oleh

Makam Cut Nyak Dien Referensi Wisata Sejarah

-Wisata-39 views

KOTA – Komplek pemakaman Cut Nyak Dien, menjadi salah satu tempat wisata sejarah favorit di Kabupaten Sumedang. Tempat tersebut, terbilang layak dijadikan referensi wisatawan luar kota yang ingin berkunjung ke Kabupaten Sumedang.

Melihat dari sejarah, sosok perempuan berdarah Aceh Barat tersebut, dikenal dengan julukan Srikandi Indonesia. Cut Nyak Dien lahir di Aceh pada 1848. Sejak dari kecil, Cut Nyak Dien mendapat pendidikan agama dari lingkungan bangsawan-bangsawan Aceh. Pahlawan perempuan tersebut, mulai berjuang membela Islam ketika berumur 27 tahun dan wafat pada 6 November 1908 diusianya yang ke 60 tahun.

Juru kunci makam Cut Nyak Dien Dadan Rusnandan Kusuma mengatakan, komplek pemakaman Cut Nyak Dien mulai mendapat perhatian dari pemerintah pada 1987. “Dulu mah gak ada perhatian dari pemerintah. Jadi cuma diurus oleh keluarga dan kerabat. Dan sering ada juga orang Aceh bahkan pemerintah Provinsi Aceh datang bekunjung, sehingga sedikit-sedikit membantu di sini,” katanya ketika ditemui Sumeks, Selasa (8/8).

Dadan menceritakan, awal mula Cut Nyak Dien ada di Kabupaten Sumedang, setelah Cut Nyak Dien ditangkap pemerintah Belanda pada 6 November 1905, kemudian dibuang ke Sumedang pada 11 Desember 1906 bersama seorang panglima perangnya.

“Lalu untuk merawat Cut Nyak Dien, Bupati Sumedang pada saat itu, Pangeran Aria Suriaatmaja menyerahkannya kepada seorang ulama Masjid Agung Sumedang yang bernama KH Sanusi. Tetapi pada waktu itu rumah KH Sanusi sedang diperbaiki, maka untuk sementara Cut Nyak Dien dititipkan di rumah H Ilyas kurang lebih sekitar 2 hingga 3 minggu. Setelah itu, kembali dibawa ke rumah KH Sanusi sampai akhirnya beliau (KH Sanusi) wafat,” bebernya.

Lalu, lanjut Dadan, Cut Nyak Dien dirawat oleh anak KH Sanusi yang bernama H Husna, hingga akhirnya Cut Nyak Dien wafat dan dimakamkan di lokasi Makam Keluarga H Husna di Gunung Puyuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan.

“Selama dalam perawatan, Cut Nyak Dien memiliki kegiatan memberikan pelajaran mengaji. Khususnya kepada warga Kaum dan umumnya masyarakat Sumedang. Pada saat itu kondisi Cut Nyak Dien sudah tidak bisa melihat atau buta. Tapi, kegiatan mengajar terus ia lakukan. Sehingga, Cut Nyak Dien mendapat julukan Ibu Prabu atau masyarakat menyebutnya Ibu Suci,” tuturnya.

Tahun demi tahun, makam pahlawan nasional Cut Nyak Dien yang juga sering dikenal sebagai makam ibu Prabu mulai banyak dikunjungi oleh segala kalangan. Mulai dari masyarakat biasa hingga kalangan pejabat. “Tidak hanya dari kota Sumedang, masyarakat Aceh pun sering datang berkunjung hanya untuk sekedar berziarah ke makam Cut Nyak Dien,” tutup Dadan. (dwi/job)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed