Pelaku Industri Kreatif Desa Cipacing Kurang Perhatian Pemerintah

Pelaku Industri Kreatif Desa Cipacing  Kurang Perhatian Pemerintah

PASANG KARET: Eman Khoeruman saat memasang karet ke kerangka kursi di mebeulnya Dusun Sukamulya Desa Cipacing, kemarin. (IMAN NURMAN/JATEK)

Peliput/Editor: iman nurman

Kawasan Cipacing tidak hanya terkenal dengan sentra pembuatan senapan angin. Namun, daerah ini pun pencetak tangan-tangan terampil terutama dalam bidang industri kreatif dan handycraf (kerajinan tangan). Seperti kisah para pembuat kursi sofa di Dusun Babakan Sukamulya Desa Cipacing. Berikut catatannya.

Bagi Anda yang kerap melintas di Jalan Raya Bandung-Garut tentu sudah tahu kawasan Cipacing yang hanya beberapa meter dari pintu keluar Tol Cileunyi. Daerah yang terletak di perbatasan Kabupaten Bandung dan Sumedang ini memang banyak menyimpan potensi terutama dalam bidang industri kreatif. Desa yang jumlah penduduknya terbanyak ini memang paling terkenal di antara desa-desa lain di Kecamatan Jatinangor.

Betapa tidak, di desa ini banyak tersimpan potensi dan tangan-tangan cekatan warganya dalam bidang otak-atik tangan. Kepiawaian tangan warga Cipacing ini, diaplikasikan dalam berbagai hal. Mulai pembuatan senapan angin, lukisan, wayang golek, zimbeh, kursi dari rotan, hingga barang-barang perabotan rumah tangga, seperti kursi sofa, lemari, tempat tidur, dan lain-lain.

Tak tanggung-tanggung, hasil olahan tangan-tangan kreatif ini mampu menembus pasar nasional bahkan mancanegara. Sebut saja senapan angin Cipacing dan hiasan panah dan alat musik zimbeh. Produk-produk ini sudah melanglang buana ke mancanegara sejak zaman dahulu. Bahkan, sampai sekarang pangsa pasarnya daerah Bali dan Jakarta.

Dari sekian banyaknya produk Cipacing, satu yang perlu dilirik yakni para perajin kursi sofa. Sebab, mereka dinilai kurang terkenal dari pada produk-produk lain. Padahal, kursi sofa buatan Cipacing sama-sama meramaikan pasar mebeul di kawasan Bandung Timur dan Sumedang bagian barat. Betapa tidak, beberapa toko mebeul di daerah Bandung, Padalarang, Kabupaten Bandung bagian timur, Garut, Sumedang hingga Jawa Tengah barangnya disuplai dari Cipacing.

Salah satunya produk buatan Eman Khoeruman (43). Pria asli Dusun Babakan Sukamulya Cipacing ini memang sudah lama menggeluti usaha kursi sofa itu. Dari mulai menjadi kuli meubeul, hingga pengusaha meubel. Bahkan, kini dia sudah memiliki pabrik pembuatan kursi sendiri termasuk mobil operasionalnya.

Tentu saja, kesuksesan Eman tidak diraih dengan mudah. Halang melintang dan kendala kerap datang menghampirinya. Namun, berkat pengalamannya dan keuletannya dalam berbisnis kursi membuatnya bisa bertahan sampai sekarang. Bahkan, kini dia sudah dikaruniai empat orang anak yang sama-sama membantu pekerjaannya.

Awalnya, dia hanya kuli serabutan yang tak memiliki penghasilan tetap. Sejak tahun 1990 ia mulai terjun ke dunia permebelan. Pertama bekerja, dia menjadi kuli di salah satu pabrik kursi di Cipacing. Dia hanya kuli karet atau memasang karet di kursi. Dengan upah yang tidak begitu menggiurkan, Eman masih tetap bertahan.

Pengalaman menjadi pekerja di perusahaan orang lain pun dirasakannya pahit dan manisnya. Namun, katanya, dia lebih sering merasakan pahit karena upah yang tidak sebanding dengan pekerjaan.

