Melihat Potensi Tujuh Mata Air Cikandung Cimalaka

*Dijadikan Ajang Uji Nyali Sepeda

 

Banyak cara yang dilakukan Kepala Desa Nyalindung Budi Yanto untuk menggenjot sector pariwisata di wilayahnya. Salahsatunya dengan memanfaatkan potensi alam yang ada dengan tanpa merusaknya. Salahsatunya di mata air Cikandung.

 

IGUN GUNAWAN, CIMALAKA

 

PULUHAN ibu-ibu dengan berpakaian kaos senam sudah memadati lokasi mata air Cikandung di bagian barat daya kawasan kaki Gunung Tampomas. Tepatnya terletak di kawasan Dusun Sukasari, Desa Nyalindung, Kecamatan Cimalaka.

Suasana cukup asri pagi itu, dengan panorama alami kontras dengan mereka yang bersenam pagi. Menurut Kepala Desa Nyalindung, Budi Yanto, pihaknya akan menyelenggarakan kegiatan semacam itu rutin minimal dalam sebulan sekali.

”Kegiatan senam pagi ini, merupakan bagian dari promosi saya untuk terus memperkenalkan keindahan mata air Cikandung ini. Makanya, kita akan menyelenggarakan senam pagi minimalnya sebulan sekali,” kata Budi Yanto pada Sumeks, kemarin.

Dipilihnya senam, karena banyak kaum emak-emak yang memang tertarik dengan olahraga yang hemat biaya itu. “Kita fasilitasi, kebetulan di sini banyak yang mencitai olahraga senam. Dan setelah masyarakat tahu, pengjunjung tahu di sini ada senam, tentu saja ini akan menjadi daya tarik bagi mereka,” imbuhnya.

Tak hanya itu bagi mereka yang menyukai tantangan, Budi pun membuat jalur trek sepeda yang terbilang ekstrim, berada di atas mata air Cikandung.

“Arena sepeda yang dibuatkan sebuah lintasan yang melintasi air. Sehingga begitu melintasi air kita juga berikan tantangan, setelah itu mereka diusahakan jatuh, dengan kita ya menyiramnya,” ungkapnya.

Trek sepeda semacam itu menurut Budi, baru kali pertama ada di Kabupaten Sumedang. Tentu saja, lokasi yang melintasi air ini akan mengocok adrenalin dari para peserta yang akan mencobanya. Karena jika tidak seimbang dipastikan akan terjerembab ke dalam air.

Menurut dia, ide itu muncul dari keinginan para pemuda yang ada di Desa Nyalindung. “Mereka memberikan aspirasi, cobalah membuat trek air berupa sepeda, dan kita coba ide-ide itu kita implementasikan, kita tuangkan di sini. Ternyata banyak yang merespon,” ungkapnya.

Bahkan hari itu juga salahsatu stasiun televisi Nasional melakukan peliputan secara khusus, kegiatan yang mengocok adrenalin tersebut.

Disinggung berapa tiket masuk ke lokasi tersebut, untuk saat ini memang belum diterapkan tiket masuk hanya saja untuk parkir dikenakan tariff motor senilai Rp 2 ribu dan mobil Rp 5 ribu. Tiket itu untuk membantu membenahi dan memelihara lokasi wisata tersebut.

“Kita bersama BPD, bagaimana menggodok lokasi ini menjadi pendapat asli desa. Sehingga desanya maju, masyarakatnya juga maju, melalui pendapatan ini,” ujarnya.

Karenanya tak heran respon pengunjung cukup membludak apalagi pada hari libur, pada hari biasa pun masih banyak mereka yang penasaran untuk melihat dari dekat jernihnya mata air.

”Respon pengunjung tidak hanya dari wilayah sini saja, tapi juga dari kabupaten lain mereka berdatangan ke sini, dari Bandung, Jakarta, Jawa juga dating ke sini. Karena di sini airnya murni dan di sini betul-betul dari mata air,” sebutnya.

Mitosnya, tujuh titik mata air tersebut dapat menjaga kesehatan, untuk mempercantik bagi perempuan dan membuat awet muda.

Dia berharap lokasi wisata yang sudah mulai terkenal luas itu mendapat perhatian khusus dari pemerintah Kabupaten Sumedang. “Mudah-mudahan bisa mendapat perhatian dari stake holder terkait, dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten. Semua harus memperhatikan, karena bagaimana pun wisata itu tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Dan terus terang saya ingin tempat wisata ini betul-betul alami, bukan (diubah) ke modern, tapi tetap mencirikan alami. Dan kita akan edukasi terus masyarakat,” tutupnya.

Salahseorang pengunjung Rini, sangat tertarik dengan keindahan mata air Cikandung. Sama seperti Budi, dia pun berharap terus ada penataan sehingga tempat tersebut dapat lebih dimaksimalkan. (**)

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.