Perceraian Jadi Penyebab

Perceraian Jadi Penyebab

BERISTIRAHAT: Kabid Tibumtranmas Satpol PP Kabupaten Sumedang Engkos Koswara diwawancarai ketika beristirahat di kantornya.(IIS SULASTRI/SUMEKS)

PEWARTA: IIS SULASTRI/IGUN/SUMEKS

KABUPATEN Sumedang menjadi tempat transit anak jalanan (anjal) dan anak punk sehingga terkadang meresahkan masyarakat. Keresahan tersebut berasal dari banyaknya mereka dalam bentuk gerombolan, tampilan saat mengamen yang terkadang mengancam, dan mengganggu angkutan umum yang beroperasi.

”Berdasarkan temuan dari hasil patroli yang selama ini dilakukan dengan memberi arahan serta pembinaan. Anak punk itu ada karena beberapa penyebab di antaranya broken home (perceraian orang tua), ada yang menjadi gaya hidup, dan anak yang putus sekolah,” ungkap Engkos Koswara SSos Msi Kabid Tibumtranmas (Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat) Satpol PP Kabupaten Sumedang pada Sumeks ketika diwawancarai beberapa waktu lalu.

Menurutnya kehadiran anak punk di Sumedang kebanyakan berasal dari anak-anak yang memiliki permasalahan dalam keluarganya sehingga membutuhkan pelarian. Engkos pun menyebutkan kehadiran anak punk dikhawatirkan membuat onar atau mengganggu ketertiban, membahayakan dirinya sendiri, dan melakukan kriminalitas.

”Kami itu seringnya melakukan penertiban terhadap anak punk karena adanya laporan dari masyarakat dan memang sedang bertugas untuk berpatroli. Laporan masyarakat itu ada yang melihat gerombolan di perempatan atau lampu stopan,” ujarnya.

Kemudian Engkos menambahkan ada pula aduan dari pedagang yang ketakutan karena anak punk mencari uang dengan mengamen dan terkadang mengancam dengan senjata tajam pada para pedagang tersebut.

”Ada juga sopir angkot yang mengadukan karena merasa terganggu dengan penumpang yang ketakutan bahkan tidak jadi naik angkutannya,” tambahnya.

Diakuinya anak punk kebanyakan bukan orang Sumedang tetapi mereka dari luar Kabupaten yang transit karena tidak sampai ke tempat tujuan. ”Anak punk itu biasanya transit di Sumedang untuk mencari makan dengan ngamen dan menggelandang. Kebanyakan dari luar Kabupaten Sumedang seperti anak dari Majalengka yang  ingin ke Bandung tapi tidak sampai makanya menggelandang di Sumedang,” jelas Engkos.

Engkos memaparkan bahwa anak punk terkadang berbaur dengan para suporter bola. ”Kalau suporter bola itu kan jelas tujuannya untuk menonton. Sedangkan anak punk ini kan kadang tidak jelas dan tidak ada tujuannya mereka berkelompok itu,” sebutnya.

Anak punk itu ada yang menggelandang karena putus sekolah dan ada yang terbawa pergaulan sehingga keluar dari sekolah. ”Lalu tanpa arah tujuan mereka berkelompok,” tuturnya.

Engkos memaparkan beberapa tindakan yang dilakukan ketika menertibkan, membina, dan mengarahkan anak punk tersebut. ”Kegiatan yang kami lakukan itu, pertama dicukur dulu rambut mereka yang memberi kesan menakutkan, kedua mereka diarahkan untuk mandi ramai-ramai karena terkadang bau badan mereka sangat mengganggu maka kita sediakan sabun, sampo, dan lainnya,” papar Engkos.

Masih dalam penjelasannya setelah anak punk mandi mereka juga diberi makan jika dalam kondisi lapar. ”Setelah itu barulah kita beri sentuhan mental kepribadian sebagai pendidikan dan pemahaman dalam aturan bergaul serta cara berpakaian. Setelah dibina dan diarahkan mereka dilepaskan sesuai dari hasil pendataan, misalnya kalau ke daerah Majalengka ya kita antar sampai bunderan alam sari setelahnya kita berhentikan kendaraan umum yang mengarah ke Majalengka,” jelasnya.

Menurutnya kehadiran anak punk di Kabupaten Sumedang sudah urgent  untuk ditangani karena perlu diketahui siapa yang mengendalikan. ”Terkadang dari Satpol PP itu kita serahkan pada Dinas Sosial tapi kadang dari Dinas Sosial juga kembali menyerahkan kepada kita Satpol PP,” ungkapnya.

Engkos menyayangkan jika tidak ada penanganan khusus untuk anak punk tersebut karena mereka cukup meresahkan masyarakat tetapi memiliki usia yang masih muda.

”Jarang ditemukan usia 20 tahun ke atas kebanyakan itu belasan tahun, sekitar 12 atau 13 tahun. Sangat disayangkan untuk usia mereka yang masih berada di masa belajar,” ujarnya.

Dalam penangkapan anak punk Engkos menuturkan bahwa dirinya selalu mengimbau orang tua atau kerabat yang bersangkutan untuk lebih memperhatikan anak tersebut.

”Harapannya ke depan ketika ditertibkan khususnya yang ditangkap, kerabatnya itu bisa datang jika dipanggil dan mereka bisa memberi perhatian pada anaknya tersebut. Karena kalau sudah diperhatikan semoga tidak menggelandang lagi,” harapnya.

Dengan permasalahan anak punk Engkos pun berharap pemerintah kabupaten dapat memberikan kepercayaan mengelola anggaran yang cukup kepada Satpol PP.

”Mudah-mudahan anggaran kami cukup sehingga memiliki perlakuan khusus terhadap kasus tersebut. Untuk itu, saya berharap pemerintah kabupaten dapat memberikan kepercayaannya kepada kami Satpol PP untuk mengelola anggaran yang cukup agar bisa memberikan perlakuan khusus terhadap anak punk tersebut,” tutupnya. (cr1/ign)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.