oleh

Polemik Dua Raja Jalanan

SUMEDANG – Munculnya kebijakan di Terminal Ciakar berupa dua jalur bus, menuai pro dan kontra antara dua PO bus yang berbeda. Yakni PO Medal Sekarwangi dan PO Mayasari Group, PT Cahaya Bakti Utama (CBU).

Kedua PO tersebut diketahui memiliki trayek yang sama dan dikenal kerap bersaing dalam memperebutkan penumpang. Bahkan beberapa waktu kebelakang sempat dikabarkan terjadi bentrokan fisik antara kedua awak raja jalanan tersebut.

Salah seorang penumpang asal Situraja, yang hendak berangkat ke Jakarta, Iwan Gunawan, membenarkan dirinya sempat mendengar kabar adanya perkelahian kedua awak tersebut di Terminal Ciakar.

“Iya, kejadiannya beberapa Minggu kebelakang, saya mendapatkan informasi dari teman saya bahwa ada bentrokan di Terminal karena rebutan penumpang, hingga ada calon penumpang yang sempat menangis,” ujarnya kepada Sumeks, Kamis (24/10).

Iwan juga mengatakan, dirinya tidak terlalu memikirkan adanya peraturan dua jalur yang ditetapkan oleh pihak Terminal Ciakar. Yang terpenting baginya adalah mendapat pelayanan terbaik dari bus yang akan ditumpanginya.

“Kalo bisa sih jangan ada keributan. Bagi saya sih mau kebijakan apapun saya akan tetap naik bus, tidak memilih dan membeda-bedakan bus ini atau bus itu. Yang terpenting mereka memberikan pelayanan terbaik untuk kami sebagai penumpang, paparnya.

Ditempat yang sama, salah satu awak bus dari PO CBU menyebutkan jika aturan tersebut sebelumnya telah disepakati oleh kedua PO dan pihak terminal. Sehingga melalui aturan tersebut penumpang bebas memilih akan menggunakan bus yang mana.

“Dengan disedakannya fasilitas loket tiket menurut saya justru agar tidak ada perebutan penumpang. Dan calon penumpang dibebaskan memilih, mau yang ini silahkan mau yang itu silahkan. Untuk informasi lebih lanjut silahkan temui kepala terminal,” jelasnya.

Namun demikian, saat dikonfirmasi kepada pihak PO Medal Sekarwangi (MS), justru dengan adanya aturan tersebut malah meningkatkan tensi persaingan dalam mencari penumpang saat ngetem di Terminal Ciakar.

“Kami justru menolak kebijakan dua jalur tersebut dengan adanya loket juga disana. Karena itu akan menimbulkan persaingan dilapangan. Dan penolakan ini telah kami sampaikan ke Dishub, Polres dan Instansi terkait lainnya,” kata Sekretaris PO Medal Sekarwangi Robert Hendrik.

Robert juga menyebut, beberapa waktu kebelakang telah terjadi sekitar 6 kali bentrokan fisik. Dua diantaranya harus dilarikan ke RSUD Sumedang.

“Dua awak bus kami dikeroyok dan dipukul oleh balok kayu. Pelakunya oknum dari PO lain, dan saat ini kasusnya masih dalam penanganan pihak kepolisian,” terangnya.

Selain itu, lanjut Robert, dalam kebijakan tersebut masing-masing PO diberikan kebebasan dalam mengatur keberangkatan dan mencari penumpang. Dan yang dapat memicu meningkatnya bahaya, jika bus berangkat dengan jarak yang dekat atau berbarengan.

“Itu khawatir akan terjadi balapan di jalan yang dapat menimbulkan kecelakaan dan ketidaknyamanan penumpang. Sebelum ditetapkannya kebijakan ini, bentrokan dan permasalahan jarang terjadi. Bus yang memiliki trayek sama akan berangkat secara teratur dan bergantian di terminal, “tuturnya.

Sementara itu, saat akan dikonfirmasi kepada kepala terminal, pihak nya kerap sulit ditemui walaupun telah dicoba beberapa kali. (cr2)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment

  1. persaingan memperebutkan penumpang adalah suatu kewajaran, coba tengok ke leuwi panjang dan cicaheum , 2 bus yg beda otobus 1 trayek , time tablenya berbarengan
    tidak ada masalah, tinggal pihak otobus sebelah yg harus berbenah diri agar bentrokan tidak terjadi

News Feed