Pengolahan Jagung di Cibugel Belum Maksimal

Pengolahan Jagung di Cibugel Belum Maksimal

JEMUR JAGUNG: Masyarakat menjemur jagung secara tradisional dipinggir jalan. Produksi Jagung dari Cibugel tinggi namun belum menjadi mata pencaharian utama.(HERI PURNAMA/SUMEKS)

PEWARTA: HERI PURNAMA/SUMEKS

CIBUGEL – Kecamatan Cibugel yang merupakan sentral jagung, seharusnya menjadi peluang besar untuk masyarakat meningkatkan perekonomiannya melalui berkebun jagung. Namun hal itu, masih belum bisa dijadikan sumber mata pencaharian yang sifatnya jangka panjang dan berkesinambungan.

Sebab, sebagian keuntungan yang dihasilkan para petani, harus digondol oleh tengkulak yang sudah memberikan modal kepada para petani.

Dalam hal ini, Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Cibugel, Ir Dadang Sundara menilai, kondisi petani dari segi kesejahtraan memang masih banyak yang jauh dari ideal. Hal itu, memang harus jadi pemikiran semua pihak.

“Cibugel memang jadi sentral jagung, namun untuk saat ini petani hanya bisa menjual jagung dalam bentuk seutuhnya kepada tengkulak. Pantas saja kalau keuntungan yang didapatkan akan minim,” ucapnya, kemarin (13/3).

Dia menerangkan, dari 2.599 hektare perkebunan jagung yang ada di Kecamatan Cibugel, itu bisa menghasilkan jagung sebanyak 17.943 ton permusimnya. Menurutnya, angka penghasilan jagung di Cibugel cukup banyak.

Jika saja jumlah tersebut bisa dikelola di Kecamatan Cibugel menjadi sebuah pakan ternak atau bahkan menjadi bahan baku kuliner khas Cibugel, maka keuntungan dari jagung itu sendiri akan lebih besar. Bahkan saat ada pabrik yang mengolah jagung tersebut di wilayah Cibugel, setidaknya akan membuka lapangan pekerjaan juga buat masyarakat.

“Kalau ada pabrik yang mengolah jagung di Cibugel, ribuan ton jagung yang dihasilkan tidak harus dijual keluar,” tuturnya.

Sekcam menyebutkan, untuk saat ini sebenarnya sudah ada olahan makanan yang bahan bakunya jagung, seperti dodol jagung dan sale jagung. Namun jenis olahan itu, tidak dikenal dan belum bisa jadi produk yang menghasilkan finansial.

“Dodol dan sale sebenarnya punya potensi, tapi karena tidak banyak orang yang tahu, keberadaannya jadi konsumsi masyarakat sekitar saja,” tukasnya. (eri)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.