oleh

Peserta Hingga Anggota Dewan Keluhkan Pelaksanaan Acara Tari Umbul Kolosal

SUMEDANG – Event akbar tari umbul yang dilaksanakan di Waduk Jatigede pada Selasa (31/12), mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak.

Salahsatunya datang dari politisi PKS Rachmat Djuliadi yang menyebut Pemda selalu memiliki kebiasaan tidak bisa mengantisipasi kemungkinan yang bakal terjadi dalam sebuah event besar.

Rachmat menilai, Pemerintah Daerah harusnya dapat belajar dari event Paralayang yang dilaksanakan beberapa waktu lalu dalam mengantisipasi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

“Tari umbul ini lebih besar lagi dari Paralayang kemarin. Harusnya persiapan bisa lebih matang. Dan yang saya lihat malah tidak seperti itu, banyak hal yang tidak terantisipasinya,” ujarnya kepada Sumeks, Selasa (31/12)

Adapun hal yang paling disorot Rachmat selaku anggota komisi III DPRD Sumedang yang membidangi kesehatan adalah berkaitan dengan tim medis yang berada di lokasi acara.

“Saya sendiri menyaksikan puluhan yang pinsan, bahkan menurut informasi lebih banyak. Banyak yang histeris kata orang kesurupan. Tapi kalau dalam istilah medis itu disebut heatstroke. Akibat dari tubuh tidak tahan karena suhu yang panas. Sehingga dehidrasi dan dia pinsan. Mereka tidak tahan akibat kelelahan datang dari malam, kurang rehat, kurang asupan makanan dan menunggu di area yang sangat panas,” paparnya.

Selain itu, menurut Rachmat acara tersebut terkesan lebih banyak bertele-tele. Dari mulai sambutan yang memakan banyak waktu sehingga peserta dan penonton banyak yang tumbang.

“Ironisnya tim medis kurang siap antisipasi korban yang cukup banyak tersebut. Memang betul ada beberapa petugas puskesmas disana dengan ambulannya. Tapi itu tidak memadai. Ambulan penuh, tenda kurang, bahkna di area 3 yang mengarah ke Situraja itu tidak ada tenda sama sekali. Pasien digeletakan dipinggir jalan, padahal perlu di infus tapi tidak ada tenda. Akhirnya diinfus dalam ambulan, sehingga beberapa ambulan yang dipakai penuh,” terangnya.

Tak hanya dalam hal medis, lanjut Rachmat, yang menjadi sorotan lainnya ada dalam pengaturan lalulintas. Menurutnya, harusnya panitia menyediakan lahan parkir yang memadai untuk ratusan hingga ribuan kendaraan.

“Ini parkir tidak memadai, sehingga parkir bisa beberapa kilo meter dari lokasi. Peserta dan warga banyak yang jalan dari jauh, sehingga banyak yang pinsan. Termasuk salah satu wartawan yang dikabarkan meninggal akibat berjalan terlalu jauh dari lokasi ke tempat parkir,” sesalnya.

Oleh sebab itu, Rachmat menghimbau dan memberikan warning kepada Pemda Sumedang untuk mengevaluasi kegiatan tersebut sebagai bahan pelaksanaan kegiatan event besar kedepannya.

“Itu bagian dari ketidaksiapan antisipasi hal-hal yang kecil dari pihak panitia atau penyelenggara,” sebut Rachmat.

Dikonfirmasi terpisah, salah seorang peserta tari umbul dari wilayah Kecamatan Tanjungsari Anna, 37, mengatakan, panitia penyelenggara dinilai tidak mencari lokasi yang sesuai untuk ribuan penari Tari Umbul Kolosal tersebut.

“Masa acara sebesar ini seperti tidak direncanakan dengan matang. Tempatnya becek. Saat menari kami harus buka alas kaki,” kata Anna.

Tak hanya itu, lanjut Anna, upah yang diberikan pihak panitia kepada setiap penari dinilai kecil dengan hanya diberi Rp150 ribu. Jumlah tersebut menurutnya tidak sebanding dengan berbagai kebutuhan yang harus disiapkan untuk mengikuti pagelaran tersebut.

“Sebetulnya kami tidak mempermasalahkan jumlah uangnya itu. Tapi setidaknya panitia itu hargai penari yang sudah rela latihan, berangkat ke tempat pagelaran pakai ongkos sendiri. Sampai tidak tidur karena harus berangkat dari jam 02.00,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir menjelaskan, Tari Umbul Kolosal merupakan salah satu event dalam rangka menyambut Tahun Baru 2020 sekaligus memberikan hiburan bagi masyarakat dari dalam dan luar Sumedang.

“Kegiatan ini merupakan upaya Pemkab Sumedang dalam mengapresiasi seniman daerah, dan bentuk dukungan Sumedang sebagai Kabupaten Pariwisata,” jelasnya.

Dony menambahkan, tari umbul merupakan tarian tradisional khas Kabupaten Sumedang yang menjadi salah satu aset potensial dalam menunjang sektor pariwisata.

“Pementasan Tari Umbul Kolosal memiliki makna lebih dalam, yakni sebagai perekat kebersamaan yang akan menjadi modal sosial bagi pembangunan di Kabupaten Sumedang. Hal itu dibuktikan dengan keterlibatan berbagai unsur di dalamnya, mulai dari seniman, budayawan, tokoh masyarakat, aparat desa, aparat kecamatan, serta elemen masyarakat lainnya dalam mensukseskan event ini,” tuturnya. (bay)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed