oleh

Pilih Mandiri Tak Tertarik Kerja dengan Perusahaan

**Melihat Aksi Pandai Besi di Tengah Mordenisasi Peralatan

Panday besi yang ada di Dusun Kampung Baru, Desa Wado Kecamatan Wado ini, lebih memilih usaha mandiri ketimbang harus kerjasama dengan perusahaan. Berikut alasannya.

HERI PURNAMA – Wado,

 

TERKADANG mengais rezeki itu tak harus gelamor dengan meraup keuntungan besar. Seperti dijalani seorang warga Wado yang berprofesi sebagai panday besi.

Keluarga Enjang Kosasih, siapa yang tak kenal namanya. Dia telah mendirikan usaha itu sebagai mata pencahariannya dari sejak tahun 1950-an. Pada saat itu dikelola oleh orang tuanya (Jahmid), dan usahanya itu dilanjutkan oleh Enjang pada tahun 1993.

Seiring berjalannya waktu, Enjang mampu membuat barang-barang perkakas seperti sabit, golok, cangkul dan sebagainya, dengan kualitas yang tidak perlu diragukan lagi.

Pada saat itu, Enjang dan beberapa pegawainya beroperasi di Dusun Maleber yang masih wilayah Desa Wado. Pelanggan Enjang dari masa ke masa semakin banyak, bahkan dari daerah Darmaraja, Situraja, dan sekitarnya berbondong-bondong menggunakan jasa Enjang untuk membuat barang perkakas.

Enjang menyebutkan, pada waktu itu, penghasilannya lumayan, bahkan bisa membayar pegawainya lebih dari Rp 100 ribu per harinya. Besi yang digunakan sebagai bahan bakunya pun, dalam sebulan mampu menghabiskan lebih dari satu kuintal.

Sedang nyaman-nyamannya Enjang dan pegawainya mengais rejeki dari hasil jasa pembuatan barang perkakas. Enjang harus rela meninggalkan tempat usahanya itu karena harus digenangi air Waduk Jatigede.

“Dulu saya beroprasi di Dusun Maleber yang saat ini tergenang, dan sekarang pindah kesini ke Kampung baru,”kata dia.

Semejak perpindahan itu, Enjang kehilangan para pelanggannya, bahkan omsetnya pun kian hari kian merosot. Sampai-sampai dalam satu hari itu hanya ada satu atau dua pelanggan, bahkan seringkali tidak ada pelanggan sama sekali.

Menurutnya, hal itu kemungkinan dipengaruhi karena semakin sempitnya lahan pertanian sehingga petani tidak lagi memerlukan perkakas seperti dulu.

”Dulu membuat pesanan para petani itu dari pagi sampai sore tidak pernah berhenti, beda jauh dengan sekarang. Kalau sekarang kita mengadakan bahan baku sepuluh kilo saja, bisa bertahan sampai satu bulan, kalau dulu 15 kilo itu habis dalam satu hari,”katanya.

Meski demikian Enjang tetap tidak tertarik menjalin kerjasama dengan perusahaan, meski pihak perusahaan itu menjanjikan keuntungan yang besar. Sebab, dirinya tidak mau meninggalkan petani demi sebuah perusahaan, dirinya  berpikir, saat hasil produksinya itu di drop semua oleh perusahaan, maka para petani akan kesulitan mendapatkan barang tersebut.

Sementara itu, dirinya tidak akan bisa melayani petani untuk membuat keperluan perkakasnya.

“Saya lebih baik mengambil untung dari petani Rp 5 ribu, daripada harus mengambil keuntungan besar dari perusahaan, tapi saudara-saudara saya (petani) harus kesulitan mendapatkan perkakas peroduk saya dan bahkan bisa jadi harga yang diberikan oleh pihak perusahaan bisa lebih mahal,”katanya.

Dia menerangkan, selama ini banyak kenalan yang sudah menganggap sebagai saudara di berbagai pelosok. Kepeduliannya kepada seorang petani itu sangat tinggi.

”Kalau saya main ke wilayah Darmaraja, alhamdulilah banyak yang kenal, jalinan persaudaraan selalu terbina,”katanya.

Dia berpendapat, untuk memulihkan lagi usahanya itu, maka harus ada peran penerintah. Dalam hal ini, pemerintah harus mampu membuka lahan pertanian seluasnya di wilayah Darmaraja, Wado, Situraja dan sekitarnya. Maka dengan begitu, pelanggannyapun akan kembali menjadikan perkakas sebagai alat bantu mereka untuk bertani.

“Saya tetap hanya ingin kerjasama dengan petani, maka dengan itu, pemerintah harus memberdayakan kembali petani di bidang pertanian,” pungkasnya. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed