oleh

PDPM Nilai POP Tak Tepat Sasaran dan Bermasalah

SUMEDANGEKSPRES.COM – Ketua PDPM Kabupaten Sumedang, Dodi Partawijaya menanggapi Program Organisasi Penggerak (POP) yang digulirkan Kemendikbud. Menurutnya, program itu tidak tepat sasaran dan bermasalah. Menteri Pendidikan Nadiem, kata dia, kurang terampil dalam menelaah sejarah panjang pendidikan di Indonesia.

Pasalnya, POP Kemendikbud yang menjadi program unggulan, justru melibatkan lembaga yang berafiliasi dengan korporasi besar. “Gotong royong kok bareng konglomerasi, itu jelas bukan kolaborasi tapi investasi,” ujar Dodi kepada Sumedang Ekspres, Selasa (28/7).

Dirinya menengarai ada kepentingan terselubung yang justru menjauh dari gagasan Nadiem tentang ‘Merdeka Belajar’. Ditegaskan dia, dunia pendidikan Indonesia harus bebas dari kepentingan titipan atau kepentingan tertentu.

Apalagi, mundurnya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang telah memberikan kontribusi pendidikan jauh sebelum Indonesia merdeka, telah menyatakan mundur dari program tersebut. “Ia malah memilih rekan gotong royong yang rekam jejaknya di bidang pendidikan jauh di bawah dua ormas, NU dan Muhammadiyah,” tegasnya.

Disebutkan, kolaborasi itu untuk kebaikan. Bukan sebaliknya malah menggandeng korporasi yang baru muncul dan memiliki rekam jejak baru di bidang pendidikan. Selaras dengan Dikdasment, PP Muhammadiyah sepakat dan melakukan langkah terbaik untuk tidak melanjutkan dan memutuskan untuk tidak bergabung di program yang menuai polemik itu.

Walaupun Pak Nadiem Makarim tempo hari telah meminta maaf dan meminta Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama bergabung ke POP. “Keputusan ini ditegaskan Wakil Ketua Bidang Kerja Sama Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah Kasiyarno, Rabu (29/7). ‘Muhammadiyah tetap tidak boleh ikut. Apalagi Menteri (Mendikbud) sudah membuat izin meminta maaf kepada Muhammadiyah, NU dan PGRI’,” katanya. (atp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 komentar

News Feed