Perjalanan Nanang sebagai Perajin Gendang yang Tembus Mancanegara

Peliput/Editor: ERWIN MINTARA D. YASA

Perjalanan Nanang sebagai Perajin Gendang yang Tembus Mancanegara

HASIL KARYA: Nanang menunjukkan sejumlah gendang hasil karyanya yang masih dalam proses pengerjaan. (ERWIN MINTARA D. YASA/SUMEKS)

**Penjualannya Sampai Jerman, Korea dan Australia

Lama menjadi buruh pabrik, nampaknya menyita waktu dengan keluarga. Dari kondisi itu, Nanang bertekad mencari peruntungan dari bidang lain. Dan akhirnya, bermodalkan kayu gelondongan menjadikan Nanang sebagai pengusaha Gendang yang sukses.

 

NANANG, warga asal Dusun Nyindung RT/RW 03/10 Desa Cimanggung, Kecamatan Cimanggung, merupakan perajin alat musik pukul berupa gendang atau biasa disebut kendang.

Nanang, sudah memulai usahanya kurang lebih sudah 4 tahun. Dan sebelum beralih pekerjaan menjadi perajin Kendang, Nanang merupakan buruh pabrik di sebuah industri tekstil terbesar di Kabupaten Sumedang.

Dia, bekerja selama hampir 26 tahun di pabrik tersebut. Dirinya berangkat kerja saat matahari terbit kemudian pulang ke rumah saat matahari terbenam. Dan hal ini, selalu ditekuni pria asal Dusun Nyalindung sebagai tulang punggung keluarganya.

Selama itu pula, pria yang mempunyai anak dua itu menghabiskan waktu bersama keluarga. Sebab, berkumpul dengan keluarga merupakan momen langka baginya, lantaran hanya bisa dilakukan satu kali dalam setiap pekan.

Pria kelahiran Sumedang, 6 Desember 1968 itu, merasa terjebak dalam rutinitas. Lalu pada 2013-2014, dia bertekad mencari peruntungan dari bidang lain.

Berbekal kecintaan pada seni budaya Sunda dan melihat banyaknya gelondongan kayu di sekitar tempatnya tinggal, dia terinspirasi untuk membuat kendang.

Bermodalkan alat sederhana, dia menyulap gelondongan-gelondongan kayu menjadi sebuah alat musik pukul yang biasa digunakan untuk mengiringi pagelaran Sunda semisal jaipong, wayang golek, dan pencak silat.

“Saya putuskan jadi pembuat kendang karena merasa jenuh saat waktu kerja dan waktu terbuang sia-sia. Ini keputusan terbaik bagi saya,” ujar Nanang kepada Sumeks di bengkel produksi kendang di kediamannya, Minggu (4/11).

Dibantu anak dan saudara, setiap hari, Nanang mampu memproduksi 3-4 set kendang. Setiap set kendang terdiri dari tiga ukuran yang memiliki bentuk dan suara berbeda. “Tidak ada pegawai karena ini merupakn usaha keluarga, jadi kami dibantu oleh anak-anak dan saudara,” katanya.

Pemesaran kendang tidak dari daerah Sumedang saja, tapi diluar juga ada, seperti Indramayu, Brebes, Purbalingga, Bandung dan diluar Jawa Baratpun banyak. “Setiap set gendang dijual relatif cukup terjangkau, yakni mulai dari harga Rp 500 ribu hingga Rp 1,7 juta.

Nanang menuturkan, Kendang hasil produknya sudah mencapai taraf Internasional. “Ya bahkan diluar Negeripun banyak yang mempesan kendang produk kendang, seperti Jerman, Korea dan Australia,” tuturnya.

Nanang menggunakan kayu nangka lokal Jawa Barat dan menggunakan kulit kerbau sebagai bahan dasar pembuatan gendang. “Kolaborasi kayu pohon nangka dan kulit kerbau menghasilkan suara jauh lebih bagus,” katanya.

Pihaknya mengaku, dirinya masuk dalam dunia pengrajin itu timbul dari kecintaannya kepada kesenian Sunda. “Awal mulanya dari bakat dan kecintaan terhadap Seni, jadi intinya ingin ngamumule kembali alat tradisional sperti kendang, karena kendang sudah dijadikan alat musik yang dipakai oleh jenis musik apapun,” ujarnya.

Pihaknya berharap, dengan terus memproduksi alat musik tersebut bisa membawa nama baik Sumedang, karena Sumedang sudah terkenal dengan pusat budayanya. “Bisa membawa dampak positif khususnya buat Cimanggung, dan diakui ditaraf nasional maupun internasional,” harapnya. (**)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.