oleh

Pertahankan Cara Tradisional untuk Penuhi Pesanan

Kabupaten Sumedang, selain dikenal dengan produsen tahu, juga memiliki potensi lain. Seperti, produk golok berkualitas. Beberapa golok Sumedang, cukup dikenal. Di antaranya golok Conggeang. Bagaimana golok Conggeang diproduksi. Berikut liputannya.

ATEP BIMO AS, Conggeang

DAHULU, Sumedang pernah dikenal dengan produk golok berkualitas tinggi dan mempunyai berbagai macam bentuk serta ukiran pada ‘sarangkanya’. Seperti golok yang diproduksi di Kecamatan Conggeang. Namun, produsen golok Conggeang, keberadaannya kini terancam punah.

Seperti di bengkel milik Herman, biasa dipanggil warga Eman, di Dusun Hambawang RT 05 RW 02 Desa Padaasih Kecamatan Conggeang. Bengkel pembuatan golok atau yang biasa disebut pandai besi oleh masyarakat setempat, kini hanya sebatas membuat golok berdasarkan pesanan saja.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kemajuan zaman di era modernisasi seperti sekarang ini. Banyak berdiri, pabrik-pabrik pembuatan perkakas kebutuhan para tukang dan sebagainya. Mereka bersaing dalam bisnis alat pertukangan yang bisa dengan cepat melibas dan menghancurkan para pandai besi yang masih bersifat tradisional.

Dengan peralatan yang sangat modern dan canggih, industri perkakas tukang tersebut bisa menghasilkan puluhan bahkan ratusan jenis dalam sekali produksi. Berbeda dengan pandai besi yang masih tradisional, dalam sehari paling bisa membuat perkakas sebatas dua atau lima saja. Itupun masih berupa bahan, yang harus diselesaikan kedalam tahap berikutnya atau finishing.

Namun dengan keyakinan dan keuletan di tengah gempuran perkakas keluaran pabrikan yang serba modern dan canggih, Eman masih bisa bertahan berproduksi meski hanya sebatas pesanan saja. Menurutnya, bengkel pembuatan golok dan perkakas ini adalah peninggalan orangtuanya yang sudah ada sejak tahun 80 an.

Di masa kejayaannya, pandai besi ini bisa menghasilkan golok sampai mencapai 20 dan 30 dalam satu bulan. Karena, saat itu memang belum ada industri perkakas yang alatnya canggih seperti sekarang.

“Pandai besi ini sudah dari tahun 80-an. Waktu itu orangtua saya yang suka bikin golok, pedang, sangkur ataupun perkakas lainnya,” ujar Eman saat ditemui Sumeks, Rabu (25/9) lalu.

Eman, saat itu banyak yang memesan golok kesini, baik dari Sumedang sendiri maupun luar Kabupaten Sumedang. “Sekarang saya hanya meneruskan, namun produksinya beda dengan dulu,” jelasnya.

Eman sendiri, merupakan generasi kedua sebagai penerus pembuatan perkakas di keluarganya. Dia mengakui untuk sekarang, pandai besi miliknya sangat jauh tertinggal dibanding pabrikan. Sekarang sudah banyak perkakas dengan model baru dan bahan yang bagus.

Dalam produksinya, pun bisa menghasilkan puluhan, bahkan ratusan dalam sekali produksi. Sedangkan, dirinya di tenpatnya hanya bisa menghasilkan lima buah dalam sehari, itupun belum finishing. Seperti penghalusan dan pembuatan ‘sarangkanya’.

Diakui Eman, kesulitan didalam produksi dan pengerjaan perkakas atau golok tersebut adalah dari alat yang ada di bengkelnya serta bahan yang tersedia. Alat alat yang ada di tempatnya sebagian besar masih menggunakan alat peninggalan orangtuannya.

Eman menjelaskan, untuk mencari bahan dasar golok cukup kesulitan. Karena, harga bahan yang cukup mahal serta untuk mendapatkannya harus memesan terlebih dahulu. Kalau tidak seperti itu, tidak akan mendapatkan bahan yang bagus.

“Kesulitannya sebenarnya terdapat di alat penunjang sama bahan saja. Kalau alat saya memakai peninggalan orangtua, ya sedikit ada yang diganti karena sudah rusak dan termakan usia. Sedangkan untuk bahan biasanya saya suka nyari ke daerah lain dan pesen dulu, kalo enggak pesen pasti kehabisan diborong sama yang punya duit,” paparnya.

Dengan kondisi seperti ini, pandai besi miliknya sangat kesulitan untuk bersaing, tidak ada jalan lain selain bertahan. “Kalau bersaing sama yang lain jelas berat buat kami. Makannya, tidak ada jalan lain hanya bertahan. Sebab, ini mata pencaharian kami dan ini juga merupakan jalan kami mempertahankan pembuatan golok tradisional,” tutupnya.

Pemasaran golok Conggeang ini, tidak hanya di Jawa Barat saja. Sejumlah kota di luar Jawa, seperti Samarinda, Riau dan Palembang, pun menjadi langganan. Golok terbuat dari baja, sedangkan sarangka dan gagang golok menggunakan kayu sonokeling ataupun tanduk. Tak heran jika golok Conggeang itu, memiliki harga di atas rata-rata.

Untuk golok biasa dijual dengan kisaran harga Rp 60 ribu sampai Rp 90 ribu tergantung ukuran. Sementara golok hias atau golok tebas dibandrol mulai Rp 200 ribu hingga Rp 1 juta. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed