Parkir Semrawut, PAD Minim

Peliput/Editor: asep herdiana-sobar bahtiar/handri s budiman

Parkir Semrawut, PAD Minim

TAK BERATURAN: Lahan parkir liar terus menjamur di setiap pinggir Jalan protokol di Kabupaten Sumedang. (SOBAR BAHTIAR/SUMEKS)

KOTA – Pengamat perkotaan dari Rumah Imperium, Fauzan, menilai parkir liar karena pengendara tak mempunyai pilihan tempat parkir. Keterbatasan lahan, menjadi faktor utama keberadaan parkir liar. Karenanya, penambahan gedung atau sarana parkir merupakan solusi terbaik.

“Bagaimanapun, parkir sembarangan dilakukan karena tidak ada pilihan mau parkir di mana, dan parkirnya juga susah,” ujar Fauzan saat diminta tanggapan terkait maraknya parkir liar, Jumat (16/10).

Selain itu, terbatasnya lahan parkir kerap dimanfaatkan oknum untuk menyediakan lahan yang ada. Ketika ada orang yang menyediakan lahan sekalipun liar, maka praktik parkir liar akan terus merambah. “Kondisi itu terjadi, karena adanya keterpaksaan dan juga pilihan lain tidak ada, itu masalahnya,” terang dia.

Untuk itu, ia mengimbau Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi, harus memasang prioritas angkutan umum yang layak, aman, dan juga nyaman. Menurutnya, adanya layanan angkutan umum seperti itu, para pengendara bisa memiliki pilihan lain, yakni dengan naik angkutan umum.

Ia menilai, sampai saat ini tidak ada usaha kongkrit dari pemerintah, melakukan penertiban. Dalam hal penertiban, ia menilai, yang penting konsistensi. “Kalau konsistensi ditegakkan, nantinya akan memberikan efek jera. Saya kira, konsistensi itu jadi sebuah pilihan.

Persoalannya, mau atau tidak dijalankan secara terus menerus,” ujarnya.
Selama ini, lanjutnya, alasan yang selalu dikemukakan Pemkab terkait penerapan peraturan, adalah minimnya personel. Menurutnya, alasan tersebut tak dapat digunakan lagi. “Personel juga harus terus ditambah. Bisa juga mungkin meminta bantuan Satpol PP untuk menjaga,” ujarnya.

Ia menyatakan, Pemkab harus menambah lahan parkir di beberapa tempat. Sebab, sampai saat ini, lahan parkir di Sumedang sangat minim, sedangkan pertumbuhan kendaraan terus meningkat.

Menanggapi semrawutnya lahan parkir, Anggota DPRD Sumedang, Ermi Triaji menyebut, berdampak pula pada pendapatan asli dearah (PAD). Hal tersebut bisa dibilang ganjil mengingat banyaknya titik lahan parkir dan volume kendaraan yang relatif meningkat di tiap tahunnya, namun tidak sebanding dengan pemasukanya kepada anggaran daerah.

Ermi menilai, pemetaan lahan parkir di Sumedang belum menemukan data yang pasti. “Kami di DPRD, khususnya ketika membahas anggaran tentang tarif parkir dan pendapatan retribusi di parkiran umum, selalu kesulitan. Karena, Dishub tidak pernah memberikan data dimana saja titik-titik parkir di Kabupaten Sumedang. Katanya ada 55 titik, tapi tidak pernah memberikan data yang formal kepada kita,” katanya.

Ia pun berharap, Dishub meminimalisir kebocoran pendapatan retribusi parkir yang dinilai tidak seimbang dengan jumlah titik parkir dan volume kendaraan. Bahkan, jika harus melihat kepada aturan daerah mengenai tarif retribusi parkir, jumlah yang harus dikeluarkan masyarakat tidak sesuai dengan aturan yang ada, yakni Rp 1000 untuk kendaraan roda empat dan Rp 500 untuk kendaraan roda dua. “Nyatanya kan lebih mahal di lapangan,” tuturnya. her/bay)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.