PKS: Garbi Adalah Gerakan Politik

Peliput/Editor: FIN

PKS: Garbi Adalah Gerakan Politik

DEKLARASI: Partai Keadilan Sejahtera (PKS) saat deklarasi di Gelora Bung Karno, belum lama ini. (Foto: Net)

GERAKAN Arah Baru Indonesia (Garbi ) dinilai Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai gerakan politik.  Pimpinan PKS meminta semua kadernya yang bergabung dengan Garbi untuk keluar dari partai.

Ketua DPP PKS, Tifatul Sembiring menilai Garbi yang diinisiasi mantan Presiden PKS Anis Matta merupakan gerakan politik.

Berdasarkan hal itu, Tiffatul meminta agar seluruh kader PKS yang bergabung dengan Garbi mundur atau keluar. Begitu juga dengan kader PKS yang sudah duduk di legislatif untuk segera keluar dari partai.

“Nggak ada larangan kader (PKS) masuk ke Garbi, itu pilihan. Tapi kalau sudah di Garbi silakan keluar dari PKS. Kalau kita lihat ini gerakan politik, kan tidak mungkin ada gerakan politik di dalam partai politik,” tegas Tiffatul Sembiring, Minggu (4/11).

Sementara Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera mengatakan pihaknya tidak ambil pusing terkait adanya Garbi. Dia menyebutkan saat ini PKS sedang fokus dalam pesta demokrasi mendatang dan memenangkan pasangan Prabowo-Sandi.

“Kami tidak khawatir dengan adanya Garbi dan saya tidak mau ambil pusing untuk hal itu. Kami fokus untuk pemenangan di DPR dan Pilpres saja,” kata Mardani Ali Sera.

Politisi PKS lainnya saat ditanya tentang Garbi seakan-akan menjadi alergi dalam berbicara. Refrizal yang merupakan anggota DPR saat ditanyakan tentang Garbi juga langsung tutup mulut.

“Maaf kalau untuk ini saya tidak mau memberikan komentar apapun. Yang jelas kami dari partai akan fokus untuk pemenangan di DPR dan Pilpres,” kata Refrizal kepada FIN saat dihubungi lewat telepon.

Garbi merupakan gerakan politik yang lahir dari konflik internal yang ada di PKS. Gerakan politik yang kini disemai oleh puluhan pengurus dan kader PKS yang mundur di daerah yang ada di Indonesia.

Wakik Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengatakan Garbi menjadi wadah bagi kader-kader PKS, terutama anak muda, yang merasa tidak cocok dengan kultur partai. Fahri memandang kader-kader ini adalah mereka yang merasa pendapatnya tidak dihiraukan.

Peristiwa banyaknya kader-kader PKS di daerah yang mundur dari kepengurusan dinilai Fahri Hamzah sebagai momentum bagi anggota di majelis Syuro memulai sikap kritisnya dengan mempertanyakan penyebab peristiwa itu terjadi.

“Anggota Majelis Syuro PKS sebagai lembaga legislatif yang dipilih oleh kader di seluruh Indonesia seharusnya mulai bertanya dengan kritis apa penyebab terjadinya peristiwa tersebut. Bagaimana bisa puluhan orang yang dipilih oleh seluruh kader itu tidak melihat adanya krisis besar yang sedang dialami PKS. Saya kira ini tanda berakhirnya dari PKS,” kata Fahri.

Fahri menjelaskan peristiwa pengunduran diri puluhan kader PKS itu seharusnya langsung di tangani majelis syuro PKS dengan membuat pertanyaan atau mengadakan rapat-rapat yang bertujuan mengevaluasi kineja pemerintahan atau kepemimpinan partai yang sudah ada.

“Sangat disayangkan sekali hal ini bisa terjadi dan terkesan adanya pembiaran oleh pengurus di pimpinan pusat. Padahal saat ini partai sedang dalam masalah besar dan sangat mengkhawatirkan,” katanya.

Faktor penyebab terjadi pengunduran massal kader PKS di daerah bermula dari acara Educational Leadership PKS yang diselenggarakan di Purwokerto di awal Oktober. Dalam acara itu semua kader diminta untuk menandatangani fakta integritas untuk selalu loyal terhadap partai. (fin)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.