Menengok Lagi Kehidupan Warga Terdampak Waduk Jatigede

Menengok Lagi Kehidupan Warga Terdampak Waduk Jatigede

BERBINCANG: Sejumlah warga Desa Linggajaya Kecamatan Cisitu yang merupakan warga terdampak Waduk Jatigede tengah berbincang. (HERI PURNAMA/SUMEKS)

Peliput/Editor: HERI PURNAMA/SUMEKS

Ada yang Sempat Tidak Makan saat Melahirkan

Setelah digenangnya Waduk Jatigede pada 31 Agustus 2015 lalu, hingga saat ini wilayahnya terus berkembang. Namun di sisi lain, warga terdampak waduk nampaknya belum semua sejahtera. Lantas seperi apa saja kah yang kini dirasakan warga terdampak. Berikut penuturannya.

HERI PURNAMA, Cisitu
TAHUN baru 2018 telah berjalan dua pekan. Namun, kehidupan baru nampaknya belum juga dirasakan semua warga. Terutama, warga terdampak Waduk Jatigede.

Salah satunya di Desa Linggajaya Kecamatan Cisitu, masih perlu perhatian pihak terkait. Dampak dari pembanguna mega proyek waduk tersebut, masih sangat pahit diraskan ratusan Kepala Keluarga yang ada di wilayah desa tersebut.

Seperti warga yang berasal dari Desa Padajaya Kecamata Wado, Muhtar. Pada dasarnya, kepahitan hidup mereka dirasakan karena warga tidak bisa memetakan bagaimana agar masyarakat bisa mendapatkan penghasilan tetap.

“Semenjak saya pindah ke Dusun Kasongambang Desa Linggajaya ini, saya sudah kehilangan pekerjaan dan tidak punya penghasilan. Sampai membangun rumah pun seadanya saja karena faktor usia. Saya saat ini tidak bisa berbuat banyak,” katanya saat ditemui Sumeks, kemarin (11/1).

Dia memaparkan, saat ini dirinya bersama istrinya hanya mengandalkan kiriman dari anak bungsunya yang bekerja di Jakarta. Dalam waktu satu bulan, Muhtar mendapat kiriman Rp 200 ribu saja dari anaknya.

Uang tersebut, digunakan untuk membeli beras sebanyak 10 kilogram dengan harga Rp 10 ribu per kilogramnya. Jadi uang kiriman itu, hanya sisa Rp 100 ribu untuk persediaan satu bulan.

Menurutnya, uang Rp 100 ribu itu tidak mungkin cukup untuk membeli lauk setiap harinya. Hingga pada akhirnya, mereka makan dengan lauk seadanya.

“Kadang saya makan dengan daun singkong, paling bagus juga dengan sayur jantung pisang,” tuturnya bercerita.
Selain itu, warga lainnya Reni yang belum lama ini melahirkan, mengaku sempat tidak makan karena persediaan beras habis. Bahkan uang juga tidak punya.

“Iya benar, saya sempat tidak makan saat suami saya sedang kuli bangunan di Jakarta. Bahkan biaya melahirkan pun saya uangnya dapat pinjam sampai saat ini belum dibayar,” akunya.

Dia menyebutkan, bahkan anak pertamanya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), berangkat ke sekolah tanpa diberikan bekal untuk jajan. Namun untungnya, semangat belajar anaknya itu tetap tinggi.

“Anak saya paling besar masih sekolah dasar. Kadang saya kasian karena tidak dibekali uang jajan,” keluhnya.
Sementara itu ditemui terpisah, Kepala Desa Linggajaya Ano Sutarna menyebutkan, bahwa ada sekitar 150 warga terdampak waduk yang berpindah ke wilayah desanya. Namun sangat disayangkan, pasokan beras sejahtra (rastra) yang masuk ke Desa Linggajaya, justru saat ini malah dipangkas. Dari awal 337 karung, sudah satu tahun ini malah turun menjadi 303 karung.

“Untuk warga OTD yang tidak mampu, saya sudah lakukan pendataan. Namun saya minta kepada pihak terkait untuk menambah pasokan rastra ke desa ini (Linggajaya) agar warga OTD yang tidak mampu bisa mendapatkan beras tersebut,” tuturnya. (**)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.