Pasar Tanjungsari Digugat Warga

Pasar Tanjungsari Digugat Warga

BERJUBEL: Sejumlah pedagang dan pembeli berjubel di Pasar Tanjungsari, belum lama ini. (ASEP HERDIANA/SUMEKS)

Peliput/Editor: asep herdiana/iman nurman

KOTA- Pemerintah Kabupaten Sumedang digugat oleh pihak yang mengaku ahli waris dari pemilik lahan, yang saat ini menjadi Pasar Tanjungsari. Ahli waris dari keluarga Winata Prawira alias Rd. Mohamad Isak alias Mas Winata Prawira sebagai pemilik lahan, mempertanyakan hak kepemilikan tanah yang saat ini digunakan oleh pemeritah daerah menjadi pasar Tanjungsari seluas 14.000 meter persegi dari total luas tanah.

Sebab pihaknya mengklaim bahwa sampai saat ini, tidak pernah merasa menjual tanah di lokasi tersebut kepada siapapun.

“Kami mengajukan permohonan tuntutan ganti rugi kepada pemerintah Kabupaten Sumedang atas pemakaian tanah seluas 14.000 meter, yang saat ini digunakan sebagai Pasar Tanjungsari dan dapat dibayar sesuai dengan harga pasar sekarang,” ujar Endang, yang mengaku ahli waris.

Terkait sengketa itu, Badan Pertanahan Nasional (BPN ) Kabupaten Sumedang membenarkan, bahwa ada lahan salah seorang warga atas nama Winata Prawira di lahan yang saat ini menjadi pasar Tanjungsari. Hal ini, dibuktikan dengan adanya catatan serta dokumen berupa kartu agraris igendom.

“Ini adalah surat ukur tahun 1923 atas nama Mas Winata Prawira dan kartu agraris igendom-nya masih ada dan asli atas nama Rd. Winata Prawira seluas 103.465 meter persegi tertanggal 16 Oktober 1925. Hanya saja belum mengalami perubahan serta diperbaharui statusnya menjadi tanah milik,” terang Perwakilan pihak BPN, Mariman sembari menunjukan kartu dan surat ukur tersebut.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sumedang, melalui Sekretaris Daerah, Zaenal Alimin sudah memerintahkan timnya, yang terdiri dari beberapa pihak diantaranya, Kabag Tapem Deni Tanrus, Kabag Hukum Ujang Sutisna, unsur BPKA, Diskop UKM Perindag untuk mengumpulkan dan menginventarisir semua data yang detail dan akurat dari semua pihak terkait status tanah pasar Tanjungsari.

Termasuk memerintahkan bagian tata pemerintahan untuk mengagendakan pertemuan dengan pihak ahli waris.

“Saya sudah perintahkan tim untuk mengumpulkan data akurat dalam penyelesaian sengketa ini,” terangnya saat dikonfirmasi.

Pihak ahli waris, sebelumnya pernah memperjuangkan status kepemilikan tanah tersebut melalui pengadilan. Namun gugur karena tidak jelasnya batas-batas dan susunan ahli waris yang tidak komplit. Selain menggugat lahan pasar seluas 14.000 meter persegi, para ahli waris juga berencana akan menggugat kepemilikan sisa lahan yang ada. (her)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.