Patambon, Wisata Alam yang Terlupakan

Patambon, Wisata Alam yang Terlupakan

KUMPUL BERSAMA: Sejumlah warga berwisata alam di Buper Patambon Desa/Kecamatan Cimanggung, kemarin (7/2).(IMAN NURMAN/SUMEKS)

PEWARTA: IMAN NURMAN/SUMEKS

**Belum Dilirik Pemerintah dan Investor

CIMANGGUNG – Kawasan Patambon di Dusun Batunangtung Desa/Kecamatan Cimanggung, memiliki potensi alam yang baik. Seperti camping ground, outbound dan lahan penanaman serta konservasi hutan.

Dengan tanaman pohon pinus sebagai komiditi utama dan beberapa pohon mahoni sebagai pelengkap, Kawasan Wisata Alam Patambon, mampu bersaing dengan kawasan wisata alam lainnya di Sumedang.

Apalagi jalan menuju akses Patambon, sudah dilebarkan sehingga masuk kendaraan roda empat. Kemudian di sekelilingnya, ada aliran air yang jernih yang belum tercemar limbah.

“Kawasan Wisata Patambon sebetulnya sudah lama dibuka dan itu memang lahan hutan, namun memiliki potensi wisata alam yang baik. Sayangnya pemerintah maupun investor belum melirik kawasan itu,” kata Agus Surahman salah seorang tokoh masyarakat Desa Cimanggung, kemarin (7/2).

Menurut Agus, Kawasan Patambon berada di Kaki Gunung Kareumbi atau 6 kilometer dari kantor desa. Atau 10 kilometer dari Kantor Kecamatan Cimanggung. Kawasan Patambon berbatasan dengan Desa Tegalmanggung dan Sumedang Selatan.

“Kalau diakses oleh motor lebih mudah. Tapi sekarang juga bisa diakses oleh kendaraan roda empat,” tuturnya.

Agus berharap, sebelum digarap oleh pemerintah atau investor, baiknya warga tidak membuang sampah plastik ke hutan dan tidak menebang kayu sembarangan.

Menurut Agus, di blok ini ada tempat yang nyaman sebagai tempat untuk kemping (camping ground). Lahan terbuka yang datar dengan lokasi yang bisa ditempuh hanya 30 menit berjalan kaki dari pemukiman penduduk paling akhir, di Kampung Batu Nangtung Desa Cimanggung.

“Ini potensi bagi warga Cimanggung dan harus dipertahankan kelestariannya. Mudah-mudahan kedepannya Patambon jadi taman hutan rakyat atau wisata alam,” harapnya.

Sejarah Patambon, kata Dekki, menurut sejumlah tokoh masyarakat di Cimanggung menyebutnya Patamon (tanpa hurup b) yang dalam bahasa Sunda serupa dengan patemon atau (tempat) pertemuan. Konon, lokasi ini menjadi tempat beristirahat rombongan Pangeran Kornel, Bupati Sumedang Tahun 1791-1828 jika selesai berburu di pengunungan Kareumbi.

Lahan seluas sekitar dua hektar ini masuk ke dalam pengelolaan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Di sebelah timur, ada sungai berair jernih dengan lokasi yang mudah dijangkau. Tak sedikit warga dan pegiat olahraga alam bebas berkemah di tempat ini.

Perjalanan menuju ke tempat ini dihiasi dengan sawah-sawah di kiri-kanan jalan setapak. Sebagiannya kebun palawija, dan rumpun-rumpun bambu. “Namun, kesadaran orang yang berkunjung dan berkemah ke tempat ini untuk menjaga kebersihan dan keasrian masih kurang, dan pengawasan dari BKSDA juga kurang,” katanya. (imn)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.