Produksi Susu Perah Menurun

Peliput/Editor: iqbal/iman nurman

Produksi Susu Perah Menurun

BERI MAKAN: Peternak sapi, Toto sedang memberi makan sapinya di Dusun Cipelah Desa Mekarbakti Kecamatan Pamulihan, kemarin. (MUHAMAD IQBAL/JATEKS)

PAMULIHAN- Dampak kekeringan yang diakibatkan kemarau panjang, membuat peternak sapi perah di Dusun Cipelah Desa Mekarbakti Kecamatan Pamulihan kelabakan. Pasalnya, produktivitas susu sapi menurun menyusul suplai makanan dan vitamin ke sapi menurun.

Berkurangnya persediaan rumput membuat mereka harus mengeluarkan biaya lebih.
Diakui Toto (68), peternak sapi, untuk menghidupi kelima sapinya, hampir setiap hari ia mengeluarkan biaya Rp100 ribu. Biaya itu untuk membeli jerami 10 ikat per hari dengan harga Rp6 ribu perikatnya.

Selain itu, demi mencukupi kebutuhan gizi sapi-sapinya, ia juga harus membeli konsentrat seharga Rp150 ribu untuk satu ekor sapi dengan jangka selama 10 hari.

“Untuk jerami dan lolohan (konsentrat, red) saja sudah memberatkan dari biasanya. Karena tidak ada rumput suplai vitamin harus lebih,” ujarnya saat ditemui di sela-sela aktifivasnya, Rabu (21/10).

Belum lagi, kata dia, kebutuhan pokok lainnya, yaitu air, ia harus mengeluarkan uang juga seesar Rp70 ribu untuk 10 hari. Namun semua itu dirasakannya tidak sebanding dengan jumlah hasil produksi susu sapinya.

“Biasanya satu hari dapat 15 liter susu dari setiap ekornya, namun sekarang hanya dapat 10 literan saja,” ujarnya lagi.

Dibanding dengan musim hujan, dimana rumput tumbuh subur di sekitar rumahnya, ia hanya cukup mengeluarkan upah pekerja pencari rumput saja sebesar Rp50 ribu.
“Kalau sekarang ya harus beli, belinya bisa dari Garut atau daerah lain yang masih mempunyai cadangan rumput atau jerami,” tuturnya.

Kendati demikian, ia bersyukur masih bisa memenuhi segala kebutuhan hidup memelihara sapinya meski dirasa berat. Karena disatu sisi ia juga sedang menguliahkan satu anaknya.
“Kalau musim hujan masih bisa memenuhi kebutuhan lainnya dari ladang, saat ini laba dari susu sapinya habis kembali untuk membeli pakannya lagi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, yang ia takut adalah hujan tidak kunjung turun untuk beberapa bulan ke depan. “Kalau dua bulan ke depan tidak hujan, gak tau seperti gimana, karena pasti persediaan jerami di berbagai daerah sudah habis,” tambahnya. (iqi)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js