Menjual Diatas HET, Pelanggaran

Menjual Diatas HET, Pelanggaran

DISTIBUSI: Salah seorang pegawai pangkalan LPG di Sumedang, sedang menurunkan gas LPG ukuran 3 Kg dari agen, Kamis (22/10). (ASEP HERDIANA/SUMEKS)

Peliput/Editor: asep herdiana/iman nurman

KOTA- Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumedang, akan mewajibkan semua pangkalan yang menjual gas LPG 3 Kilogram (Kg) yang ada di Sumedang untuk memasang spanduk harga eceran tertinggi (HET) mulai dari tingkat agen, pangkalan hingga pengecer.

Kebijakan itu dilakukan oleh dinas, menyusul ditemukannya pangkalan gas LPG 3 Kg yang menjual harga eceran diatas harga tertinggi yang telah ditetapkan. Sidak yang dilakukan oleh dinas bersama Komisi B DPRD Sumedang, yang membidangi perdagangan itu dinilai akan bisa meminimalisir kecurangan dan manipulasi harga di tingkat pengecer.

“Saat sidak dengan komisi B beberapa waktu lalu, kami mendapati ada beberapa pangkalan yang menjual LPG diatas HET yang telah ditentukan. Ini yang jadi penyebab harga mahal, padahal kan pasokan LGP terus stabil, ” ujar Kadiskoperindag, Dicky Rubiana Abdullah, saat dikonfirmasi, Kamis (22/10).

Dengan dipasangnya spanduk atau banner itu, dinas berharap masyarakat bisa mengetahui berapa harga yang harus mereka dapatkan ketika memberi LPG di tingkat pengecer. Sehingga, akan timbul kesadaran masyarakat, saat membeli dengan harga yang tidak wajar, maka mereka akan mengetahui telah terjadi kecurangan, karena sudah hafal dan terpampang harga yang sebenarnya.

“Dinas beraharap dengan dipasangnya banner itu, masyarakat bisa lebih faham dan sadar ketika mereka membeli dan diberi harga diluar kewajaran dan ketentuan. Mereka akan sadar, bahwa si pangkalan atau pengecer sudah menyalahi aturan,” lanjut Dicky.

Selain menjual dengan harga yang diluar HET, dinas juga menemukan beberapa pangkalan nakal, yang menjual LPG secara langsung kepada konsumen rumah tangga. Padahal, menurut aturan, itu tidak bisa dibenarkan. Sebab pangkalan hanya diperbolehkan menjual kepada pengecer atau warung, yang kemudian disalurkan lagi ke masyarakat.

“Yang lebih parah lagi, ada pangkalan menjual langsung kepada konsumen rumah tangga. Ini tentu pelanggaran, ” lanjutnya.

Atas temuan itu, dinas langsung mendata pangkalan yang melakukan pelanggaran, untuk ditinjau kembali ijin pangkalannya untuk menyalurkan LPG. Penindakan itu, diharap bisa menjaga kestabilan harga di tingkat konsumen.

“Ya, kita sudah data di lapangan ternyata harga jual tabung LPG 3 kilogram cukup tinggi terutama di warung kecil,” katanya.

Menurutnya, bayaknya mata rantai pendistribusian menjadi penyebab tingginya harga LPG. Cara memutusnya, sebut kadis, konsumen diminta membeli langsung ke tempat resmi penjualan gas yang sudah memiliki ijin.

“Kalau mau stabil memang mata rantainya harus diputus, konsumen dapat membeli langsung. Dan jika agen serta pangkalan terbukti menjual eceran akan diambil tindakan tegas,” ujarnya.

Tim Disperindag, katanya, sudah menindaklanjuti informasi tingginya penjualan harga LPG dengan mendata kembali seluruh pangkalan, ternyata di antaranya memiliki izin dan tidak berizin.

Ia pun menegaskan hingga saat ini belum ada perubahan harga LPG 3 kg. Di tinggkat agen, Rp14.000, di tingkat pangkalan Rp15.000, di tingkat pengecer Rp16.400. Namun, dinas masih memberikan toleransi kepada pengecer untuk menjual dengan kelebihan harga, untuk pertimbangan penambahan biaya distribusi, dengan catatan tidak melebihi 10 persen dari HET. (her)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.