Sosok Iqlima Mustika, Korban Tanah Longsor; Cantik dan Mudah Bergaul

Peliput/Editor: asep nurdin

Sosok Iqlima Mustika, Korban Tanah Longsor; Cantik dan Mudah Bergaul

DISAMBUT: Jenazah Iqlima disambut histeris oleh kerabatnya di rumah duka di Dusun Gunung Gadung RT 02, RW 16, Desa Pasanggrahan Baru, Kecamatan Sumedang Selatan. INSERT: Teman Iqlima menunjukan foto jenazah almarhum semasa hidup.(ASEP NURDIN/SUMEKS)

Musibah tanah longsor di Lingkungan Cimareme RT 05, RW 11, Kelurahan Pasangrahan Baru, Kecamatan Sumedang Selatan, nyatanya masih menjadi momok yang menakutkan bagi warga Sumedang. Bagaimana tidak, kejadian yang tak disangka-sangka itu selain melenyapkan harta benda, juga merenggut nyawa. Salah satunya, Iqlima Mustika Kencana Sudirman, siswi kelas II AP 3 SMKN 2 Sumedang. Berikut liputannya.

ASEP NURDIN, Kota

Suasana duka masih menyelimuti rumah duka dan warga di lingkungan Cimareme Kelurahan Pasanggrahan Baru. Puing-puing reruntuhan masih terlihat jelas sepanjang mata ini memandang. Sementara, aktivitas warga masih bergelimut dengan rasa takut dan sedih.

Dari sekian korban meninggal, Sumeks akan mengupas salah seorang korban, Iqlima Mustika Kencana Sudirman. Informasi yang dihimpun Sumeks dari teman di sekolahnya, Iqlima adalah siswi kelas 11 AP 3 SMKN 2 Sumedang itu adalah sosok yang ceria dan mudah bergaul. Dengan sifatnya yang suka nyeleneh, ia sering dibuli teman sekelasnya. Namun Iqlima tidak pernah komplain atau sakit hati dengan guyonan teman-temanya.

Sifat inilah yang membuat teman sekelas Iqlima merasa terhibur dengan kehadirannya di kelas. “Kalau ganti jam pelajaran, dia suka kelayaban keluar kelas entah pergi kemana,” kata Vera Pratiwi, teman sekelas almarhumah, menuturkan kepada Sumeks, Rabu (21/9).

Dikatakannya, Iqlima memiliki postur tubuh yang gendut, agak pendek, dan berkulit putih bersih . Karena tubuhnya yang subur itulah, dia biasa dipanggil Emplod. Nama itu, kata Vera, pemberian guru Bahasa Indonesia pada saat masih duduk di bangku kelas 1. Namun dia acuh dengan julukan tersebut.

Hal senada dikatakan Neng Eva Sumendap, ketua kelas almarhumah. Menurut Eka, gurunya memberikan julukan Emplod karena memiliki nama terpanjang di kelasnya.

“Biar gampang manggil, ya Emplod aja,” kata Neng Eva menirukan gurunya.

Namun, teman-teman sekelasnya gak menyangka jika Iqlima harus lebih dulu dipanggil sang Maha Kuasa. Iqlima yang berperawakan cantik itu bahkan harus pulang dengan cara-cara mengenaskan.

“Gak nyangka dia ninggalin kami, padahal kemarin masih ketawa-ketawi, ciri khas almarhum yang suka cengengesan dan aktif berbicara,” sambung Eva.

Dikatakan Eva, hari kemarin, Selasa (20/9) di kelasnya tengah diadakan ujian lisan mata pelajaran Agama Islam.

“Beberapa pertanyaan dari guru tertuju kepada almarhumah terus. Dan dia bisa menjawabnya dengan benar,” terang Eva.

Namun ada yang tak biasa dilakukan almarhumah, sambung Eva. Hari itu almarhumah mengenakan kerudung putih berbahan katun, padahal kerudung yang biasa dipakainya, kerudung paris putih.

Dengan mengenakan kerudung yang tak seperti biasanya, maka tampak pula perbedaan pada raut muka almarnumah.

“Almarhum tampak cantik dan bercahaya, meskipun tidak ada perubahan dari gerak-geriknya,” terang Eva.

Dia menambahkan, almarhumah baru saja merayakan hari ulang tahunnya yang ke 16 pada tanggal 12 September yang lalu.

Atas kepergian almarhumah, mereka meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi keluarga besar SMKN 2 Sumedang. Terutama teman-teman sekelasnya.

“Selain teman yang lain, almarhumah paling akrab dengan teman sebangkunya. Siska yang memiliki karakter yang mirif dengan almarhum sehingga selalu kelihatan kompak hubungan pertemanan diantara keduanya,” kata Eva.

Bahkan, sambung Eva, keduanya pernah aktif menjadi kepengurusan Osis pada beberapa waktu lalu.

“Namun sekarang sudah tidak aktif lagi, karena cape,” kata Eva menirukan perkataan almarhum.

Sebelumnya, Isak tangis kerabat dan keluarga menyeruak memecah kesunyian malam di ruang tunggu kamar jenazah Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang.

Mereka menangisi jasad ibu dan anak warga Lingkungan Cimareme RT 05 RW 11, Kelurahan Pasangrahan Baru, Sumedang Selatan yang menjadi korban bencana tanah longsor yang terjadi pada Selasa (20/9) sekitar jam 20.00 WIB.

Kedua korban yang terbujur kaku di ruang pemulasaraan jenazah tersebut adalah Desi (40) dan anaknya , Iqlima (16) yang masih duduk di bangku SMK.

Suara tangisan pun kian kencang saat seorang lelaki datang dengan mengenakan jaket warna cream dan celana jeans pendek dengan mata sebelah kanan bengkak serta sejumlah goresan luka di bagian kaki.

Pria tersebut tiada lain adalah Yayat Setiawan (40) suami dan ayah dari kedua korban.
Sambil menangis dia langsung menerobos masuk pintu ruang jenazah yang dijaga sejumlah petugas rumah sakit. Yayat langsung menghampiri dan membuka kain berwarna hijau yang dijadikan penutup jasad istri dan anaknya itu.

“Gusti,,,,,asa teu nyangka bakal kieu jadina,” suara itu terdengar dari mulut Yayat.

Untuk beberapa saat, Yayat tersungkur, menangisi jasad istri dan anaknya itu sambil meratap seakan tak percaya atas kejadian yang baru saja menimpa keluarganya itu.

“Sebelum kejadian, kami tengah bercengkrama bersama istri dan anak kedua, Gia (11 ),” kata Yayat, setelah sejumlah saudara dekat berusaha menenangkannya.

Sedangkan Iqlima, sambung Yayat, tengah berada di kamarnya sedang mengerjakan tugas dari sekolah.

Hal itu ia ketahui saat akan mengontrol kamar Iqlima karena takut ada genteng yang bocor. Sedangkan si bungsu, Kentaro Mukti (11) berada di kamar tengah. “Bahkan Kentaro saat itu meminta sejumlah uang karena ingin berenang pada esok hari,” katanya.

Tak lama berselang, mereka dikagetkan dengan suara gemuruh dari belakang rumah. Kesempatan untuk berlaripun tidak ada hingga sekeluarga tertimpa longsoran tanah.

“Saya tidak sadar, yang saya ingat, mencari celah-celah untuk dapat keluar dari timbunan tanah,” kata Yayat. (**)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.