oleh

Orang Tua Siswa Mulai Bereaksi Terhadap Sistem Belajar di Rumah

SUMEDANGEKSPRES.COM – Adanya sistem belajar di rumah yang diterapkan oleh pemerintah, mulai menuai pro dan kontra di kalangan orang tua siswa.

Salah satunya, ada yang menilai dikarenakan tugas terlalu berat kerap dijadikan alasan sejumlah siswa untuk keluar rumah di tengah-tengah ancaman Covid-19 yang kini terus meningkat.

Selain itu, alasan tugas terlalu sulit pun membuat sejumlah siswa kerap meminta izin kepada orang tuanya untuk melakukan kerja kelompok di luar.

Tentu saja, dengan situasi saat ini menimbulkan rasa cemas dari sejumlah orang tua siswa.

Salah seorang guru di SMA Negeri 1 Sumedang Nunung Julaeha, menilai, kondisi tersebut dimungkinkan terjadi karena siswa mengalami kebosanan akibat harus mengisolasi diri di rumah dalam jangka waktu yang panjang.

“Saya memprediksi mungkin siswa mulai jenuh, atau tidak nyaman di rumah. Sehingga mereka keluar rumah untuk janjian bertemu, dengan alasan merasa tidak mampu mengerjakan soal yang telah diberikan oleh sekolah,” ujarnya saat dihubungi Sumeks, Sabtu (28/3).

Jika kesulitan dalam belajar, lanjut Nunung, seharusnya siswa maupun orang tua dapat langsung berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk diberikan arahan.

“Tapi kejadian ini harus diobservasi terlebih dahulu. Jika alasannya demikian, karena tidak mampu mengerjakan, padahal itu bisa dikomunikasikan dengan guru,” terangnya.

Namun demikian, tidak semua orang tua siswa melakukan protes terhadap sistem belajar di rumah secara online.

Salah satu orang tua siswa SMA Negeri 1 Sumedang Enar Herawati menyadari, jika belajar di rumah merupakan alternatif terakhir karena wabah Covid 19 tersebut. Walaupun menurutnya, yang paling bagus adalah belajar di sekolah.

“Menurut saya, mengenai belajar di rumah bukan hanya sekedar berdiam diri di rumah. Tetapi, dengan melakukan berbagai kegiatan yang produktif dan tidak sekedar berleha-leha. Namun bisa melakukan hal-hal yang dirasa bermanfaat untuk pembelajaran yang seharusnya dilakukan di kelas,” terangnya.

Adapun kegiatan yang dapat dilakukan di dalam rumah diantaranya dengan cara belajar melalui internet, live streaming bahkan membuat video pembelajaran yang berhubungan dengan mata pelajaran tertentu.

“Di samping itu juga, kita senantiasa untuk berperan penting dalam pencegahan wabah pandemi covid-19 serta mengikuti aturan lock down dan berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah,” paparnya.

Orang tua lainnya, Popon Nurmayanti menambahkan, sistem belajar di rumah yang telah berjalan hampir 2 pekan tersebut memberikan dampak positif dan negatif bagi anak nya.

“Positifnya, dengan Penyebaran Virus Korona atau Covid-19 yang sangatlah cepat di berbagai belahan Dunia ini khususnya di Indonesia, dapat memutus rantai penyebarannya. Dan ketika anak-anak belajar di rumah, mereka lebih terpantau oleh orang tua,” jelasnya.

Sedangkan pengaruh negatifnya, lanjut Popon, melalui sistem penerapan belajar di rumah tersebut sang anak jadi tidak bisa bersosialisasi seperti biasanya.

“Anak saya jadi tidak bisa kemana mana. Tidak seperti saat bersekolah, anak saya berinteraksi dengan orang banyak disekitarnya,”

“Akan tetapi, saya juga memahami tentang kebijakan pemerintah ini agar senantiasa menjaga masyarakatnya tetap sehat dan tidak terjangkit Virus yang menakutkan ini,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu siswa kelas X SMA Negeri 1 Sumedang, Hana mengaku tidak masalah dengan pola belajar di rumah sesuai dengan yang telah ditentukan oleh pemerintah.

“Sebenarnya tugas-tugas tersebut bila dikerjakan dengan optimal dan bisa mengatur waktu dengan baik, Insya Allah tidak memberatkan,” jawabnya. (Cr1)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed