OTD Harapkan Sarana Umum

DARMARAJA – Warga terkena dampak penggenangan Waduk Jatigede, yang sudah berpindah tempat, saat ini memerlukan sarana dan prasarana umum. Seperti bangunan masjid, sekolah dan pendidikan anak usia dini (PAUD).

Dalam hal ini, masyarakat dari daerah genangan yang sudah pindah ke luar wilayah genangan, sebagian besar pindah secara kelompok. Contohnya warga Desa Cibogo, Kecamatan Darmaraja, kebanyakan berpindah ke Desa Tarunajaya, Kecamatan Situraja dan Desa Jatimekar, Blok Dahong.
Pada dasarnya, masyarakat itu pindah ke tempat yang baru dibuka untuk pemukiman. Seperti Blok Dahong awalnya merupakan kebun yang lumayan jauh dari pemukiman. Bila saat ini jadi pemukiman, jelas sarana umum seperti PAUD dan masjid belum mereka bangun dan jalan pun masih hamparan tanah. Begitu juga dengan wilayah di Tarunajaya, yang ditempati OTD.

“Kita ditempat baru ini memang sangat membutuhkan fasilitas sosial dan umum, karena di tempat dulu kita punya fasilitas itu, maka di tempat baru kami juga harus memilikinya,” harap salah seorang OTD, Dede yang diamini warga lainnya, kemarin (1/11).

Selain itu, banyak wilayah-wilayah baru yang dihuni OTD yang memang harus diperhatikan sarana umumnya. OTD berharap, pembangunan sarana umum harus disegerakan, agar begitu mereka selesai membangun rumahnya, sarana umumnya pun sudah siap. “Nya kedahna mah, dibangun tiayeuna supados teu ngarumas engkena. (Ya baiknya gitu, dibangun mulai sekarang agar tidak kebingungan,” saut warga lainnya.

Oleh sebab itu, pemerintah ditungtut untuk bergerak cepat, agar masyarakat OTD dapat kehidupan yang layak di tempat baru. “Ya lebih jauhnya kita juga minta pemerintah memberikan peluang usaha baru, untuk dijadikan mata pencaharian menghidupi anak dan istri,” ucap Sujana.

Sekarang, yang menjadi pemikiran serius OTD, saat mereka tinggal di tempat baru. Warga seperti hidup mulai dari nol, sebab rutinitas yang mereka jalankan setiap harinya di wilayah genangan, sebagian besar sebagai petani. Namun pada saat mereka berpindah tempat, bukan hanya rumah mereka yang tenggelam, tapi juga penghasilannyapun ikut terancam.

“Sapeceklik kumaha wae oge, abah mah tara kurang pare da gaduh sawah anu bisa diala hasilna tilu kali tina sataun. Tapi ayeuna mah ka keueum, nya abah ge ayeuna mah bingung. (Saat musim paceklik, abah tidak kekurangan padi karena punya sawah yang bisa dipanen tiga kali dalam satu tahun. Tapi sekarang malah tergenang, ya abah juga sekarang bingung,” ucap Arsa, petani genangan. (eri)

Ikuti Kami di Sosial Media:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.