Lima tahun pengalaman bekerja di meubeul, pada tahun 1995 dia membuka usaha sendiri. Dengan modal Rp1,5 juta dia bisa membuka bengkel (pabrik) kursi meski dengan ruangan pas-pasan. Tahun demi tahun dia jalani bersama anak pertamanya. Berkat pengalaman dan kepiawannya melobi konsumen, usahanya mulai bangkit sedikit demi sedkit.

Produk kursinya dia pasarkan ke beberapa toko di Cicalengka Kabupaten Bandung. Meski menggunakan mobil sewaan, dia bersama anaknya tetap semangat memasarkan hasil jerit payahnya. Zaman krisis moneterpun ia lewati dengan santai. Bahkan, pada tahun 1997-1998 ketika puncak krisis moneter, justru kursinya semakin ramai dipesan orang.

Hingga produknya sampai ke Jawa Tengah dan daerah-daerah Bandung Raya. Kesempatan itu pun ia manfaatkan dengan membeli peralatan membuat kursi yang canggih. Seperti mesin compresor pematik hekter atau alat penempel kain ke kayu kursi, dan beberapa mesin jahit untuk menjahit kain atau kulit pada kursi.

Tahun demi tahun dia lewati, hingga dia sudah memiliki tempat yang lumayan luas dengan status milik sendiri. Kondisi ini pun menjadi kekuatan dalam bisnisnya. Namun sayang, dia masih perlu mobil untuk alat transfortasi kursinya ke toko-toko.

Karena tidak ada bimbingan dan pengarahan dari pemerintah, ia pun mengaku kesulitan dalam memasarkan barangnya. Sistem dor to dor menjadi pilihan taktik pemasarannya. Namun, berkat pengalamannya, dia mampu menyuplai beberapa set kursi ke beberapa toko di Bandung, garut dan Sumedang.

“Istilahnya saya itu otodidak, gak tahu cara pemasaran seperti apa. Bahkan bimbingan dari pemerintah pun sampai sekarang belum pernah ada. Jadi, mengandalkan naluri berdagang saya dengan cara dor tu dor,” kata Eman Khoeruman kepada Jateks, kemarin.

Pria yang juga menjabat sebagai ketua RT 01 RW 06 Dusun Babakan Sukamulya ini pun terus menambahn ekpansi ke beberapa daerah di Lembang, Garut, Cilacap, dan Sumedang. Bahkan, katanya sekarang omsetnya sudah mencapai Rp10 juta per minggu.

Sembilan bulan kebelakang pun dia bisa membeli mobil pick up sendiri untuk operasional kendaraan. Sambil tertawa renyah dan senyum penuh kebanggaan, dia pun banyak berterimakasih kepada nak-anaknya yang senantiasa membantu pekerjanya. Begitu pun sang istri yang tak henti-hentinya mendukung dan memberi motivasinya.

“Kisah perjalanan saya memang cukup mengharukan. Alhamdulilah sekarang sudah mulai memetik kebahagiaan hasil jerit payah saya. Kini anak-anak saya bisa bersekolah dan memiliki kendaraan sendiri,” katanya.

Dia pun memberi pesan moral dan pendidikan kepada anak-anaknya. Sebab, selama sekolah anaknya membantu pekerjaanya di mebeul. Ketiga anaknya (kecuali si bungsu) membantu meringankan bebannya. Alhasil, kini anak-anaknya bisa mandiri dan bisa mendapatkan penghasilan tanpa meminta ke ayahnya.

Disinggung menganai harga jual, dirinya tidak mematok harga juga kursi yang mahal. Sebab, pangsa pasarnya kelas menengah ke bawah. Dia hanya menyuplai ke toko dengan harga dikisaran Rp1,2 juta sampai Rp4 juta. Hal lain yang membedakannya kursi buatannya bisa dipesan dengan model, bahan, harga, dan kualitas sesuai keinginan konsumen.

“Bagi warga yang hendak membeli langsung bisa datang ke pabrik (rumah saya) di Dusun Babakan Sukamulya RT 01 RW 06 pinggir PT Polifin Canggih. Bedanya konsumen datang secara langsung akan mendapatkan harga murah ketimbang membeli di toko,” katanya. (*)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.