Ribuan Warga Meriahkan Kirab Hari Santri

Ribuan Warga Meriahkan Kirab Hari Santri

PIMPIN KIRAB: Ketua PCNU Sumedang KH Sa'dullah didampingi Kepala Kemenag Sumedang Dr H Cece Hidayat dan M Agung Anugrah saat memimpin acara kirab, dalam memperingati Hari Santri Nasional, Rabu (21/10). (ASEP HERDIANA/SUMEKS

Peliput/Editor: asep herdiana/handri s budiman

KOTA – Ribuan santri di Kabupaten Sumedang, menyambut Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2015, dengan mengikuti kirab. Mengambil start di Mesjid Agung Sumedang, mereka pun melakukan longmarch menuju Geung Islamic Centre di Jalan Kutamaya.

Pada rangkaian acara, mereka juga menggelar ziarah kolektif napak tilas maqom para ulama Sumedang, seperti Kyai Satibi, Kyai Fallah yang merupakan tokoh penyebar agama Islam di Sumedang. Acara lainya, diskusi khas ala pesantren yang membahas tentang Hari Santri. Pada malam harinya, digelar pemutaran film Resolusi Jihad dan Sang Kyai di pelataran Mesjid Agung Sumedang.

“Acara puncaknya, pas tanggal 22-nya di Jakarta, yang diikuti seluruh pengurus NU se-Indonesia, “ ujar Ketua Pimpinan Cabang Nadhatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang KH Sa’dullah kepada Sumeks, Rabu (21/10).

Ia mengatakan, pada peringatan Hari Santri, bukan santrinya yang ditonjolkan, tapi semangat resolusi jihad, yang melibatkan puluhan ribu santri, dan semangat patriotisme membela tanah air. Sebab, dalam catatan sejarah, perjalanan panjang Indonesia merdeka, santri tidak bisa dilepaskan dari aspek kebangsaan dan spirit nasionalisme melawan penjajah. Bersama masyarakat dan ribuan ulama lainnya, santri bahu membahu untuk berperan serta melawan rezim penjajah demi tegaknya Republik Indonesia.

“Kini, melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, sebagai entitas santri mendapatkan achievement award, yang memiliki nilai penghargaan tinggi dari negara karena peran dan partisipasinya selama ini, untuk Indonesia,” bebernya.

Ia juga mengatakan, banyaknya pondok pesantren di Sumedang, menandakan banyaknya jumlah santri yang mempelajari ilmu agama. Hal ini, kemudian menjadi pandangan yang memberikan gelar kepada mereka, para santri sebagai orang yang memiliki konsentrasi mempelajari ilmu-ilmu agama Islam.

Selain itu, dari aspek nasionalisme santri yang sejalan dengan gerakan melawan penjajah yang dimotori KH Hasyim Asy’ari, dengan menyebutnya sebagai resolusi Jihad NU, bahwa membela tanah air adalah fardhu ‘ain dan lari dari perang adalah kafir.

“Begitu maklumat yang disampaikan KH Hasyim Asy’ari pada saat itu. Maka, santri mempunyai arti nasionalisme yang tinggi dalam membela tanah air. Dari aspek kebangsaan, semangat kebangsaan yang ada dalam golongan santri, tidak bisa dipandang sebelah mata juga. Di Jawa Barat sendiri, kelompok-kelompok aktivis, pemuda, politisi sampai birokrasi, banyak yang memiliki latar belakang santri, karena sebagian besar masyarakat Sumedang pernah ditempa dalam lingkungan pendidikan pesantren,” tuturnya. (her)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.