Mengenal Sejarah Kacapi Naga Maung Karya Putra Sumedang

**Lama Di Museum Sri Baduga, Kini Menetap di IPP

Tak banyak yang mengenal Kacapi Naga Maung, Kacapi Maung Nagara. Ya, Kacapi Naga Maung yang terbuat dari bahan Kayu Jati sepanjang 6 meter itu berwarna emas. Secara penglihatan mata saja, bentuk Kacapi Naga Maung sudah sangat menarik. Apalagi bila mendengar latar belakang pembuatannya dari kayu jati dan kayu lainnya yang dipadatkan sudah cukup rumit

ASEP NURDIN Kota

PEMILIKNYA, Sakiah Hendara asal Sumedang. Dulu, Kacapi ini dihibahkan ke Museum Sri Baduga Bandung pada 8 Maret 2016 silam. Kemarin, kacapi ini didendangkan dalam Pagelaran Seni Teatrikal Kacapi Naga Maung (Kacapi Maung Nagara dan bedah falsafah gerak sawelas.

Acara itu merupakan rangkaian acara penyambutan kacapi raksasa, hasil karya putra daerah.

Kini, kacapi berukuran panjang 6 meter dengan kepala Naga dan Harimau di kedua ujungnya itu, merupakan aset daerah Kabupaten Sumedang. Tentunya, atas desakan tokoh dan budayawan, Kacapi berwarna kuning emas ini resmi akan menjadi aset dan berada di Sumedang untuk selama-lamanya.

“Tokoh dan budayawan Sumedang sepakat, kacapi ini akan di tempatkan di Sumedang,” kata Bupati Sumedang, Eka Setiawan, disela-sela acara, Minggu (21/5) di Gedung Negara.

Namun, untuk masalah penempatannya, bupati masih merundingkan dengan sejumlah tokoh budaya, apakah nantinya akan di tempatkan di Gedung Negara, Kantor IPP atau di Rumah Gending. “Kita lihat saja nanti kesepakatannya,” terang Bupati.

Bahkan sudah muncul ide dari salah seorang tokoh budaya, untuk membangun museum kacapi, dimana semua kacapi termasuk kacapi naga maung, akan ditempatkan disana.

“Tapi dengan rencana pembangunan Museum Jatigede, kita akan mencoba koordinasi, mudah-mudahan kacapi Naga Maung dapat ditempatkan disana,” lanjut Bupati.

Sementara itu, Sekretaris Umum Dewan Kebudayaan Sumedang, Tatang Sobana berpendapat, kacapi Naga Maung – kacapi maung nagara, merupakan hasil karya seni yang bernilai tinggi dan patut kita hargai. Pasalnya, didalam bentuk kacapi yang artistik ini, mengandung falsafah bernegara.

“Ada sebelas pedoman hidup tentang bernegara, atau yang disebut dengan falsafah gerak sabelas,” kata Apih Tatang, sapaan akrab Tatang Sobana.

Dengan kembalinya kacapi naga maung ke Sumedang, menurut Apih Tatang, harus menjadi ikon Sumedang yang akan menjadi magnet wisata serta memperkuat Sumedang sebagai puseur budaya sunda. “Meskipun ini hanya bagian kecil dari puseur budaya sunda,” ucapnya.

Untuk mengembalikan kejayaan budaya sunda, seyogyanya harus ditandai dengan lahirnya karya seni bernilai tinggi.

“Kacapi ini lah yang akan menjadi tonggak lahirnya kembali kejayaan budaya sunda,” katanya.

Karena setiap generasi ada hasil karyanya, begitu pun setiap karya ada generasinya.

“Mudah-mudahan kacapi naga maung- kacapi maung nagara ini akan menjadi catatan dalam sejarah sunda yang terlahir dari Sumedang,” ucapnya.

Bagai mana pun juga, tutur Apih, Sumedang sebagai puseur budaya sunda, sudah memiliki simbol-simbol yang menunjukan eksistensinya sebagai kota budaya. “Meskipun hanya baru sebatas fisik, mudah- mudahan akan mengakar kingga hati masyarakat Sumedang,” katanya. (**)

Ikuti Kami di Sosial Media:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.