibat terjatuh sekitar tiga bulan yang lalu dan tidak pernah diobati. Sehingga untuk berjalanpun, dia tidak bisa.

“Boro-boro berobat, dahar oge mentaan ema teh. (Jangankan untuk berobat, makan juga meminta-minta),” ujarnya.

Mak Empu, tadinya hidup bersama kedua cucu tiri laki-laki, yaitu Deni dan Yoni yang sudah berusia remaja. Namun kini, keduanya meninggalkan Mak Empu, karena harus bekerja mencari penghidupan di Bandung.

Mak Empu mengaku, selama ini tidak pernah ada bantuan apapun dari pemerintah, selain bantuan beras miskin setiap bulannya. Namun itu pun, hanya sembilan kilogram dan tetap harus dibeli.

Saat ditanya masalah bantuan dari pemerintah seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), Program Keluarga Harapan (PKH) dan lainnya, dia menjawab tidak mengerti apa-apa.

“Ema mah teu terang nanaon. (Tidak tahu apa-apa),” tuturnya.

Terlebih saat ditanyai masalah Jamkesmas atau BPJS, dia seperti kebingungan. “Bageur geningan pamarentah teh, naha atuh ari ema teu dibantu. (Pemerintah itu baik, tapi ema tidak mendapat bantuan),” ucapnya sambil tersenyum kecil.

Mak Empu, kini berharap kepada pemerintah untuk mendapatkan perhatian. “Ema mah teu hayang nanaon, ngan hayang cukup jang dahar we jeung ngubaran suku. (Tidak butuh apa-apa, hanya butuh makan saja dan mengibati kaki),” harap Mak Empu.

Sementara itu Ida Farida, 47, salah seorang tetangga Mak Empu membenarkan keadaan Mak Empu yang hidup sebatang kara itu. “Memang benar, Mak Empu sudah tidak ada yang mengurus,” terang Ida.

Bahkan, kata Ida, baju yang sekarang dipakainya pun sudah seminggu lebih tidak diganti. Selain itu, sesekali waktu Mak Empu suka berjalan kaki mengelilingi perkampungan untuk meminta belas kasihan para tetangganya.

“Meskipun sambil menahan rasa sakit di kakinya, Mak Empu keluar rumah. Mungkin mencari sesuap nasi karena kelaparan,” tukasnya. (nur)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.