oleh

PBB Menegaskan Covid-19 Bukan Aib, Jangan Ada Pengucilan

SUMEDANGEKSPRES.COM, Jakarta – Pandemi Virus Korona yang telah terjadi beberapa waktu lalu, menimbulkan dampak sosial yang mendalam.

Seseorang yang terpapar oleh wabah asal Wuhan, China tersebut, kini ramai-ramai dikucilkan.

Dikutip dari FIN.CO.ID (Group SumedangEkspres.com), spesialis Perlindungan Anak Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ali Aulia Ramly menegaskan tidak boleh ada pengucilan. Sebab, COVID-19, bukan sebuah aib.

“Jangan ada pengucilan sosial terhadap anak dan keluarganya karena penularan virus korona. Dengan protokol pelindungan anak lintas sektor dalam penanganan COVID-19, diharapkan tidak ada stigma dan pengucilan sosial terhadap anak dan keluarganya,” tegas Ali Aulia di Jakarta, kemarin.

Di beberapa wilayah, tidak sedikit warga yang menjadi korban stigmatisasi. Ada perawat di Jakarta yang diusir dari tempat kos. Alasannya, perawat tersebut diketahui bekerja di rumah sakit yang sedang merawat pasien COVID-19. Tak hanya itu. Warga juga ramai-ramai menolak pemakaman jenazah yang terpapar korona.

Menurutnya, protokol itu akan menjadi panduan lintas kementerian/lembaga, organisasi pemerintah daerah, serta penyedia layanan dari lembaga nonpemerintah, lembaga keagamaan, dan kelompok masyarakat. Protokol tersebut untuk memastikan upaya terkoordinasi dan lintas sektor terkait pencegahan atau mengurangi keterpisahan anak dari orang tua, pengasuh atau keluarga, dan berbagai risiko pelindungan anak lainnya.

“Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sudah bekerja sama dengan UNICEF, lembaga terkait, dan organisasi masyarakat sedang menyusun protokol ini. Di luar persoalan medis, pandemi COVID-19 juga meningkatkan risiko kekerasan serta tekanan terhadap kesehatan jiwa anak,” imbuh Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Nahar.

Presiden Joko Widodo berkomunikasi dengan Presiden Cina Xi Jinping. Melalui sambungan telepon, dua kepala negara itu membagi pengalaman negaranya mengatasi pandemi COVID-19. “Terima kasih telah berbagi pengalaman,” kata Jokowi kepada Presiden Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Xi Jinping.

Dalam perbincangan tersebut, keduanya membahas soal penanganan pandemik COVID-19. Jokowi menyebut penyebaran korona tidak mengenal batas negara. Larena itu, dibutuhkan kerjasama menangani penyebaran virus ini. “Saya tidak setuju terhadap munculnya stigmatisasi. Upaya stigmatisasi ini tidak bermanfaat di tengah situasi yang sulit seperti ini,” tegas Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat (3/4).

Sementara, Xi Jinping menyampaikan rasa prihatin atas wabah COVID-19 yang melanda Indonesia. Dia berbagi pengalaman negaranya dalam melawan COVID-19. Menurut Jokowi, Xi Jinping siap mendukung upaya Indonesia melawan COVID-19.

Sebagai negara yang pertama kali terimbas wabah COVID-19, Tiongkok telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran wabah COVID-19. Xi Jinping juga menyampaikan Tiongkok siap melakukan kerja sama dengan berbagai negara. “Indonesia akan menjadi salah satu prioritas kerja sama mengatasi COVID-19,” paparnya. (rh/fin/smks)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed