Resah, Si Melon Kembali Langka

CONGGEANG – Kembali, gas elpiji tiga kilogram mengalami kelangkaan di berbagai pelosok Kabupaten Sumedang. Hal itu terungkap, dari beberapa akun Facebook yang membuat status kelangkaan gas bersubsidi tersebut.

Salahsatunya, akun Facebook Pupun Orsu. Akun tersebut membuat status ‘Masyarakat resah Melon kembali Langka. Fenomena # Yang sibuk mencari Melon masyarakat yg mampu  sementara masyarakat miskin yg berhak memiliki Melon terkesan pasrah tapi beruntung  krn masih tersedia Kayu Bakar’.

Kemudian, akun Facebook Jeki E Saepudin. Dia membuat status ‘Kini si MELON pun mulai susah ditemui harga nya pun melambung jadi Rp 30 rb, Senin (9/9/19)..#deritakukinibukanderitamulagi#’.

Berdasarkan pantauan di lapangan, masyarakat berseliweran mencari gas yang sering disebut juga si melon. Seperti yang dilakukan warga Kecamatan Conggeang, Aep Juanda. Berdasarkan pengakuannya, dia sampai harus mencari gas ke wilayah Kecamatan Buahdua. “Alhamdulillah bisa dapat, itupun hanya tinggal satu,” ujar Aep saat mengawali obrolannya, Selasa (10/9).

Dikatakan, dirinya harus mencari ke setiap pangkalan dan warung di Kecamatan Conggeang, sebelum mendapatkannya di Kecamatan Buahdua. Namun, tidak mendapatkannya. Sebenarnya, lanjut dia, walau harga agak tinggi tidak masalah, tetapi asalkan tidak langka seperti sekarang ini.

“Saya berkeliling ke setiap warung yang biasa menjual gas tiga kilogram, namun sangat susah untuk mendapatkannya. Penyebabnya pun tidak jelas ketika saya menanyakan. Masyarakat hanya bisa mengeluh saja,” paparnya.

Beberapa warga pun mengeluhkan hal yang sama terkait kelangkaan gas. Bahkan, mereka harus mencari gas elpiji ke daerah yang cukup jauh dari tempat tinggalnya karena sudah tidak ada. “Kami harus mencari hingga Kecamatan Paseh dan Cimalaka untuk mencari gas, itu pun kalau masih ada. Kebanyakan para penjual menawarkan gas bertabung ping,” paparnya.

Seorang pedagang gas warungan di wilayah Kecamatan Conggeang saat dikonfirmasi menuturkan kelangkaan gas sudah mulai dirasakan sejak tiga minggu lalu. Biasanya, ia dikirim sebanyak 40 tabung dalam satu minggu.

“Namun, kini saya hanya dikirim sebanyak 15 tabung. Terjadi pengurangan sebanyak 25 tabung dalam satu minggu,” paparnya.

Dijelaskan, harga gas dari pangkalan biasanya dijual antara Rp 20 ribu hingga Rp 22 ribu. “Saya menjual kepada warga atau konsumen seharga Rp 25 ribu,” tandasnya.

Sementara itu, seorang pedagang gas warungan di wilayah Kecamatan Paseh Jare mengeluhkan hal yang sama. Ia mengatakan saat ini warungnya sudah tidak dikirim gas oleh pihak pangkalan. Biasanya, pengiriman dilakukan seminggu sekali dengan jumlah gas elpiji tiga kilogram sebanyak 20 biji. Itupun, dibagi tiga dengan warung lainnya yang dekat.

“Sekarang sudah hampir dua minggu tidak dikirim gas tiga kilogram. Sehingga, gas di warungnya kosong dan tidak bisa berjualan gas,” paparnya.

Jare tidak mengetahui penyebab pasti berkurangnya gas dan adanya kelangkaan gas di pasaran. ” Saya berharap gal ini segera diatasi, karena warga sangat memerlukan gas tersebut,” pungkasnya. (atp)

Ikuti Kami di Sosial Media:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.