Sumedang Ekspres

Bacaan Utama Warga Sumedang

sumeks_images

SIDANG: Nunung Julaeha melakukan sidang Promosi Doktor, melalui aplikasi Zoom, kemarin. Dia berhasil mempertahankan disertasinya dengan predikat cumlaude. ASEP NURDIN/ SUMEKS

Perempuan Pertama Bergelar Doktor Pendidikan Sejarah di Tanah Air

SUMEDANGEKSPRES.COM - Satu lagi, seorang putra daerah kembali mengharumkan nama Kabupaten Sumedang, di bidang pendidikan.

Nunung Julaeha, Guru SMAN 1 Sumedang yang Meraih Predikat Cumlaude S3

SUMEDANGEKSPRES.COM – Satu lagi, seorang putra daerah kembali mengharumkan nama Kabupaten Sumedang, di bidang pendidikan. Adalah, Dra Hj Nunung Julaeha MSi, kemarin resmi menyandang gelar doktor, sekaligus menjadi perempuan pertama di Indonesia yang meraih gelar akademik tertinggi di bidang pendidikan sejarah. Terlebih dengan predikat cumlaude.

Tak pelak, prestasi yang diraih guru SMAN 1 ini, mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, yang juga alumnus sekolah tersebut, sekaligus pernah mendapat bimbingan langsung dari Nunung, ketika Dony bersekolah di SMAN 1. Bahkan, bupati secara langsung memberikan testimoni secara langsung pada sidang doktoral melalui aplikasi Zoom tersebut.

Apresiasi tak kalah tinggi, disampaikan ketua sidang promosi doktor Prof Dr H Disman MS. Salah satu guru besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu, menilai presentasi maupun ketika Nunung menjawab pertanyaan penguji, diakui memiliki bobot yang sangat baik.

Bahkan, kata dia, hampir di setiap sidang promosi doktor, sebagai ketua dirinya kerap memberikan pertanyaan pelengkap kepada kandidat. Namun, kali ini, diakui Disman, prsentasi dan jawaban kepada penguji sudah sangat lengkap.

“Sangat jarang saya memberikan pertanyaan yang sekiranya masih memerlukan penjelasan dari para kandidat. Tapi, kali ini penjelasan dan argumen saudari Nunung sudah sangat lengkap, sehingga saya tidak perlu menambahkan pertanyaan,” ujar Disman sebelum menutup sidang.

Nunung berhasil menyandang gelar doktor, setelah berhasil mempertahankan disertasinya pada Sidang Promosi Doktor Program Studi Pendidikan Sejarah Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Adapun disertasi yang berhasil dipertahankannya, berjudul “Pengembangan Bahan Ajar Sejarah Berbasis Nilai-nilai Kearifan Lokal Tradisi Bubur Suro Hajat Lembur Dan Tarawangsa Untuk Meningkatkan Kecerdesan Ekologi Peserta Didik”.

“Terkait dengan penelitian, saya ingin ada terobosan baru dalam pendidikan sejarah di tingkat persekolahan,” kata Nunung usai menjalani sidang secara online melalui aplikasi Zoom yang berlokasi di SMANSA, Selasa (16/6).

Menurutnya, selama ini mata pelajaran sejarah acap kali mengacu kepada materi yang jauh dari lingkungan peserta didik.  “Sementara di Kebupaten Sumedang, itu sangat kaya raya dengan sejarah, berbagai kebudayaan dan tradisi,” beber Nunung.

Untuk merealisasikan semua itu, maka pihaknya melakukan terobosan. Yakni, mengembangkan bahan ajar di sekolah, dengan cara mengintegrasikan kekayaan budaya dan kearifan lokal di Sumedang.

“Harapan saya, dengan adanya penelitian ini, membantu sekolah, para guru sejarah, pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi, untuk mengatasi masalah lingkungan. Karena disertasi yang saya buat, ini berkaitan dengan kecerdasan ekologi,” kata guru sejarah di Smansa itu.

Diakuinya, selama ini kecerdasan ekologi peserta didik di Sumedang, masih sangat rendah. “Salah satu indikatornya, dengan banyak mengonsumsi bahan makanan yang tidak ramah lingkungan. Bahkan, banyak dari mereka tidak peduli terhadap sampah,” katanya.

Sejarah, kata Nunung, menjadi materi yang sangat menarik, bila dikaitkan dengan berbagai tradisi  di masyarakat, yang memang sangat peduli terhadap lingkungan. “Kenapa tidak, kita tidak belajar dari mereka (masyarakat yang mempertahankan kearifan lokal, red)?” ujarnya.

Sebagai Doktor Pendidikan Sejarah, Nunung merekomendasikan kepada Pemkab Sumedang, agar setiap guru yang mengajar, baik di tingkat SD, SMP maupun SMA, agar bisa mengintegrasikan antara kurikulum  dengan kearifan lokal.

“Tidak selalu terpaku kepada buku teks, yang materinya jauh dari peserta didik, sementara di lingkungan sekitar sangat kaya dengan sejarah,” katanya.

Di dalam kurikulum, sebenarnya guru memiliki peluang metode untuk dikembangkan. “Namun belum banyak dimanfaatkan oleh guru-guru,” ujarnya.

Secara umum, guru biasanya mengacu kepada target kurikulum, sementara kebutuhan daerah dan kebutuhan peserta didik pasti berbeda antara daerah satu dengan lainnya.

“Kurikulum yang digunakan di tingkat pusat sifatnya seragam, sementara di setiap daerah berbeda,” katanya.

Dengan demikian, guru memiliki tugas untuk mengembangkan kurikulum di tingkat sekolah. “Untuk menyinergikannya, ada kewenangan. Tidak keluar dari kurikulum, tetapi diberikan porsi kompetensi dasar, yang bisa dikembangkan oleh guru,” katanya.

Menurutnya, itu tidak disalahkan, lantaran dalam penilaian ujian bisa dilakukan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, bisa oleh sekolah maupun guru. “Jadi, peluang untuk mengembangkan itu ada di guru. Dalam ulangan sehari-hari juga bisa digunakan, tetapi kalau ujian nasional, pasti mengacu kepada Pemerintah Pusat,” ujarnya.

Baca juga :

Mengisi Kekosongan, Bawaslu Lantik Dodoy Cardaya Sebagai PAW

Menyinggung soal disertasinya, Nunung melakukan penelitian di Kecamatan Rancakalong. “Saya melakukan kajian cukup lama, disebutnya studi pendahuluan lewat Etnografi. Saya terlibat langsung di masyarakat,” katanya.

Terutama dalam tradisi Bubur Suro dan Tarawangsa, dia mendalami bagaimana kentalnya masyarakat di sana, dalam menjaga kelestarian budaya.”Di Rancakalong itu ada satu daerah, yang masyarakatnya memang konsen melindungi tanaman padi,” katanya.

Melalui Seni Tarawangsa maupun tradisi Bubur Suro dan Hajat Lembur, secara tidak langsung mereka mempertahankan padi lokal, di saat beras impor mulai masuk ke Indonesia. “Itu kan luar biasa. Sementara tanaman lokal sendiri sudah tergeser beras impor,” katanya. (nur)