Pengusaha Nakal Merajalela

Peliput/Editor: ASEP HERDIANA

Pengusaha Nakal Merajalela

PERSIAPAN: Gapensi Sumedang foto bersama usai persiapan untuk menggelar Muscab ke X di Sekretariat Gapensi, beberapa waktu lalu. (DOK.ASEP HERDIANA/SUMEKS)

Lemahnya Punishment dan Rewards

KOTA – Banyaknya pelaku usaha yang tersangkut kasus hokum, membuat prihatin pelaku usaha kontruksi yang tergabung dalam Gabungan Pelaksana Kontruksi Nasional Indonesia (Gapensi) BPC Sumedang.

Minimnya sanksi adminustratif atau kelembagaan, membuat para pelaku usaha nakal tidak jera dalam melakukan penyimpangan.

Menurut Ketua Gapensi Sumedang Ade Rully Krisna Peryoga mengatakan, tak hentinya pelaku pelaksana kontruksi yang tersangkut masalah hukum dalam praktik usahanya bermitra dengan pemerintah. Salah satu penyebabnya, minimnya punishment yang diberikan pemerintah.

“Jadi, rewards and punishments-nya yang kurang. Jadi hal ini membuat para pengusaha nakal tidak jera dan terus selalu mencari celah untuk bermain nakal,” ujar Ade Rully saat diwawancara pada kegiatan Muscab BPC Gapensi Sumedang, kemarin (4/10).

Rully mengatakan, punishment dalam hal ini adalah hukuman atau sanksi dari pemerintah yang sifatnya di luar hukuman pidana. Misalnya, adanya sistem blacklist oleh pemerintah bagi pelaku usaha yang terbukti secara hukum bersalah melakukan penyimpangan hukum dalam praktek usahanya. Namun hal ini juga, harus dibarengi dengan adanya reward bagi pengusaha yang bereputasi baik. Sehingga, layak mendapatkan penghargaan bagi pelaku usahanya.

“Kalau hanya dihukum satu atau sampai tiga tahun, kemudian setelah keluar mereka bermain lagi dan tersangkut kasus lagi. Yang merugi kan masyarakat, sebagai penerima manfaat dari program pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Begitupun jika ada pengusaha yang good reputation, pemerintah harus pro aktif memberikan apreasiasi agar pelaku usaha termotivasi,” katanya.

Dia mencontohkan, seorang pelaku usaha yang di tahun ini ada banyak temuan pekerjaan oleh lembaga pemeriksa, di tahun berikutnya masih saja terjadi banyak temuan. Ini mengindikasikan, bahwa pelaku udaha tersebut tidak jera, karena lemahnya punishment. Di samping itu, penyuluhan dan pembinaan yang dilakukan saat ini seakan tidak berrati.

Ade Rully menandaskan, jiga sistemnya masih seperti ini, dihawatirkan akan terjadi persaingan yang tidak sehat yang akan merugikan banyak pihak, terutama masyarakat. (her)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.