Mengenal Tradisi Upacara Adat 7 Bulanan

Mengenal Tradisi Upacara Adat 7 Bulanan

DIMANDIKAN: Seorang ibu hamil sedang dimandikan dalam tradisi tujuh bulanan, baru baru ini.(IMAN NURMAN /SUMEKS )

PEWARTA: IMAN NURMAN/SUMEKS

**Bukan Bid’ah, Meski Akulturasi Budaya Hindu Budha

Di masyarakat Sunda, upacara adat tujuh bulanan atau Tingkeban, merupakan sesuatu yang wajib. Meski bukan suatu keharusan, namun tradisi itu patut dipertahankan sebagai warisan budaya. Lalu bagaimanakah dengan pandangan islam? Berikut liputannya.

IMAN NURMAN, Cimanggung

UPACARA Tingkeban, adalah upacara yang diselenggarakan pada saat seorang ibu mengandung 7 bulan. Hal itu dilaksanakan, agar bayi yang di dalam kandungan dan ibu yang melahirkan, akan selamat serta lancar.

Tingkeban ini, berasal dari kata tingkeb yang artinya tutup. Maksudnya, si ibu yang sedang mengandung tujuh bulan tidak boleh bercampur dengan suaminya sampai empat puluh hari sesudah persalinan dan jangan bekerja terlalu berat karena bayi yang dikandung sudah besar.

Hal ini untuk menghindari dari sesuatu yang tidak diinginkan. Di dalam upacara ini, biasa diadakan pengajian dengan membaca ayat-ayat Alquran surat Yusuf, surat Lukman dan surat Maryam.

Di samping itu, dipersiapkan pula peralatan untuk upacara memandikan ibu hamil. Dan yang utama, adalah rujak kanistren yang terdiri dari tujuh macam buah-buahan.

Ibu yang sedang hamil tadi, dimandikan oleh tujuh orang keluarga dekat, yang dipimpin seorang paraji secara bergantian. Tak lupa menggunakan tujuh lembar kain batik yang dipakai bergantian setiap guyuran dan dimandikan dengan air kembang tujuh rupa.

Pada guyuran ketujuh, dimasukan belut sampai mengena pada perut si ibu hamil. Hal ini dimaksudkan, agar bayi yang akan dilahirkan dapat berjalan lancar (licin seperti belut). Bersamaan dengan jatuhnya belut, kelapa gading yang telah digambari tokoh wayang oleh suaminya, dibelah dengan golok.

Hal ini, dimaksudkan agar bayi yang dikandung dan orang tuanya dapat berbuat baik lahir dan batin. Seperti keadaan kelapa gading warnanya elok, bila dibelah airnya bersih dan manis. Itulah perumpamaan yang diharapkan bagi bayi yang dikandung supaya mendapatkan keselamatan dunia-akhirat.

Sesudah selesai dimandikan, biasanya ibu hamil didandani lalu dibawa menuju ke tempat rujak kanistren tadi yang sudah dipersiapkan. Kemudian sang ibu menjual rujak itu kepada anak-anak dan para tamu yang hadir dalam upacara itu. Dan mereka, membelinya dengan menggunakan talawengkar, yaitu genteng yang sudah dibentuk bundar seperti koin.

Sementara si ibu hamil menjual rujak, suaminya membuang sisa peralatan mandi seperti air sisa dalam jajambaran, belut, bunga dan sebagainya. Semuanya itu, harus dibuang di jalan simpang empat atau simpang tiga. Setelah rujak kanistren habis terjual selesailah serangkaian upacara adat tingkeban.

Lalu bagaimanakah menurut pandangan islam mengenai tradisi itu yang tidak diajarkan Nabi Muhammad? Pimpinan Ponpes Al Haruniyah Ust Endang Harun menuturkan, asalkan tidak keluar dari ajaran dan syariat islam, tradisi tujuh bulanan tidak dilarang agama.

Apalagi, kata dia, prosesi tujuh bulanan diisi pengajian dan shalawatan. Sebab, tradisi dan agama tidak bisa disatukan. Meskipun bisa dipadukan seperti kisah wali songo yang memadukan wayang dengan syiar agama islam.

“Para Wali Songo juga menyebarkan agama islam tidak dengan ceramah atau tausiyah. Tetapi diisi dulu dengan wayang atau gamelan. Kan itu tidak diajarkan nabi, tetapi dipakai Wali Songo. Artinya, sepanjang itu tidak keluar dari ajaran islam, sah-sah saja,” katanya.

Endang pun menambahkan, pemakaian kendaraan bermotor dan produk-produk barat. Seperti handphone dan internet, tidak diajarkan nabi. Tetapi seiring perkembangan zaman ustad dan kiayi pun menggunakan produk barat.

“Ini antara kepercayaan dan budaya. Tradisi tujuh bulanan Akulturasi budaya Hindu Budha (sunda wiwitan) dan dipakai nenek moyang terdahulu. Sekarang dipadukan dengan tradisi islam seperti mengaji dan shalawatan. Saya kira itu bukan bid’ah,  melainkan perpaduan budaya dan agama,” tandasnya. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.