Membunuh Sugesti Negatif Siswa Ala Titin Suryati Sukmadewi

Peliput/Editor: IIS SULASTRI/SUMEKS

Membunuh Sugesti Negatif Siswa Ala Titin Suryati Sukmadewi

DITEMUI: Titin Suryati Sukmadewi, S.Si, M. Pd, salah satu pengajar di SMAN 1 Sumedang. (IIS SULASTRI)

Mengajar dengan Kasih Sayang, Keikhlasan dan Profesional

Menjadi seorang guru, bukan hanya memiliki eksistensi sebagai pengajar. Dengan kefokusannya dalam mendidik dan menyampaikan ilmu, seorang guru dapat melatih wawasan keilmuaannya sampai meraih prestasi. Bahkan, tidak terbatas sekadar transfer ilmu kepada murid, di luar itu guru harus mempu menjadi pengayong siswa-siswinya di sekolah, sehingga proses belajar mengajar tidak sebatas formalitas.

HARI Guru Nasional (HGN) yang diperingati 25 November, memiliki makna tersendiri baik bagi guru maupun siswa. Dengan memperingati hari guru ini, tentunya guru terdorong untuk terus berjuang memajukan pendidikan generasi bangsa.

Hal tersebut tidak dipungkiri Titin Suryati Sukmadewi, S.Si, M. Pd, sebagai guru berprestasi baik nasional maupun internasional. Beberapa prestasinya antara lain Juara 1 yang berhak mendapatkan medali emas pada “Olimpiade Sains Nasional Guru 2014 bidang Matematika SMA”, Juara 1 (The Best) Teaching Performance  pada “Olimpiade Sains Nasional Guru 2014”, 1st best participant “The Course on Developing Lesson Study in Mathematics Education for Senior High School Teachers” dan masih banyak lainnya.

Prestasi Titin khususnya di bidang Matematika, tidak menghilangkan eksistensinya sebagai seorang pendidik. Salah satu pengajar di SMAN 1 Sumedang ini, memaknai hari guru sebagai seruan untuk menanamkan sugesti positif terhadap siswa.

“Berbuatlah yang terbaik untuk siswa dengan membawa aura positif ke kelas. Kita harus membunuh afirmasi negatif pada siswa dengan menanam sugesti positif. Contoh, tidak apa-apalah nilai kamu kurang memuaskan karena matematika itu sukar. Ketika itu, saya berdosa karena telah menanamkan pada pemikiran mereka bahwa matematika itu memang sukar,” ujar Titin saat ditemui Sumeks di sela-sela kesibukannya, Senin (26/11).

Ketika guru memberi teguran atau seruan yang negative, maka guru tersebut sebenarnya sedang memberi sugesti yang negatif pula. Selain itu, mengkritik siswa yang memiliki cara berbeda dengan gurunya, sama saja seperti mematikan kreativitas siswa.

Untuk itulah, seorang guru dapat dikatakan memiliki tugas yang cukup berat. Selain harus baik dalam pedagogi (ilmu pendidikan), guru juga harus meningkatkan keprofesionalan di bidang ilmunya.

Maka, diperlukan kefokusan dalam mengajar untuk keberhasilan mendidik siswa maupun meningkatkan keilmuan seorang guru. Guru yang fokus dalam mengajar dapat terus meningkatkan inovasi-inovasi di setiap pembelajarannya.

Hal tersebutlah yang juga dilakukan Titin. Dalam kasus generasi milenial, pendidik juga janganlah tertinggal. Maka, Titin memadukan gadget dengan pembelajaran matematika. Dia menyuruh siswanya mengunduh salah satu aplikasi yang dapat membantu pembelajaran matematika.

Langkahnya tersebut, tentu menambah pengetahuan siswa dalam membangkitkan pembelajaran agar tidak monoton. Guru, pun tentu dapat terus meningkatkan inovasi.

“Dalam hal tersebut, guru ditantang untuk terus memantapkan materi yang akan diajarkannya. Selain itu, guru didorong untuk terus melatih bidang keilmuannya agar soal yang diteskan pada siswa pun berbobot,” tukasnya. (**)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.