oleh

Narapida Dilepas, Lapangan Kerja (Maling) Meluas? Bagaimana Mencegahnya?

Penulis: Nadilla Salma Nuraini

NIM. 1700114

Psikologi UPI

DIBEBASKANNYA narapidana dari penjara pada masa pandemi Covid-19 ini menyebabkan kekhawatirkan di masyarakat akan kasus kejahatan di Indonesia yang kian meluas. Hal tersebut terbukti dengan beredarnya media massa yang memberitakan bahwa semakin maraknya kasus kejahatan saat ini, khususnya kasus pencurian.

Seperti dilansir dari suarajogja.id (12/04/20), ditengah pandemi ini, maling menggondol 4 etalase yang berisi rokok dan sembako serta uang 1 juta di salah satu toko milik warga, bahkan kerugian yang dialami warga tersebut mencapai hingga ratusan juta rupiah. Di Jambi, kasus pencurian serupa juga terjadi, seperti yang dilansir dari kumparan.com (08/04/20), 14 warung di Jambi dirampok maling. Dilansir dari jatimtimes.com (18/05/20), ratusan napi yang dibebaskan di Kota Malang memang didominasi oleh napi kasus pencurian. Kemudian dilansir dari kompas.com (14/04/20), menurut pihak Kemenkumham, tercatat ada belasan napi yang kembali melakukan kejahatan setelah dibebaskan.

Berdasarkan berita-berita tersebut, maka tidak heran jika masyarakat mengkhawatirkan meluasnya kejahatan khususnya berbagai kasus pencurian yang marak terjadi dengan adanya pembebasan napi ini. Mereka mengkhawatirkan keamanan tempat tinggalnya dan beberapa dari mereka yang memiliki usaha juga mengkhawatirkan keamanan dari tempat usahanya. Dilepasnya dari penjara, maling atau narapidana kasus pencurian tersebut mungkin merasa seperti melihat peluang dalam melancarkan aksinya karena banyak tempat usaha dan tempat-tempat lainnya yang ditutup sementara untuk menjalani PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sesuai anjuran dari pemerintah.

Namun, bukan tanpa alasan pula napi-napi tersebut dibebaskan. Kemenkuham membebaskan narapida dari lembaga pemasyarakatan dengan alasan untuk mengurangi penyebaran virus corona. Kemenkumham menerapkan asimilasi dan pembebasan bersyarat sesuai dengan aturan Permenkumham Nomor 10 Tahun 2020 dan Keputusan Menkum HAM nomor 19.PK.01.04 Tahun 2020.  Karena kebijakan tersebut sudah ditetapkan oleh pemerintah, maka yang bisa dilakukan oleh masyarakat saat ini hanyalah mengupayakan pencegahan dari meluasnya kasus kejahatan tersebut.

Pencegahan yang dapat dilakukan salah satunya adalah dengan menanamkan perilaku positif kepada para napi yang dibebaskan. Seperti kegiatan yang dilakukan oleh Polres Salatiga yang dilansir dari kompas.com (15/04/20), warga binaan Polres Salatiga yang mendapat asimilasi karena wabah virus corona diajak melakukan kegiatan positif yaitu bagi-bagi sembako kepada masyarakat sekitar dengan harapan dapat menumbuhkan kepedulian dan menghilangkan niat napi untuk melakukan kriminalitas lagi. Beberapa napi tersebut mengaku senang karena diajak berbuat baik dan ternyata masih dapat diterima dengan baik pula oleh masyarakat. Para napi tersebut berharap semoga dengan melakukan hal baik ini mereka dapat menebus kesalahannya di masa lalu, bahkan mereka juga mengatakan tidak akan mengulangi perbuatannya dan ingin menjadi orang yang lebih baik lagi.

Jika dikaitkan dengan ilmu kriminologi mengenai teori kontrol sosial yang dikemukakan oleh Albert J. Reiss, kemampuan kelompok-kelompok atau lembaga-lembaga sosial untuk membuat norma-norma atau aturan-aturannya dipatuhi dapat membuat seseorang mengurangi tindakan kriminalitas. Cara yang dapat dilakukan agar aturan-aturan tersebut dapat dipatuhi adalah dengan membuat aturan-aturan tersebut seefektif mungkin. Sesuai dengan yang dilakukan oleh Polres Salatiga, mereka membuat aturan efektif dengan mengajak narapidana membagikan sembako. Hal tersebut terbukti membuat beberapa narapidana mengaku ingin menjadi orang yang lebih baik dan tidak ingin melakukan kejahatan lagi. Lingkungan sosial memang dapat menjadi peran penting dalam mempengaruhi tindakan seseorang. Sejalan dengan teori pembelajaran sosial yang berasumsi bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh pengalaman belajar, pengalaman kemasyarakatan disertai nilai-nilai dan pengharapannya. (**)

Sumber:

Jambikita.id. (2020). kumparan.com. https://kumparan.com/jambikita/di-tengah-wabah-corona-14-warung-di-jambi-dirampok-1tBSQJgwauL/full kumparan.com. Diakses tanggal 18 Mei 2020.

Lupito, Ashaq. (2020). jatimtimes.com. https://jatimtimes.com/baca/212513/20200410/175900/didominasi-kasus-pencurian-ratusan-napi-dibebaskan-di-tengah-wabah-covid-19. Diakses tanggal 18 Mei 2020.

Nurhadi, M dan Muhammad Ilham Baktora. (2020). suarajogja.id. https://jogja.suara.com/read/2020/04/12/154347/beraksi-saat-wabah-corona-maling-gondol-4-etalase-ratusan-juta-di-kotagede. Diakses tanggal 18 Mei 2020.

Prabowo, Dani. (2020). kompas.com.  https://nasional.kompas.com/read/2020/04/14/13061471/kemenkumham-13-eks-napi-yang-dibebaskan-kembali-lakukan-kejahatan. Diakses tanggal 18 Mei 2020.

Permana, Dian Ade. (2020). kompas.com. https://regional.kompas.com/read/2020/04/15/12254431/agar-tak-ulangi-kejahatan-napi-yang-bebas-karena-asimilasi-diajak-bagi-bagi. Diakses tanggal 18 Mei 2020.

Santoso, Topo dan Eva Achjani Zulfa. (2019). Kriminologi. Depok: Rajawali Pers.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.