Penggenangan Ciptakan Pengangguran

SUMEDANG – Berbagai macam sisi positif dari adanya Waduk Jatigede, saat ini masih hanya menjadi perbincangan dan potensi belaka. Masyarakat di area Waduk Jatigede masih belum sepenuhnya merasakan dampak positif yang berkelanjutan dari pembangunan waduk ini.

Terlepas, dari berbagai isu mengenai orang terkena dampak akibat pembangunan Waduk Jatigede ini. Nampaknya menuntut pihak yang bertanggung jawab.

Bukan satu-satunya solusi untuk mengentaskan berbagai keluhan dari masyarakat setempat. Hal itu disampaikan Presiden Lembaga Kajian Garuda Institute Ricky Alamsyah.

Menurutnya, walau memang perlu dilakukan bantuan dalam ranah pengadvokasian terutama terkait ganti rugi, tapi sebenarnya jika ditelik lebih dalam hal itu hanya akan menjadi solusi sesaat.

Namun hal yang perlu dipikirkan bersama adalah bagaimana mengelola paradigma masyarakat bahwa area Waduk Jatigede ini merupakan aset yang besar bagi Sumedang. Khususnya untuk keberlangsungan kehidupan masyarakat setempat agar lebih baik.

“Visi bersama terkait bagaimana area Waduk Jatigede ini kedepannya perlu secara tegas disampaikan oleh Pemerintah Sumedang agar menjadi pikiran bersama seluruh warga Sumedang,” kata Ricky yang juga aktif di Forum Sumedang Muda ini.

Dia mengungkapkan, berdasarkan hasil riset lapangan yang dilakukan oleh tim SUMEDANGinMOVE! beberapa waktu lalu yang kemudian diolah oleh Garuda Institute, dihasilkan data-data yang cukup memprihatinkan terkait keadaan masyarakat di area Waduk Jatigede. Khususnya Dusun Cisema Desa Pakualam Kecamatan Darmaraja.

Tingkat pendidikan warga hampir 40 persen adalah sekolah dasar dengan presentase usia produktif yang cukup besar yakni hampir 50 persen. Namun siapa yang menyangka bahwa tingkat pengangguran saat ini mencapai hampir 50 persen.

“Hal ini merupakan salah satu permasalahan yang amat serius dan tidak wajar. Jika terus dibiarkan maka akan berakibat fatal bagi keberlangsungan hidup masyarakat setempat, umumnya terhadap arah pembangunan Sumedang,” lanjutnya.

Dengan membandingkan pada keadaan sebelum adanya Waduk Jatigede, hampir 80 persen masyarakat bermata pencaharian sebagai petani dengan tingkat pengangguran kurang dari 5 persen.

“Kita dapat menarik simpulan sederhana bahwa tingginya tingkat pengangguran saat ini diakibatkan oleh terbatasnya keahlian masyarakat. Ini dapat menjadi salah satu aspek dalam upaya pengentasan isu-isu orang terkena dampak di area Waduk Jatigede,” tuturnya.

Merujuk pada data yang lainnya, tingkat keinginan atau peminatan masyarakat dalam rangka meningkatkan keahlian dan kapasitas mereka secara berturut-turut adalah 55,56 persen berminat di sektor pertanian, peternakan, perikanan, 31,75 persen di sektor kewirausahaan, dan 12,7 persen di sektor kerajinan menjahit.

“Pilihan peminatan ini dapat menjadi referensi ruang lingkup bagi Pemerintah Daerah Sumedang atau lembaga swasta lainnya yang hendak mengadakan pelatihan atau peningkatan kapasitas warga. Sehingga pada nantinya mampu mengurangi tingkat pengangguran di area Waduk Jatigede,” terangnya.

Gerakan yang saat ini sedang mencoba menggarap salah satu dusun di area Waduk Jatigede, yakni SUMEDANGinMOVE! dengan gagasan Kampung Buricak Burinongnya merupakan salah satu solusi yang dibutuhkan Sumedang saat ini. Sebuah visi besar yang dibalut dengan inovasi. Tak tanggung-tanggung, Kampung Buricak Burinong berkeinginan menjadi salah satu destinasi wisata selfie kelas dunia.

Semangat anak muda yang tinggi, generasi dewasa yang partisipatif, dan pelibatan masyarakat setempat dalam setiap prosesnya menjadi ruh dalam setiap aktivitas untuk mewujudkan Kampung Buricak Burinong. Tim SUMEDANGinMOVE! juga melakukan survey terkait kesediaan masyarakat untuk menjadikan Dusun Cisema sebagai destinasi pariwisata dan mengikuti pelatihan pariwisata, diatas 90 persen menyatakan kesediannya untuk terlibat.

“Dari data ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa secara sadar masyarakat memiliki keinginan untuk merubah diri dan menyesuaikan dengan keadaan saat ini serta kebutuhan kedepannya. Hal ini merupakan perilaku yang positif dan patut untuk dikembangkan,” tuturnya.

“Advokasi penuntutan ganti rugi bukan satu-satunya hal yang bisa dan ingin dilakukan masyarakat di area Waduk Jatigede, namun justru keinginan untuk berkembang dan bertahan sesuai tuntutan zamanlah yang perlu terus dikembangkan dan difasilitasi.” tukasnya. (her)

Ikuti Kami di Sosial Media:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.